Jakarta, Prokabar — Para tenaga pendidik (guru) di tingkat sekolah menengah atas harus aktif mendampingi pelajar dalam menyikapi setiap penyebaran informasi berkonten politik di sosial media (sosmed).
“Zaman disruption seperti ini kemungkinan pemilih pemula di tingkat sekolah terpapar hoax tinggi,” ujar Ketua Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto.
Menurut dia, jumlah pemilih pemula yang tidak sedikit, tentunya menjadi sasaran oknum untuk menyasar segementasi ini. Oleh karena itu, pemilih jenis ini akan rawan sekali menjadi korban informasi hoax demi kepentingan suatu oknum atau golongan.
Keterbatasan pengetahuan dalam memahami kondisi politik yang terjadi saat ini menjadi pintu masuk oknum untuk mempengaruhi pemilih. “Pemilih pemula memiliki keterbatasan pengetahuan yang masih minim,” imbuhnya.
Mengatasi hal itu, lanjut dia, peran guru harus netral untuk memberikan imbauan kepada peserta didik terkait informasi politik. Jika, konten yang terkandung terlalu negatif perlu diberikan pengertian pada murid. “Idealnya sebagai guru harus netral sikapi kondisi politik,” katanya.
Langkah ini perlu dilakukan, agar menjamin pemilih pemula tetap aktif memberikan partisipasi dalam pesta demokrasi. Kemudian, mempersiapkan kaum muda yang matang dalam menyikapi setiap penyebaran informasi negatif maupun positif.
“Tahapan ini merupakan proses bagi para pemilih pemula untuk memahami politik dalam negeri,” pungkasnya. (*/hdp)
















