Budaya

Kenapa Atap Masjid Tua Berlenggek

Masjid Tuo Kayu Jao, Kabupaten Solok

Dibaca : 165

PROKABAR – Masjid tua, atapnya selalu bertingkat-tingkat dan jumlahnya ganjil. Pada bagian depan ada kulah pembasuh kaki.

Kenapa? Karena masjid ini dibangun di zaman madia, era ketika pengaruh berbagai kebudayaan Nusantara dan agama lain membantuk satu teknik membuat bangunan.

Masjid beratap jumlah ganjil itu, makin ke atas makin kecil dan paling atas dipasang kemuncak.

Inilah masjid atau zaman madia, yaitu zaman perkembangan Islam di Nusantara. Tidak ada menara, tidak ada atap seperti masjid sekarang.

Masjid-masjid kuno di Minangkabau selalu beratap dengan lenggek ganjil tersebut. Rumah ibadah ini lengkap dengan bedug alias tabuah.

Masjid tua itu, bangunannya terpengaruhi oleh kekuatan tradisi dan budaya setempat.

Di Minang selain diukir, atap paling atasnya ada gonjongnya, juga memakai ijuk. Tidak dipaku dan kayunya kuat kokoh.

Biasanya pondasinya dibuat tinggi dan di bagian belakang ada kolam ikan. Bangunannya jika tidak persegi pajang malah bisa bujur sangkar.

Masjid modern sekarang, kubah bulat. Ini ditiru dari Timur Tengah, kabarnya dari Maroko. Bahkan ada yang menyebut meniru Aya Sofia, Turki.

Masjid dengan gaya terbaru dan unik, ada di sini yaitu Masjid Raya Sumatera Barat.

Sekarang banyak masjid hadir dengan berbagai gaya. Ada yang bulat ada yang petak empat. Di kota-kota masjid sudah banyak pakai AC.

Selain itu ada masjid yang dibuat perorangan atau sekelompok orang. Di Padang bermunculan masjid rancak, dua di antaranya di tepi laut. (nrs)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top