Artikel

Menggali Sejarah Lahirnya Muhammadiyah di Pulau Sumatra dan Ketokohan A.R Sutan Mansur

Komplek Kutubchanah Bangunan Cagar Budaya Milik Haka (Haji Abdul Karim Amrullah) disertai Makam Beliau dan Yusuf Amrullah. Rumah tersebut dipenuhi kitab gundul atau manuskrip aksara jawi (arab melayu). Sebelumnya, bangunan tersebut berada di samping kiri berbentuk rumah gadang. Akibat lapuk dan tidak terawat, bangunan lama hancur. Dan terpaksa di pindahkan ke lokasi saat ini.

Oleh : Rudi Yudistira, S.S.

Kantor Cabang Muhammadiyah Pertama di Sumatra, Berubah MTsS Muhammadiyah.

Sungai Batang, Prokabar — Selintas lalu, gedung pendidikan itu terlihat remeh dengan kesederhana. Namun siapa sangka, lokasi ini cikal bakal dan pertama adanya Organisasi Islam terkemuka di pulau Sumatra, yakni Muhammadiyah.

Lokasi tersebut telah berubah menjadi Madriasyah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Muhammadiyah Sungai Batang. Tepatnya tapian Muaro Pauah, Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Tidak jauh MTsS tersebut terdapat Kutubchanah (Rumah Baca dan Menulis) milik Ayah dari Buya Hamka.

Ada tiga tokoh ulama perintis Muhammadiyah di Ranah Minang ini, yakni Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), A.R. Sutan Mansur dan Yusuf Amrullah. Ketiga tokoh inilah penyiar dan pengembang Muhammadiyah di Sumatra. Bahkan sampai ke Kalimantan dan pulau lainnya. Sementara itu, Buya Hamka sebagai anak kemenakan dari Tiga tokoh ulama terdahulunya melanjutkan dengan memperkokoh Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terkemuka di Indonesia.

Gerbang MTsS Muhammadiyah, Kantor Cabang Pertama Muhammadiyah Di Pulau Sumatra yang telah beralih fungsi. Tidak ada bekas sejarah yang menunjukan lokasi tersebut sebagai Kantor Cabang Muhammadiyah. Foto : RUD/Prokabar

Menurut catatan sejarahnya, tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatra Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam tersebut. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatra Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh Indonesia.

Melihat potret kehidupan masyarakat saat ini, sudah banyak yang melupakan sejarah tersebut. Bahkan tingkat keimanan dan ketqwaan masyarakat tidak sehebat tempo masa Syekh Tuanku Nan Tuo atau Tuanku Pariaman pernah menyiarkan Islam di sini. Kejayaan itu dilanjutkan Syekh Guguak Katur, Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai.

Gedung MTsS Muhammadiyah dengan beragam gambar Tokoh beserta visi dan misi sekolah. Foto : RUD/Prokabar

Hingga akirnya, Haka, anak kandung dari Tuanku Kisai melakukan pembaharuan islam moderat. Seperti melahirkan Muhammadiyah pertama di luar Pulau Jawa dan pertama di Pulau Sumatra. Kejayaan Islam di Nagari Sungai Batang, sebagai Pusat Penyiaran Islam Pembaharuan dan Referensi Intelektual Ulam di Ranah Minang ini mulai sirna hampir tidak membekas.

Kehidupan religius masyarakat tidak seindah masalalu yang sangat mengharumkan nama baik Ranah Minang. Bahkan terkenal hingga ke negeri Jiran Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura.

A.R Sutan Mansur Melanjutkan Perjuangan Haka

Dapat diketahui secara umum, lahirnya Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H). Namun tidak dipungkiri, berkembang pesatnya Organisasi ini berada di Pulau Sumatra, terutama di Sumatra Barat (Ranah Minang) melalui tiga tokoh ulama ternama yang masih berkaitan erat dengan Buya Hamka sendiri.

Lanjut Halaman 2 >>

Berani Komen Itu Baik

Laman: 1 2 3

Loading...
To Top