Kenapa Atap Masjid Tua Berlenggek

Penulis -

Selasa, 13 April 2021 - 00:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masjid Tuo Kayu Jao, Kabupaten Solok

Masjid Tuo Kayu Jao, Kabupaten Solok

PROKABAR – Masjid tua, atapnya selalu bertingkat-tingkat dan jumlahnya ganjil. Pada bagian depan ada kulah pembasuh kaki.

Kenapa? Karena masjid ini dibangun di zaman madia, era ketika pengaruh berbagai kebudayaan Nusantara dan agama lain membantuk satu teknik membuat bangunan.

Masjid beratap jumlah ganjil itu, makin ke atas makin kecil dan paling atas dipasang kemuncak.

Inilah masjid atau zaman madia, yaitu zaman perkembangan Islam di Nusantara. Tidak ada menara, tidak ada atap seperti masjid sekarang.

Masjid-masjid kuno di Minangkabau selalu beratap dengan lenggek ganjil tersebut. Rumah ibadah ini lengkap dengan bedug alias tabuah.

Masjid tua itu, bangunannya terpengaruhi oleh kekuatan tradisi dan budaya setempat.

Di Minang selain diukir, atap paling atasnya ada gonjongnya, juga memakai ijuk. Tidak dipaku dan kayunya kuat kokoh.

Biasanya pondasinya dibuat tinggi dan di bagian belakang ada kolam ikan. Bangunannya jika tidak persegi pajang malah bisa bujur sangkar.

Masjid modern sekarang, kubah bulat. Ini ditiru dari Timur Tengah, kabarnya dari Maroko. Bahkan ada yang menyebut meniru Aya Sofia, Turki.

Masjid dengan gaya terbaru dan unik, ada di sini yaitu Masjid Raya Sumatera Barat.

Sekarang banyak masjid hadir dengan berbagai gaya. Ada yang bulat ada yang petak empat. Di kota-kota masjid sudah banyak pakai AC.

Selain itu ada masjid yang dibuat perorangan atau sekelompok orang. Di Padang bermunculan masjid rancak, dua di antaranya di tepi laut. (nrs)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jejak Konflik Adat Nagari Panampuang yang Melibatkan Nama Bupati Agam Benni Warlis
Resensi Buku : Ortologi Ecoprint Minangkabau: Menemukan Kembali Warna dan Motif Mode dari Akar Budaya 
Malewakan Gala Adat Datuak Bagindo Nan Kuniang, Dr. Rahyussalim Harap Jadi Jembatan Budaya Minang-Internasional
Malewakan Gala Sako Dr. dr. Rahyussalim Dt. Bagindo Nan Kuniang, Sejumlah Menteri Hingga Perwira Tinggi Bakal Hadir
Festival Sipak Rago 2025 Tarik Ribuan Warga di Sungai Bangek
Festival Nan Jombang Tgl3 Hadirkan Takbiran Meriah dari PUSAKOSAKTI MINANGKABAU
Geger Sepehi 1812: Kementerian HAM Dukung Penuh Repatriat Equity Claiming Aset Sri Sultan HB II
Ukir Sejarah, Tridaya Festival Libatkan Seluruh Pemuda Desa Borobudur Ciptakan Kerukunan

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Jejak Konflik Adat Nagari Panampuang yang Melibatkan Nama Bupati Agam Benni Warlis

Senin, 6 Juli 2026 - 11:48 WIB

Resensi Buku : Ortologi Ecoprint Minangkabau: Menemukan Kembali Warna dan Motif Mode dari Akar Budaya 

Minggu, 23 November 2025 - 05:32 WIB

Malewakan Gala Adat Datuak Bagindo Nan Kuniang, Dr. Rahyussalim Harap Jadi Jembatan Budaya Minang-Internasional

Jumat, 21 November 2025 - 07:34 WIB

Malewakan Gala Sako Dr. dr. Rahyussalim Dt. Bagindo Nan Kuniang, Sejumlah Menteri Hingga Perwira Tinggi Bakal Hadir

Sabtu, 12 Juli 2025 - 08:54 WIB

Festival Sipak Rago 2025 Tarik Ribuan Warga di Sungai Bangek

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB