​Inilah Riwayat Nasi Kapau nan Enak….

Penulis -

Senin, 9 Oktober 2017 - 13:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukittinggi, Prokabar — Anda sering dengar kabar kelezatan nasi kapau? Atau pernah menyantapnya. Wow pasti enak. Lalu bagaimana riwayat kuliner itu berasal?
Prokabar.com mengajak Anda membayangkan Bukittinggi sebagai titik yang berada di tengah-tengah. Titik itu dikelilingi desa-desa (nagari).

Ratusan tahun silam di Agam Tuo yaitu Bukittinggi dan nagari sekitarnya disepakati satu konsep yang dalam khasanah ekonomi kerakyatan sekarang disebut one village one product. Satu desa satu produk.

Kapau adalah nama nagari, warga di sini spesialisasinya kuliner, nasi kapau.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Orang Kapau takkan mau misalnya membuat perhiasan dari perak atau emas sebab itu ” jatah” nagari lain.

Maka bersama-sama orang Agam Tuo menjaga nasi kapau. Nasi itu dijual di kota mereka, Koto Rang Agam: Bukittinggi.

Kalau Kapau dengan nasi, maka Bukit Apit dengan kopi maka terkenallah kopi bukit apit. Kopi itu sudah terkenal kemana mana.

Lalu  Lawang spesialisasi tebu. Kini tebu lawang jadi primadona. Bahkan pada masa dahulu, Lawang adalah produsen tebu terbesar di Sumatera Barat. Kinipun masih seperti itu, tebu lawang masih bisa dijumpai di pinggir jalan.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Soal kerupuk ubi, tidak ada yang mengalahkan Sanjai. Kerupuk Sanjai yang kini menjadi trademark, sejatinya berasal dari Nagari Sanjai. 

Kemudian Matur spesialisasi kacang. Ampek Angkek  pakaian, Tilatang Kamang perkayuan, Koto Gadang pandai perak, Guguak Tabek Sarojo pandai emas, Sungai Pua pandai besi, Banuhampu berladang sayur, Pakan Sinayan bibit sayur. 

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Itulah antara lain spesialisasi mereka dan semua dijual ke Bukittinggi pada Sabtu dan Rabu. Hari Balai. Makanya Pasa Ateh adalah pasar serikat.

Bukittinggi koto rang Agam oi andam…

Mana ada di Indonesia one village one product sehebat ini? Jauh sebelum pemerintah menggerakkan program ini, masyarakat Agam sudah lebih dulu berbuat. Dan berhasil.

Nenek moyang kita saja bisa, kenapa sekarang kita tidak? Tiru dan jagalah .(nrs/laf)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB