Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Dr Terawan dan Korban Covid-19, Riwayatmu Kini


Catatan Ilham Bintang

Dibaca : 243

Sukar melupakan pernyatan Menkes Terawan di awal-awal covid merebak di Tanah Air. Ingat, ketika Presiden RI mengumumkan pasien covid #1 dan #2, waktu itu Terawan baru saja bicara seperti ini. “Tidak diobatin pun ( yang tertular virus ) akan sembuh sendiri”.

Apa yang terjadi? Pasien 1 &2 lebih tiga minggu jalani pengobatan di RS. Sebagai dokter, Terawan pasti tahu persis, flu seringan apapun mesti diobati. Minimal dokter akan minta pasien selain minum obat juga harus istirahat di rumah ( supaya tidak menularkan flunya ke orang lain)
Terawan juga tahu pasti persis, warga kita yang dievakusi dari Wuhan pun perlu karantina selama dua minggu di pulau. Di sana juga dikasih obat-obatan dan vitamin. Begitu juga dengan ABK yang dievakuasi dari kapal pesiar : dua minggu lamanya jalani karantina di Pulau Seribu. Dua peristiwa itu cukup menjelaskan betapa berbahanya virus covid19. Beruntung dengan isolasi, semua selamat. Pelajaran berharga dari dua kamp karantina itu: kita bisa selamat dengan protokol kesehatan sederhana, ya itu tadi : mengisolasi diri.

Diborgol

Pada awalnya, ketika nitizen heboh, diikuti media mainstream, saya meragukan Terawan bicara begitu. Saya coba riset beberapa media terpercaya, termasuk memutar kembali video yang memuat pernyataan Terawan secara langsung. Audio visual kecil kemungkinannya bisa dplintir. Hasil penelusuran : terbukti Terawan memang bicara begitu. Seminggu lalu viral lagi pernyataan lama Terawan soal masker. Yang beredar, video klip pernyataannya di Kompas TV. Ia mengatakan, masker hanya dipakai orang yang sakit. Supaya tidak menularkan penyakitnya pada lain orang. Yang tidak merasa sakit tidak perlu pakai masker. Dari data BPS masker paling banyak dipakai warga sekarang : 92 % warga Indonesia menggunakan masker. Memang itulah sebaik-baik “ obat” untuk sementara ini. Sebelum vaksin dan obat-obatan lainnya diizinkan beredar.

Sejak tiga bulan terakhir petugas merazia warga yang tidak memakai masker. Ada yang dapat sanksi “push up”, menyapu, sampai denda uang. Di Singapura lebih ketat lagi. Ada video beredar yang memperlihatkan warga yang tidak bermasker marah ditegur langsung diringkus dan diborgol tangannya oleh petugas.Masker saja pun sampai dirinci jenisnya : mana yang efektif mana yang tidak.

Beberapa hari ini saya berdiskusi dengan beberapa teman yang terpapar covid 19. Ada teman, tetangga. Seisi rumah terpapar covid. Dimulai oleh orang tua mereka, menyusul kemudian kawan itu dan isterinya, lalu anaknya. Semua dirawat di RS. Kawan inilah dulu sempat diberitakan media karena diharuskan membayar Rp. 700 juta biaya dua minggu pertama perawatan di RS. Padahal, pemerintah menjamin biaya pasien covid dipikul negara. Kini, kawan itu sudah sembuh setelah lebih sebulan di RS. Kecuali orang tuanya, yang wafat setelah dirawat dua minggu. Yang saya mau ungkap, orang tua mereka tidak pernah keluar rumah. Tidak ada yang sakit di rumah itu sebelumnya. Hasil penelusuran, penularan muncul dari kunjungan anak cucunya yang datang menengok sang orang tua. Kesimpulan sementara, ada di antara keluarganya yang carrier tak sadar membawa virus ke orang tuanya. Tidak ada gejala sakit sama sekali. Sampai di sini, penulis ingat lagi pernyataan Terawan soal masker dan orang sakit.

Dua minggu terakhir saya terlibat percakapan dengan beberapa sahabat yang saat ini menjadi pasien covid. Kisah ini mendukung pula kisah tetangga di atas. Seperti yang dialami pasangan Raja Sinetron Raam Punjabi dan Raakhee, isterinya. Saya sangat mengenal keluarga ini sangat perduli pada kesehatan, kontrol teratur karena ia memang pekerja keras. Gaya hidupnya higienis. Rumah, kantor, dan rumahnya resik. Menerima tamu sangat selektif. Toh terpapar juga. Kabarnya, tertular dari pembantu di rumah. Minggu (18/10) pagi tadi Raakhee mengirim salam, minta didoakan, sambil menginformasikan kondisinya hari ini. Mereka sudah 17 hari dirawat di RS. Rencananya, hari ini lepas infus. Tapi mereka tetap masih akan dirawat di kamar pasien covid entah sampai kapan. Betapa panjang urusan jika seseorang positif covid19. Semalam, saya berbicara via WA dengan wartawati senior Dian Islamiati Fatwa. Sudah memasuki hari ketiga dirawat RS karena positif covid. Beruntung Dian masih bisa menulis menuangkan kisahnya secara runut. Dari pengalamannya sejak diswab, divonis positif covid, dijemput ambulance dari rumah, hingga apa yang dia rasakan dalam masa perawatan.

Tahu sumber yang menulari Anda?

“ Nggak tahu lah Bang, kita kan bisa saja berinteraksi dengan teman yang mungkin OTG,”, katanya. Virus covid, seperti julukan Dian dalam tulisannya di laman FB adalah “ invisible enemy” ( musuh yang tak terlihat).


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top