Batusangkar, Prokabar – Maimbau atau mengundang Urang Siak ke rumah untuk berbuka puasa, merupakan tradisi pada kaum Tarbiyah di Ranah Minang. Pernah tahu?
Urang Siak yaitu orang alim atau ustad. Biasanya diimbau berbuka puasa bersama. Ia akan datang dengan anak didiknya untuk membaca salawat Nabi dengan cara didendangkan seperti membaca nazam.
Tradisi ini ada di Luhak Nan Tigo yaitu bagi golongan Tarbiyah. Juga golongan lain. Meski begitu, sekarang sudah makin berkurang, namun tetap lestari di beberapa nagari.
Urang Siak
Urang Siak merupakan sebutan sejak berabad-abad lalu di sini. Pada mulanya syiar Islam di Minangkabau semakin semarak dengan datangnya mubaligh-mubaligh dari Siak Indragiri, Riau ke Minangkabau. Sejak itu, mereka yang alim disebut Urang Siak.
Pakiah
Selain Urang Siak ada juga Pakiah. Yang disebut terakhir, anak-anal pesantren Tarbiyah. Pada hari-hari tertentu mereka “dilepas” ke tengah-tengah masyarakat berjalan kaki. Remaja itu sedang praktik lapangan mengembangkan ajaran Islam.
Di desa-desa mereka diundang naik ke rumah.
“Yuang naiklah Nak,” kata mandeh-mandeh Minangkabau.
Pakiah yang membawa buntil warna putih, kupiah, berkain sarung itu pun naik.
Tuan rumah akan meminta doa agar guru-guru, orang tua, kakek-nenek, alim ulama, didoakan.
Menjelang atau sehabis berdoa, dihidangkan makan.
Tatkala Pakiah akan pergi, mandeh-mandeh Minangkabau akan bergegas ke dapur. Ia akan ambil “bareh saganggam,” yang disisihkan segenggam setiap akan memasak. Beras itu dimasukkan ke tabung. Sudah diniatkan untuk Pakiah dan Urang Siak.
Kini saatnya beras itu diberikan dan sedikit uang.
“Sudah kelas berapa Nak?”
“Kelas lima Biyai,” jawab si anak.
“Sudah belajar Nahu, Syaraf?”
“Sudah.”
“Rajin-rajin sekolah ya, jaga agama kita.”
Peristiwa itu terjadi hampir di tiap rumah.
Lalu kini? ( eym/nrs )
















