Padang, Prokabar – Edriana memutuskan maju menjadi Calon Legislatif (Caleg) dari Partai Gerindra untuk DPR RI setelah 30 tahun menjadi aktifis perempuan.
“Menjadi aktifis membuat saya merasa sudah punya modal untuk berjuang,” ujarnya dalam acara temu ramah dengan media di Suaso, Senin, 24 September 2018.
Ia mengatakan keputusan menjadi Caleg sudah dipertimbangkan dengan matang. Pertimbangannya paling besar adalah ingin memperjuangkan kesejahteraan untuk perempuan.
Perempuan, sebutnya, memiliki keterbatasan untuk akses terhadap ekonomi. Hal tersebut pernah dirasakan mahasiswi program doktoral Universitas Indonesia saat mengerjakan salah satu projek di Solok Selatan.
Di Solsel, wanita kelahiran Tanah Datar ini membuat program pembuatan olahan cokelat dan buah pala. Ia mengajari kaum perempuan mengolah pala dan cokelat menjadi nilai guna.
Dua tahun kemudian, Edriana yang maju dari Dapil 1 ini datang lagi kesana. Hasilnya, tak banyak yang berhasil. Mereka mengeluhkan tak punya modal untuk mengembangkan.
“Saya merasa pemerintah perlu masuk untuk hal-hal seperti ini,” ujarnya. Bagi Edriana, persoalan-persoalan seperti ini yang membuatnya ingin maju menjadi Caleg. Sebab, bila sudah menjadi anggota legislatif, ia memiliki kewenangan untuk membantu keterbukaan akses ekonomi perempuan. Hal tersebut yang kurang didapatkannya saat menjadi aktifis.
Tak banyak perempuan–khususnya Sumbar–yang bisa duduk di senayan. Pileg lalu, tercatat hanya dua nama yang duduk di senayan yaitu Betti Passadiqoe (DPR RI) dan Emma Yohanna (DPD RI).
“Ini tantangannya. Bagaimana bundo kanduang Minang tak putus berada di senayan,” ujarnya.
Persoalan tersebut, bagi Edriana, merupakan persoalan serius. Sebab, sistem sekarang tak terlalu menguntungkan untuk perempuan. Salah satu contohnya jarang sekali perempuan berada di posis nomor urut 1.(rls)
















