Menggali Sejarah Lahirnya Muhammadiyah di Pulau Sumatra dan Ketokohan A.R Sutan Mansur

Penulis -

Minggu, 12 Mei 2019 - 13:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Rudi Yudistira, S.S.

Kantor Cabang Muhammadiyah Pertama di Sumatra, Berubah MTsS Muhammadiyah.

Sungai Batang, Prokabar — Selintas lalu, gedung pendidikan itu terlihat remeh dengan kesederhana. Namun siapa sangka, lokasi ini cikal bakal dan pertama adanya Organisasi Islam terkemuka di pulau Sumatra, yakni Muhammadiyah.

Lokasi tersebut telah berubah menjadi Madriasyah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Muhammadiyah Sungai Batang. Tepatnya tapian Muaro Pauah, Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Tidak jauh MTsS tersebut terdapat Kutubchanah (Rumah Baca dan Menulis) milik Ayah dari Buya Hamka.

Ada tiga tokoh ulama perintis Muhammadiyah di Ranah Minang ini, yakni Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), A.R. Sutan Mansur dan Yusuf Amrullah. Ketiga tokoh inilah penyiar dan pengembang Muhammadiyah di Sumatra. Bahkan sampai ke Kalimantan dan pulau lainnya. Sementara itu, Buya Hamka sebagai anak kemenakan dari Tiga tokoh ulama terdahulunya melanjutkan dengan memperkokoh Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terkemuka di Indonesia.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Gerbang MTsS Muhammadiyah, Kantor Cabang Pertama Muhammadiyah Di Pulau Sumatra yang telah beralih fungsi. Tidak ada bekas sejarah yang menunjukan lokasi tersebut sebagai Kantor Cabang Muhammadiyah. Foto : RUD/Prokabar

Menurut catatan sejarahnya, tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatra Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam tersebut. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatra Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh Indonesia.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Melihat potret kehidupan masyarakat saat ini, sudah banyak yang melupakan sejarah tersebut. Bahkan tingkat keimanan dan ketqwaan masyarakat tidak sehebat tempo masa Syekh Tuanku Nan Tuo atau Tuanku Pariaman pernah menyiarkan Islam di sini. Kejayaan itu dilanjutkan Syekh Guguak Katur, Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai.

Gedung MTsS Muhammadiyah dengan beragam gambar Tokoh beserta visi dan misi sekolah. Foto : RUD/Prokabar

Hingga akirnya, Haka, anak kandung dari Tuanku Kisai melakukan pembaharuan islam moderat. Seperti melahirkan Muhammadiyah pertama di luar Pulau Jawa dan pertama di Pulau Sumatra. Kejayaan Islam di Nagari Sungai Batang, sebagai Pusat Penyiaran Islam Pembaharuan dan Referensi Intelektual Ulam di Ranah Minang ini mulai sirna hampir tidak membekas.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Kehidupan religius masyarakat tidak seindah masalalu yang sangat mengharumkan nama baik Ranah Minang. Bahkan terkenal hingga ke negeri Jiran Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura.

A.R Sutan Mansur Melanjutkan Perjuangan Haka

Dapat diketahui secara umum, lahirnya Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H). Namun tidak dipungkiri, berkembang pesatnya Organisasi ini berada di Pulau Sumatra, terutama di Sumatra Barat (Ranah Minang) melalui tiga tokoh ulama ternama yang masih berkaitan erat dengan Buya Hamka sendiri.

Lanjut Halaman 2 >>

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB