1 Juni 2017
dr Fiera muncul ke publik dengan menggelar jumpa pers di kantor LBH Jakarta. Di depan awak media, dr Fiera mengaku diintimidasi oleh kelompok masyarakat di Kota Solok. Sejak saat itu, Fiera terkenal sebagai korban persekusi. Hampir seluruh media memburu berita tentang aksi persekusi ini. Imbasnya Solok dan Sumatera Barat dianggap tidak aman, karena membiarkan aksi persekusi.
2 Juni 2017
Berbagai kecaman muncul dari masyarakat di Sumatera Barat. Reaksi mulai bermunculan termasuk unjuk rasa di Kota Solok.
Sorenya, Kapolres Solok Kota AKBP Susmelawati Rosya dimutasi ke Polda Sumbar. Penyebabnya kata Mabes Polri karena Kapolres tidak tegas menindak pelaku persekusi di wilayahnya.
5 Juni 2017
Masyarakat Kota Solok dari berbagai unsur menggelar aksi di Kota Solok. Massa yang dipimpin oleh Ketua DPRD Solok ini, memberitahukan kepada dunia, bahwa Kota Solok aman dan damai. Selain itu masyarakat juga melaporkan dr Fiera ke Kapolres Solok Kota, karena menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.

7 Juni 2017
MUI, LKAAM, Ormas Islam, Wakil Gubernur Sumbar, Kapolda Sumbar, menggelar pertemuan di Mapolda Sumbar untuk membahas perkembangan kasus dr Fiera dan antisipasi berbagai kemungkinan. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa elemen masyarakat sepakat mengamankan Sumbar dari berbagai intimidasi dan provakasi dari pihak manapun, dan kasus Fiera akan diselesaikan melalui proses hukum.
8 Juni 2017
Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mencoba untuk menghubungi dr Fiera melalui telepon seluler. Wagub menelpon untuk memberikan saran dan arahan, apalagi Fiera berstatus sebagai pegawai Pemprov Sumbar. Namun sambungan telepon tersebut ditolak oleh dr Fiera.
(eda, diolah dari berbagai sumber)
















