Trending | News | Daerah | Covid-19

Hukum

Hendak Jual Rumah Pusako, Mamak Memejahijaukan Kemenakannya

Dibaca : 720

Pasaman, Prokabar — Seorang mamak memejahijaukan kemenakan kontannya. Mamak dikeroyok kemenakan. Kejadian memilukan ini terjadi di Lubuk Sikaping. Masalahnya harta pusaka rendah, alias materi berupa tanah dan rumah pembelian almarhum nenek dan kakek si kemenakan atau orang tua dari si mamak.

Pidana umum pengeroyokan ini dilakukan Rezi (31), Arief (29), Putra (26) dan Indra (24) terhadap mamak mereka Asnil Sy (47) dan disidang di Pengadilan Negeri Lubuk Sikaping, Kamis (9/7).

Berbelok-belok proses persidangan dengan agenda pemeriksaan empat orang saksi termasuk Asnil dan pemeriksaan para terdakwa. Pasalnya, Asnil tak mengaku, apa pemicu dirinya dikeroyok para kemenakan.

“Tidak ada masalah buk, saya memperbaiki rumah tua keluarga kami, lalu tiba kemenakan saya ini. Merobek spanduk menendang pagar lalu memukul saya di bagian kepala, ada juga yang menendang. Kepala saya sempat terluka, mungkin karena seng, sebab saya terdorong ke seng saat pengeroyokan itu,” kata Asnil menjawab pertanyaan majelis hakim yang dipimpin Cut Carnelia beranggotakan hakim Abdul Hasan dan Whisnu Suryadi.

Majelis hakim tidak percaya begitu saja, namun Asnil tetap bersikukuh tak ada masalah sebelum pengeroyokan itu. “Tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Tapi ya sudahlah, itu keterangan anda. Anda sudah disumpah, nanti kita juga akan perika saksi lain dan para terdakwa,” kata hakim Whisnu.

Setelah pemeriksaan saksi korban Asnil dan tiga orang saksi, Marlis, Emi dan Gunawan yang menyaksikan pengeroyokan itu, para terdakwa diperiksa. Terungkap, ternyata Asnil hendak menjual rumah peninggalan nenek mereka itu.

Sebelum penyebab pengeroyokan ini terungkap, Asnil mengaku, rumah yang jadi objek pertengkaran ini, sudah lama kosong. Sekitar enam tahun. Asnil tinggal di rumahnya sendiri, begitu juga Emi (saksi) dan Zuriati (ibu para terdakwa).

Awalnya Asnil mengaku hendak memperbaiki rumah tersebut dan memagarnya dengan seng. Lalu salah satu dari terdakwa, mencoret-coret pagar seng dengan kalimat ‘selesaikan masalah rumah pusako ini mak asnil’. Asnil menutupnya dengan spanduk bekas.

Usai dicoret, lalu pada 22 Maret, Asnil sedang di rumah tersebut untuk memperbaiki pintu. Tiba-tiba datang para terdakwa.

“Pas tiba itu, saya videokan buk, belum sempat divideokan, saya keburu dipukul. Berkali-kali, oleh mereka berempat. Sampai-sampai kepala saya robek dan dijait lantaran terkena seng saat saya tersandar ke pagar ketika dikeroyok,” kata Asnil.

Saat dikeroyok, datang saksi Emi, kakak Asnil paling besar. Ia berusaha merekam perkelahian itu, namun gagal karena hape yang digunakan untuk merekam diambil salah satu terdakwa.“Saya cuman menyaksikan, Asnil dikeroyok pak hakim,” kata Emi.

Hal yang sama juga diakui saksi lainnya, Marlis dan Gunawan alias Saleh.
Ironisnya, saat para terdakwa diperiksa, terungkap, Asnil yang dulu menyerang salah satu terdakwa.

Kedatangan mereka ke tempat Asnil, lantaran rumah itu hendak dijual. Serta untuk mngklarifikasi salah satu terdakwa hampir dilempar batu oleh Emi lantaran mempertanyakan kenapa rumah itu dijual.

“Kami memang melakukan pengeroyokan itu buk. Kami akui kami salah, namun apa yang diterangkan Mak Asnil tidak sepenuhnya. Kami dipancing untuk pertengkaran ini,” kata Rezi.

Diakui Rezi, perselisihan ini terjadi saat Asnil melarang penggarapan sawah di sawah milik ibu mereka Zuriati. Masalah ini diredam dan pancang dengan embel-embel tulisan dilarang menggarap sawah ini, dikembalikan para terdakwa ke Asnil.

“Kalau masalah sawak ini buk, sebelum pertengkaran ini. Emosi kami itu buk, rumah ini mau dijual dan adek saya ditampar duluam. Itu yang tidak kami terima, ada bukti tulisannya kalau rumah itu hendak dijualnya. Pas kami datangi, Mak Asnil duluan mencekik adek saya dan menampar adek saya yang lain, makanya emosi kami tersulut dan mengeroyok Mak Asnil,” kata Rezi.

Di sisi lain, selain menyidang kasus tersebut, Ketua Majelis Hakim Cut juga mendamaikan para pihak. Para terdakwa akhirnya meminta maaf kepada korban.

“Kami tekankan, masalah mamak lapor kemenakan, sudah banyak kami tangani. Kini, kemenakan jadi terdakwa, bila diperpanjang, tidak tertutup kemungkinan, besok-besok, mamak yang jadi terdakwa. Berganti kursi. Jadi masalah ini bisa diselesaikan secara baik-baik. Saya minta, sudahi permasalahan sampai di sini,” pungkas Hakim Cut.

Usai pemeriksaan korban, saksi dan para terdakwa, sidang diundur hingga 13 Juli mendatang dengan agenda tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). (Ola)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top