Budaya

Kamal Guci, Pelukis Sufi (Retrospeksi) Berkarya Dalam Pencarian Sang Illahi

Pakandangan, Prokabar – Saat itu matahari menjerit terik, dan motor buntut berhenti di sebuah pondok kayu bertingkat. Pemandangan indah terlihat di sekelilingnya, dihiasi kolam ikan dengan air nan sangat jernih. Sedangkan Ikan Nila tampak jelas bermain didalamnya.

Seketika, ucapan salam disambut hangat seniman perupa tersebut, dan mempersilahkan kehadiran tamunya. Pondok berjenjang itu pun dijejaki langkah seseorang, yang sudah tidak asing lagi baginya.

Tidak lama, ia berhenti melukis dan duduk diposisi tikar yang sudah terbentang. Ia tersenyum menyapa kehadiran Prokabar.com yang hendak berbincang-bincang dengannya.

Namanya Kamal Guci (58), Perupa Nasional asal Dusun Sarang Gagak, Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkuang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Sosoknya sudah cukup terkenal dan disegani seniman dan sebagian petinggi negara di Pemerintahan Pusat. Meski demikian kesederhanaan dan ketenangan jiwa masih terlihat baik dalam dirinya.

Tidak lama kemudian, dua gelas kopi didatangkan oleh seorang wanita paroh baya. Dan percakapan ringan pun dimulai dari saling mengingat memori pertemuan terakhir.

“Yang paling berat dan sulit itu, mengendalikan isi dalam diri saya adalah, membunuh rasa ingin tenar dan kekayaan duniawi. Oleh sebab itu, setiap melakukan pekerjaan saya selalu mulai dengan berwuduk,”kata Kamal Guci kepada prokabar.com, Kamis (26/7).

Pada saat pameran lanjutnya, saya selalu bertemu dan berhadapan orang-orang ternama, berpangkat dan sukses materi. Mereka memuji dan mengagumi karya saya. Hal tersebut dapat menimbulkan titik kesombongan dalam diri saya. “Maka sebelum itu timbul, saya akan membunuhnya dengan tawakal dan zikir kepada-NYA. Subbhanallah, Maha Suci ALLAH,” Ungkap Kamal Guci.

Berkarya dengan menuangkan rasa karsa melalui kuas dan cat lukisan ini, menunjukan diri seseorang dalam karyanya. Karena karya seni itu akan menggambarkan diri dari pelukis itu sendiri.

“Agar karya itu memiliki nilai kebaikan dan menyatu dengan alam, maka terlebih dahulu saya akan membunuh nafsu duniawi yg berlebihan,” tuturnya.

Dahulu kala, Ulama, Syekh atau Penyiar Islam, mencari dan mendekati Tuhan Yang Maha Esa, akan berusaha mendekat dan naik ke atas mencapai Zuq (jiwa berjalan ke Illahi) melekat pada fana dan menjadi Kiramat. Jika ia mampu kembali ke bawah maka ia akan Tawaduq (kembali tahu dirinya), di saat itulah ia berhasil menyiarkan Agama Islam sebagai Pendidik dan Khalifah yang baik. Bila tidak ia akan bertahan menjadi Kiramat yang hanya untuk dirinya sendiri.

Syekh Burhanuddin berpesan dalam naskahnya, orang yang akan memimpin dimasa yang akan datang adalah umat muslimin yang mampu mencapai tingkat Tawaduq setelah melalui proses amalan atau syariat sebelumnya.

“Nur dan tanda-tanda Kebesaran Allah dan Muhammad itu ada seisi alam ini. Bila kita mampu menyatu, merasakan, memahami sampai berdialog dengan alam, saat itulah Manusia itu menjadi Khalifah terbaik dimuka Bumi ini,”terangnya.

Kamal menuangkan karyanya yang beraliran atau bergaya Mooi Indie, Ironi, Tragis membentuk Retrospeksi (sang waktu). Retrospeksi itu sendiri adalah melihat kembali peristiwa kejiwaan atau penjiwaan dalam diri sendiri, sebab apa yang terjadi bukan apa yang terjadi dalam dirinya.

Kamal Guci sudah banyak melahirkan karya lukis yang sudah dikoleksi oleh Tokoh Nasional. Seperti Azwar Anas, Fadli Zon, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Hasan Basri Durin, Zainal Bakar, Gamawan Fauzi, Karim Raslan dan sebagainya.

Kehidupan orang Minangkabau terutama laki-laki sebagai pemimpin, dahulunya terpusat di Surau. Sedangkan Rumah Gadang adalah tempat tinggal Bundo Kanduang beserta perempuan Minang.

“Segala macam makna atau nilai-nilai kehidupan beserta alam sekitarnya (masa lalu) adalah bagian yang harus dihayati sedalam-dalamnya. Sehingga roh dari sebuah karya itu akan dapat tercapai. Dengan demikian barulah seorang seniman itu akan dapat mencapai karya terbaik dengan nilai atau makna penuh Retrospeksi,” tutup Perupa Nasional tersebut. (rudi)

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top