Oleh : Kang Dedi Misbah
Gelegar gemuruh petir mengiringi turunnya curahan hujan membasahi Bumi Pertiwi.
Setelah sekian purnama teriknya mentari menyengat setiap jengkal tanah.
Ditemani teh hangat tawar dari perkebunan teh Dieng, seorang Anak berujar pada Ayah nya:
“Ayah, katanya ikhlas itu sulit ya?”
Sang Ayah menatap Anaknya dengan penuh kasih sayang lalu menjawab:
“Kata siapa itu, Anakku?”
Anaknya menjawab spontan:
“Kata orang-orang, Ayah…”
Sang Ayah tersenyum, sembari meletakkan gelas teh hangat yang baru saja diseruput.
Lalu menjelaskan:
“Anakku sayang..
Manusia itu seringkali memberikan penilaian pada apa yang sejatinya sering ia lakukan.
Pun penilaian itu mempersulit dirinya sendiri, bukannya mempermudah atau berada di posisi netral.”
“Mengapa begitu?
Mari kita kaji dan belajar pada tubuh mengenai ikhlas ini.
Perhatikan napasmu, Anakku.
Sejak kehidupan menghampiri.
Sejak jantung berdetak.
Napas tak pernah lepas dari tubuh.
Napas terus dilakukan hingga ajal menjelang.”
“Sekali lagi,
Perhatikan napasmu, Nak…
Pada napas terletak keniscayaan.
Bahwa ikhlas slalu dilakukan.”
Sang Anak menyela penjelasan Ayah nya, dengan bertanya:
“Apa hubungannya ikhlas dengan bernapas, Ayah?”
Sang Ayah melanjutkan penjelasannya:
“Anakku…
Pada napas itu terdapat pelajaran mendalam.
Ia menyiratkan makna Kasih Terima.
Memberi lalu menerima.
Ketika bernapas.
Kita memberikan CO2 lalu menerima O2 atau Oksigen dari alam.
CO2 kita berikan secara spontan.
Tidak ada perhitungan.
Tidak ada penilaian.
Imbal baliknya alam memberikan O2 pada tubuh kita.
Pun itu diberikan alam secara spontan.
Hal ini menjadi siklus.
Yang berputar terus menerus selama 24 jam.
Selama hayat dikandung badan.
Inilah makna terdalam dari ikhlas, Anakku.
Spontanitas.”
“Jadi,
Jika tubuh dan diri kita sendiri secara keniscayaan melakukan perbuatan ikhlas.
Lalu kenapa dikatakan dan ditegaskan kalau berbuat ikhlas itu susah?”
“Pabila ada yang berkata.
Bahwa bernapas dilakukan tanpa sadar.
Maka kita perlu menegaskan, Anakku.
Bahwa sebaiknya ikhlas pun dilakukan secara “tanpa sadar” alias spontan.
Spontan itu refleks, dimana kesadaran terkadang kalah cepat mengikutinya.”
“Dengan demikian.
Teruslah bernapas, Anakku.
Teruslah berbuat ikhlas.
Tanpa memperdulikan penilaian.
Baik dari diri sendiri ataupun orang lain.”
Sang Anak sumringah dan tercerahkan oleh untaian kalimat Ayahnya.
Seperti tanah kering yang bahagia mendapatkan curahan hujan.
[ Dataran Tinggi Dieng, awal Desember 2023 ]
















