Rakik-rakik secara harfiah sebuah ornamen atau rakitan anak-anak muda yang dibuat dari batang bambu. Karya kreasi kreatif dikerahkan dengan segenap kemampuan dan daya upaya.
Hebatnya, proses pembuatan ini melalui usaha yang sangat panjang. 1 bulan penuh diawali sebelum ramadan hingga lebaran Idul Fitri. Mulai mencari batang bambu dan batung untuk meriam ke hutan rimba perbukitan, dijunjung dengan tenaga ekstra. Sampai pada kebutuhan pembuatan mencapai Rp20 juta rupiah dari perantau.
Setelah semua bahan terkumpul, proses dilanjutkan dengan pembuatan ornamen atau telong-telong dan juga membutuhkan hiasan lampu warna-warni dan lampu togok yang mengelilingi rakik-rakik. Tanpa semangat gotong royong dan kerjasama yang baik, mustahil dapat dituntaskan dan diselesaikan dengan baik.
Namun hakikat paling tinggi sesungguhnya adalah untuk apa Tradisi Barakik-rakik ini diciptakan dan dilestarikan? Ini yang penting dikaji dan diintrospeksi lagi bagi pemilik, pelestari dan pencinta rakik-rakik ini? Nenek moyang dahulu melahirkan ini sebagai bentuk ucapan rasa syukur serta sebagai bentuk Kecintaannya kepada Allah SWT. Agar Idul Fitri benar-benar meriah dan menjadi kenangan terindah dalam diri masyarakat muslim di Maninjau. Perjuangan ini sebagai bentuk semata-mata karena Allah SWT.[Best_Wordpress_Gallery id=”21″ gal_title=”All images”]
















