Artikel

​Perantau, Pulanglah

Padang, Prokabar – Perantau, Pulanglah. Kampung menunggu anda. Mereka ingin anda menjejak kembali pematang, tempat dulu berlari. Batang air yang dulu mengajarimu berenang. Dan pepohonan yang menjadi saksi, kenakalan kenakalan kecil yang dulu anda lakukan.
Perantau, pulanglah. Tidak kah anda rindu dengan harumnya rumah gadang tempat anda dibesarkan. Dengan dinginnya air di kulah yang lebarnya sama panjang dengan tali timba pengambil air. Tidakkah anda rindu suara amak yang memanggil disaat azan magrib berkumandang. Marapi, Singgalang dan Tandikek berdiri gagah, menjaga itu semua. Untuk anda.

Perantau, pulanglah. Merantau memang menjadi cara masyarakat minang bermigrasi. Bukan untuk tidak kembali, tapi mencari ilmu dunia, ilmu agama dan pengalaman hidup. Ada yang sukses, ada yang merana. Namanya jalan takdir, tak perlu disesali.

Tapi inilah kampung kita, tempat kita melepaskan semua masalah. Bercengkrama di lapau lapau, menghirup pahitnya kopi. Kampung memeluk anda layaknya ibu memeluk anaknya. Lepaskan beban rantau, anda adalah diri sendiri, bagian masyarakat komunal yang kental, tanpa kenal status sosial.

Perantau, pulanglah. Ranah rindu dengan anda. Perputaran uang menggelinding hingga ke saku anak anak yang manambang. Pemerintah menprediksi Rp. 2 T uang yang akan berputar. Berputarnya kemana? Kemana mana, yang menikmati adalah ranah ini.

Ketika anda jalan jalan ke tempat wisata. Sempatkan jugalah berbelanja. Ketika belanja makanan di kaki lima, jangan banyak tawar menawar pula. Si penjual hanya menikmati perputaran uang ini sekali setahun. Terbayangkah anda, apa yang dikorbankannya saat menjaja dagangannya? Kebahagiaan.

Mudik tidak hanya soal pulang kampung. Tapi ada makna mendalam. Mudik menyatukan harmoni diri kita dengan masa lalu. Apa yang ditemui? Ketenangan. 

Perantau, pulanglah. Bongkar kembali memori masa lalu. Masa tanpa ada teknologi yang mengatur kita. Masa dimana interaksi adalah wajah dengan wajah. Bukan jari dengan jari.

Ajari anak anda tentang alam. Tentang indahnya keluar masuk hutan. Dan tentang dunia yang tidak melulu bergerak cepat. Dan jangan lupa, ajak mereka bernostalgia ke tempat tempat yang anda dulu takjub mendatanginya. Nikmati.

Perantau, pulanglah. Pulanglah dengan sederhana, jangan pulang dengan melagak bahwa anda telah sukses. Ini adalah kampung kita, tempat dimana dulu kita anggap seluruh masyarakat adalah dunsanak. Tidak ada gunanya menperlihatkan kita hebat, kita kaya. Toh, mungkin dunsanak kita sudah tahu.

Pulanglah, tinggalkan semua masalah di rantau. Dan kembalilah dengan rasa suka cita. Sambil bicara lantang saya anak kampung. (laf)

Click to comment

Tinggalkan Balasan

To Top