​Perantau, Pulanglah

Penulis -

Jumat, 23 Juni 2017 - 00:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, Prokabar – Perantau, Pulanglah. Kampung menunggu anda. Mereka ingin anda menjejak kembali pematang, tempat dulu berlari. Batang air yang dulu mengajarimu berenang. Dan pepohonan yang menjadi saksi, kenakalan kenakalan kecil yang dulu anda lakukan.
Perantau, pulanglah. Tidak kah anda rindu dengan harumnya rumah gadang tempat anda dibesarkan. Dengan dinginnya air di kulah yang lebarnya sama panjang dengan tali timba pengambil air. Tidakkah anda rindu suara amak yang memanggil disaat azan magrib berkumandang. Marapi, Singgalang dan Tandikek berdiri gagah, menjaga itu semua. Untuk anda.

Perantau, pulanglah. Merantau memang menjadi cara masyarakat minang bermigrasi. Bukan untuk tidak kembali, tapi mencari ilmu dunia, ilmu agama dan pengalaman hidup. Ada yang sukses, ada yang merana. Namanya jalan takdir, tak perlu disesali.

Baca Juga :  Air Hujan, Anugerah Semesta untuk Kehidupan di Muka Bumi

Tapi inilah kampung kita, tempat kita melepaskan semua masalah. Bercengkrama di lapau lapau, menghirup pahitnya kopi. Kampung memeluk anda layaknya ibu memeluk anaknya. Lepaskan beban rantau, anda adalah diri sendiri, bagian masyarakat komunal yang kental, tanpa kenal status sosial.

Perantau, pulanglah. Ranah rindu dengan anda. Perputaran uang menggelinding hingga ke saku anak anak yang manambang. Pemerintah menprediksi Rp. 2 T uang yang akan berputar. Berputarnya kemana? Kemana mana, yang menikmati adalah ranah ini.

Baca Juga :  Air Hujan, Anugerah Semesta untuk Kehidupan di Muka Bumi

Ketika anda jalan jalan ke tempat wisata. Sempatkan jugalah berbelanja. Ketika belanja makanan di kaki lima, jangan banyak tawar menawar pula. Si penjual hanya menikmati perputaran uang ini sekali setahun. Terbayangkah anda, apa yang dikorbankannya saat menjaja dagangannya? Kebahagiaan.

Mudik tidak hanya soal pulang kampung. Tapi ada makna mendalam. Mudik menyatukan harmoni diri kita dengan masa lalu. Apa yang ditemui? Ketenangan. 

Perantau, pulanglah. Bongkar kembali memori masa lalu. Masa tanpa ada teknologi yang mengatur kita. Masa dimana interaksi adalah wajah dengan wajah. Bukan jari dengan jari.

Baca Juga :  Air Hujan, Anugerah Semesta untuk Kehidupan di Muka Bumi

Ajari anak anda tentang alam. Tentang indahnya keluar masuk hutan. Dan tentang dunia yang tidak melulu bergerak cepat. Dan jangan lupa, ajak mereka bernostalgia ke tempat tempat yang anda dulu takjub mendatanginya. Nikmati.

Perantau, pulanglah. Pulanglah dengan sederhana, jangan pulang dengan melagak bahwa anda telah sukses. Ini adalah kampung kita, tempat dimana dulu kita anggap seluruh masyarakat adalah dunsanak. Tidak ada gunanya menperlihatkan kita hebat, kita kaya. Toh, mungkin dunsanak kita sudah tahu.

Pulanglah, tinggalkan semua masalah di rantau. Dan kembalilah dengan rasa suka cita. Sambil bicara lantang saya anak kampung. (laf)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Air Hujan, Anugerah Semesta untuk Kehidupan di Muka Bumi
Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh
Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Air Hujan, Anugerah Semesta untuk Kehidupan di Muka Bumi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Berita Terbaru

Berita

HUT Golkar ke-62 DPD Pasaman Ziarah Kubur Pahlawan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:09 WIB