Nasional

Habibie tak Tergantikan: Dari Nama Anak Sampai Nama Masjid


Habibie tak Tergantikan…

Foto : BJ Habibie /net

Habibie, Bapak Bangsa itu telah pergi. Tak ada lagi si mata bundar. Tak ada lagi, geleng-geleng kecil itu. Inilah tokoh setelah kemerdekaan, yang hadir di Indonesia, yang paling mengejutkan.

Namanya ada di angkasa di akta kelahiran anak, di masjid.
Semua tahu sejarahnya.

Pengagas Batam penanding Singapura, pembuat pesawat terbang. Pendiri ICMI. Kesayangan Soeharto dan meruntuhkan tembok Menpen. Muncullah Republika.

Habibie, yang dihormati di Jerman. Ia punya film yang laris, Ainun Habibie.
Datang dari Sulawesi, disapa dengan riang oleh anak-anak di seluruh negeri.

“Apa cita-citamu?”
“Ingin seperti Pak Habibie.” Di tiap sekolah dasar, ada tanya semacam itu dan ada jawaban seperti itu.

Anak bangsa ini, ingin seperti Habibie. Sampai ia pergi, masih saja belum terganti. Pria berkupiah agak miring ini, isi kepalanya luar biasa. Seluar biasa bangsanya sendiri.

Habibie, mantan presiden kita, pemberi kebebasan pers. Pembebas banyak hal. Pembuka mata bangsa.
Habibie pergi di tengah bangsa yang sedang gagap. Pesawat bukan, mobil pun bukan, tapi butuh pesawat apalagi mobil. Negeri yang guncang oleh suara, bukan oleh penemuan-penemuan.

Habibie pergi senja kala, bengkalainya belum sudah, penggantinya belum ada.

Foto : BJ Habibie/net

Habibie Pembuat Sejarah

Bacalah sejarahnya dimana saja, di buku ada, di google ada. Tutuplah wajahnya, cogokkan saja matanya, anak sekolah bisa menebaknya.
“Habibie,” teriak mereka.

Namanya akrab, tak rumit dibaca, islami adanya.

Banyak yg bertanya, apa yang dimakan Pak Habibie kala kecil? Banyak yg penasaran bagaimana orang tuanya mendidik Habibie.

Lalu Ainun, wanita selembut selimut bayi itu, hadir di sisi Habibie. Berdua membangun rumah tangga. Anaknya cerdas pula. Galinggaman orang melihatnya.

Dan Habibie si pejalan cepat itu, tinggal sendiri, sebab sang istri, Ainun telah pergi.

Sejak itu Habibie mulai sepi. Rasa sepi itulah yang sesungguhnya beban berat pria ini. Ia bolak balik Indonesia – Jerman. Ia bicara dengan banyak orang, dihargai oleh presiden dan dicintai oleh generasi.

Habibie tak membuat sepeda motor, ia membuat sejarah. Kita yang pakai motor malah jadi sejarah.

Bagi Batam pulau rantau urang awak itu, Habibie adalah bapak yang hebat. Jutaan orang bekerja di sana, tapi kini Batam nyaris merana, oleh pemerintah. Pemerintah kita juga.

Habibie membuka mata setidaknya untuk ICMI cendikiawan bangsa, yang kini terasa berat oleh pengelolanya, sebab tak ada yang seperkasa si Bapak Bangsa.

Maka ini malam, Indonesia berduka. Duka bangsa. Habibie tak perlu dibuatkan sejarah, sebab almarhumlah yang membuat sejarah.

“Nak, apa cita-citamu?”
“Saya ingin seperti Habibie Bu!”
Tanya dan jawab semacam ini akan selamanya ada di bangku sekolah kita. (Nofal wiska)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top