Oleh Rizal Marajo
(Wartawan Utama, LPDS Jakarta 2012)
Sebagai anak nagari Paninjauan yang bergelut di dunia jurnalistik, dalam setiap menulis artikel atau berita tentang Paninjauan saya selalu menyelipkan kalimat “Sepenggal tanah surga yang diturunkan Allah SWT ke bumi”.
Mungkin agak berlebihan, tetapi itulah bentuk rasa syukur dan bangga saya yang paling sederhana, karena dilahirkan dan dibesarkan di sebuah tempat yang saya anggap sebuah anugerah yang tak terkira.
Apa yang kurang dari Paninjauan. Nagari yang indah, topografinya rancak, tanahnya subur, SDA cukup melimpah, letak yang strategis, masyarakatnya agamis, kuat memegang adat istiadat, dan disini juga lahir manusia-manusia hebat dan kompeten di bidangnya.
Fabi’ayyi âlâ’i rabbikumâ tukadzdzibân, yang ditafsirkan “Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan’ (Surah Ar-Rahman). Ayat itu diulang ulang sebanyak 31 kali dalam surah tersebut. Itulah cara Allah SWT mengingatkan kita.
Terkadang, saya mencintai dan manyayangi nagari ini dalam diam, hanya bisa mengungkapkan lewat tulisan. Dalam konteks sebagai warga, saya mungkin hanya ada dalam kategori “rakyat badarai”. Bukan level pemuka apalagi disebut tokoh masyarakat. Bukan pula petinggi atau orang berpengaruh yang layak diajak dalam setiap pengambilan keputusan di nagari.
Tidak, itu terlalu terlalu tinggi untuk saya. Menjadi seorang pengurus masjid dan bisa menjalankan amanah jamaah sebaik dan seikhlas mungkin, sepertinya itu sudah lebih dari cukup. Selebihnya biarlah Allah SWT yang menghitungnya.
Ketika Nagari indah ini berpolemik tentang sebuah isu krusial yang menyangkut masa depan nagari, disaat itulah tuntutan untuk bersikap harus dihadirkan. Diam, cari aman, tak mau tahu, peduli amat, atau EGP adalah sebuah sikap.
Pun sebaliknya, pro aktif, lantang bersuara, atau membantu sesuai keahlian dan bidangnya juga merupakan sebuah sikap. Tinggal menentukan dimana kaki hendak berdiri.
Ketika sekelompok warga atau anak nagari ingin menghadirkan sebuah perubahan, ditengah kompleksitas permasalahan di nagari ini, seharusnya tak ada alasan untuk tetap berada di zona aman. Sepanjang ikhtiar perubahan yang didengungkan itu bertujuan baik untuk nagari, jelas, dan sesuai aturan, tentu sudah selayaknya didukung.
Apalagi kalau angin perubahan dihembuskan untuk sebuah cita-cita menggapai masa depan nagari yang lebih baik. Kalau dalam konsep ini, saya tak akan segan-segan mengatakan, I’m In!
Sebaliknya jika angin perubahan itu dihembuskan dengan cara yang tidak elegan, ada kepentingan tersembunyi, mengabaikan adab dan sopan santun, bahkan justru akan memancing konflik atau perpecahan ditengah masyarakat, tentunya tidak perlu ditanggapi, apalagi didukung.
Ada apa di Paninjauan? Realitanya hari ini, Sepenggal Tanah Surga yang subur dan indah ini, kalau dilihat dalam rentang dua dekade terakhir memang cenderung bergerak lambat ke arah kemajuan, kalau terlalu tajam untuk disebut stagnant.
Jika dicari kaca perbandingan dengan nagari sekitar, Paninjauan yang dulu pernah jadi barometer kemajuan sebuah nagari atau desa, kini justru mulai tercecer, khususnya dalam hal infrastruktur, sarana dan prasarana, dan fasilitas umum yang memadai.
Mungkin ada yang salah dalam tata kelola nagari selama ini? Bisa jadi, ketika tuntutan zaman tak bisa dielakkan. Sebuah Nagari atau Desa sebagai jenjang pemerintahan terendah, juga harus siap mengikuti zaman. Perlu inovasi, kreatifitas, dan kelincahan mencari celah potensi nagari yang bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai untuk kemajuan nagari dan masyarakatnya.
Mungkin selama ini hanya atau terlalu mengandalkan subsidi dan sejenisnya dari atas, sehingga pengelolaan potensi nagari jadi agak terabaikan dan kurang tersentuh. Atau jangan-jangan sudah puas denggan situasi yang ada, karena merasa sudah maju dan unggul segalanya atas nagari lain. Wallahu alam bisawab.
Wind of change, sekarang mari tatap masa depan, sebuah cita-cita kemajuan dan angin perubahan sudah mulai dihembuskan oleh anak nagari yang rindu perubahan. Tapi untuk memulai sebuah masa depan, idealnya harus dimulai dari sebuah situasi dan kondisi yang baik, clear dan clean. Artinya berangkat dari sebuah monument titik nol yang dibangun tidak diatas puing-puing permasalahan yang belum selesai.
Permintaan mereka sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk, karena mereka hanya ingin didengarkan. Mereka ingin sebuah keterbukaaan mendapatkan informasi sebagai wujud kepedulian kepada nagari. Dibalik itu mereka ingin menyumbangkan sesuatu untuk kemajuan nagari, entah itu ide, pikiran, kreatifitas, dan juga kepedulian.
Sayangnya, itu tak mereka dapatkan sepenuhnya karena terbentur tembok pemerintahan nagari yang dalam dua dekade terakhir cenderung terasa tebal dan sulit untuk disentuh. Seolah-olah nagari ini hanya menjadi milik dan dikendalikan segelintir orang yang itu-itu saja. Cenderung sulit menerima dan merasa terusik ketika ada orang baru ingin menyodorkan sebuah ide perubahan.
Pada titik ini, perjanjian kerjasama antara PDAM Padang Panjang dengan Pemerintah Nagari Paninjauan yang sudah berjalan selama hampir 20 tahun hanyalah sebuah pintu masuk atau puncak gunung es yang dikedepankan anak nagari dalam angin perubahan ini.
Mereka hanya minta sebuah transparansi informasi sepanjang perjalanan kerjasama itu, tanpa bermaksud menjudge atau mencari kesalahan-kesalahan personal-personal tertentu.
Sekarang di era keterbukaan informasi publik yang dilindungi oleh Undang-undang, seharusnya tak ada yang perlu ditutup-tutupi, apalagi alergi terhadap warga yang hanya meminta haknya atas sebuah informasi.
Kalau memang ada kesalahan dan kelalaian yang berimbas kerugian bagi nagari dibalik perjanjian itu, ke depannya bisa jadi acuan untuk memperbaiki bersama-sama. Sehingga dalam kerjasama yang akan diperbaharui tahun depan bisa memberikan keuntungan yang lebih proporsional untuk nagari.
Sebaliknya, kalau perjanjian itu berjalan sesuai relnya, tanpa adanya penyimpangan-penyimpangan tentunya ini akan diapresiasi setinggi-tingginya. Sesederhana itu sebenarnya, tanpa perlu berpolemik yang justru makin hari makin melebar dan mengkhawatirkan.
Akhirnya, dalam diam dan keheningan malam, saya melahirkan tulisan ini. Dalam hati terdalam saya bermunajat, Semoga Allah SWT memberikan segala kemudahan dan petunjuk-NYA, sehingga polemik ini tak berlarut-larut.
Saya membayangkan, ke depan Pemerintah Nagari dan seluruh elemen masyarakat Paninjauan bergandengan tangan, bahu membahu untuk menjemput kemajuan, bersama-sama mengejar ketertinggalan dari nagari lain.
Sehingga akan tercipta sebuah cara hidup bernagari yang lebih bermartabat, dan bangga menjadi anak nagari Paninjauan, Sepenggal Tanah Surga yang diturunkan Tuhan ke Bumi.(*)
















