Prokabar.com – Public Relation Eiger gagal dalam memaknai brand dalam kasus Youtuber Dian Widiyanarko atau @duniadian.
Kasus bermula dari postingan Dian Widiyanarko yang mereview Kacamata Eiger Kerato.
Pada review tersebut Eiger merasa keberatan hingga kemudian melayangkan surat pada Dian Wdiyanarko.
Ada tiga hal keberatan Eiger pada review kacamatan Kerato oleh Dian Widiyanarko.
Pertama, kualitas video review produk oleh Dian kurang bagus dari segi pengambilan gambar. Sehingga Eiger merasa produknya terlihat berbeda dari segi warna, bahan dan detial aksesoris kurang jelas.
Kedua, ada suara di luar video utama yang mengganggu atau noise sehingga informasi tentang Kacamata tersebut tidak jelas bagi konsumen.
Ketiga, setting lokasi kurang propper bagi pengambilan gambar video.
Dian yang menggubris surat keberatan Eiger melalui postingan di Instagramnya sehingga banyak yang geram sikap produsen alat outdoor tersebut.
Baca Juga:
Infografis: Daftar Juara Liga Champions: Chelsea Kini Koleksi Dua Trofi
Cabang MTQ dan MHQ putri Sumbang Medali Untuk IAIN Batusangkar
Oman Masih Terlalu Kuat, Timnas Indonesia Kalah Lagi
Pada akun Instagramnya, Dian merasa kaget dengan ketiga poin dalam surat keberatan Eiger.
“Saya kan review produk gak anda endorse, saya youtuber kaki lima belum bintang lima yang alatnya cinematik.”
“Malah seharusnya anda berterima kasih dapat promosi gratis ke 37 ribu subscribers. Wong videonya tonenya positif,” tulis Dian dalam postingan Instagramnya.
Unggahan Dian di akun Instagramnya semakin ramai dan membuat geram warganet hingga tranding topic di Twitter.
Eiger yang menyadari surat keberatannya viral dan menjadi perbincangan negatif kemudian melayangkan permintaan maaf pada Dian dan warganet.
Pada kasus ini, Public Relation Eiger gagal dalam memaknai posisi brand produknya.
Kalau Eiger menciptakan produk untuk semua kalangan bukan hanya kalangan tertentu, maka tidak wajar perusahaan outdoor tersebut melayangkan surat keberatan.
Kecuali, Eiger hanya memproduksi produk untuk kalangan tertentu saja, maka wajar Public Relation PT Eigerindo Multi Produk Industri tersebut merasa keberatan dengan review video dian.
Apa itu Brand?
Oxford Dictionaries mendefenisikan brand sebagai is a typ of product manufactured by a particular under a particular nam.
Artinya, brand merupakan tipe produk yang diproduksi oleh perusahaan di bawah sebuah nama.
American Marketing Association mendefenisikan brand sebagai pengalaman konsumen secara keseluruhan yang membedakan suatu organisasi atau produk dari pesaingnya.
Defenisi jelas mengartikan sikap Eiger dalam melayangkan surat keberatan pada review Youtuber Dian sangat salah.
Surat keberatan tersebut malah memperburuk brand Eiger yang seharusnya menjadi pakaian banyak orang.
Surat Keberatan Eiger
Pada surat keberatan Eiger ada tandatangan Rony Lukito yang menjadab sebagai Chief Execultive Officer.
Bubuhan tandatangan ini memberi arti bahwa Eiger adalah milik publik.
Sayangnya, adanya surat keberatan dengan bubuhan tandatangan Rony Lukito menciptakan citra buruk pada perusahaan.
Baca Juga Milenialisme.com
Efektivitas Internet sebagai Alat Promosi di Masa Pandemi
Cyber PR Fungsi Ganda Perusahaan di Tengah Pandemi
Media Sosial dan Website Corong Informasi Cyber PR
Paling krusial adalah pandangan publik tentang karyawan Eiger sampai pada divisi Public Relation tidak mengerti tentang brand.
Posisinya begini, Rony Lukito dengan tandatangannya pada surat keberatan mengartikan karyawan tidak paham dengan brand purpose, core value, visi dan misi perusahaan.
Mirisnya yang mengawali kasus ini adalah divisi Human Capital yang memiliki tugas memberikan pemahaman pada setiap karyawan tentang Eiger.
Era Media Sosial Peluang dan Kehancuran Perusahaan.
Media Sosial sudah sangat tidak asing bagi publik yang sering berselancar di dunia maya.
Harusnya ketidakasingan ini mejadi pelajaran penting bagi perusahaan ternama.
Pertama, media sosial bisa menciptakan brand dan citra baik bagi perusahaan tentang produk yang akan digunakan publik.
Kedua, kehancuran bagi perusahaan saat perusahaan gagal mengayomi publik apalagi salah dalam bersikap atau mengambil keputusan seperti kasus Eiger dan Youtuber Dian.
Harusnya perusahaan menjadi lebih manusiawi di Media Sosial agar mampu memhami nilai dan alasan review dari setiap konsumen.
Kemudian, Public Relation bersama divisi lain hingga CEO menciptakan strategi baru agar pemahaman produk yang buruk tak terulang kembali.
Bagaimana dengan Permintaan Maaf Eiger?
Sikap ini sudah benar untuk menyelesaikan permasalahan secara cepat dan akurat dan manusiawi.
Eiger dengan permintaan maaf membuat publik sadar permasalahan ini hanya missinterpretasi tentang brand atau kasus ini hanya berawal dari oknum yang tidak mengerti tentang produk.
Sebenarnya PT Eigerindo bisa saja menempuh jalur hukum atas review Dian dengan dugaan merugikan perusahaan.
Tapi, jika jalur ini ditempuh, maka publik akan semakin geram dan Eiger akan merugi.
Di mata publik, perusahaan adalah Golitah dan konsumen adalah David. Publik tak akan peduli siapa yang benar dan salah di mata hukum. Mereka akan membela siapa yang lebih lemah dan meminta maaf adalah jalan terang bagi PT Eigerindo.
Meski permintaan maaf tak akan menghapus pandangan buruk publik, namun PT Eigerindo tetap sudah berjuang untuk mempertahankan posisi sebagai perusahaan outdoor yang layak digunakan semua kalangan.
Masyarakat semakin pesimistis menggunakan produk bukan karena alasan kualitas, tapi perusahaan tersebut tidak manusiawi.
Satu-satunya yang bisa memperbaiki keadaan ini adalah permintaan maaf dengan bubuhan tandatangan Rony Lukito.
Di sini publik bisa mendefenisikan bahwa perusak brand perusahaan tersebut hanyalah oknum yang tidak mengerti tentang produk.
















