Yang Tak Terlihat, Tapi Selalu Menjawab

Penulis -

Minggu, 20 April 2025 - 19:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Assyifa Akhfadatul Ulya

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

“Hei Chat GPT, tolong rangkumin materi ini dong!”

“Perplexity, tolong carikan sumber yang akurat dari tulisan ini ya!”

“Gemini Bard, tolong buatin makalah lengkap dengan struktur PUEBI dan daftar pustaka lima tahun terakhir oke!”

Kalimat-kalimat ini semakin familiar, terutama di kalangan mahasiswa Gen Z. Tanpa disadari, kecerdasan buatan kini sudah menyelinap masuk ke dalam rutinitas belajar. Ia tidak lagi sekadar teknologi canggih, tapi telah menjadi “teman” yang selalu bisa diandalkan kapan pun dibutuhkan.

Seperti Nafizah, mahasiswa Pendidikan Biologi semester 4 di Universitas Bengkulu.

“ChatGPT itu sangat membantu kami dalam perkuliahan, apalagi saat mencari referensi jurnal atau buku yang susah dicari di Google Books atau Scholar. Walaupun kadang tahunnya gak sesuai, setidaknya kita tetap bisa dapat bahan buat nulis,” katanya.

Lain cerita dari Naura, mahasiswa Psikologi Islam semester 4 di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.

“AI memang ngebantu banget, tapi kalau semua hal kita serahkan ke AI, otak kita jadi jarang dilatih. Sebagai calon Psikolog, aku rasa kita tetap perlu berpikir dan menganalisis sendiri. AI boleh dipakai, tapi jangan sampai jadi tongkat utama,” tegasnya.

Pengalaman berbeda juga datang dari Fakultas Teknik. Aubertika, lulusan Arsitektur Universitas Bung Hatta tahun 2024, merasakan dampak AI di bidangnya.

“Beberapa software berbasis AI ngebantu banget buat tugas desain, dari yang skala kecil sampai besar. Di bidang kami, ada BIM (Building Information Modelling). Tapi sayangnya, di kampus kami belum terlalu familiar. Padahal di luar sana, itu udah jadi alat utama,” jelasnya.

Semua cerita ini mengarah ke satu kesimpulan: AI sudah menjadi bagian dari cara mahasiswa hari ini belajar. Tapi tidak semua berjalan tanpa catatan.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, pernah memberi warning tentang penggunaan AI. .

“Bergantung sepenuh sama AI tanpa mengeluarkan pikiran-pikiran terbaru, nanti akhirnya akan membuat kita tidak bisa menilai mana karya yang baik, mana karya yang baik dan tidaknya” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ketergantungan pada AI juga bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Padahal dua hal ini penting dalam proses akademik.

Gen Z dan AI

Sebagai generasi yang lahir dan besar di era digital, termasuk didalamnya mahasiswa. Gen Z memiliki hubungan yang sangat akrab dengan teknologi. Tools AI seperti ChatGPT, Gemini Bard, dan Perplexity yang kini jadi bagian dari keseharian mahasiswa. Mereka bisa mengakses bantuan akademik 24 jam dalam sehari nonstop, tanpa perlu takut ditolak, dinilai bodoh, atau dipermalukan. Bahasa gaulnya mah, “24/7 to thingking about you”.

AI jadi tempat bertanya yang aman. Tidak ada tekanan sosial, tidak ada rasa minder, dan tidak ada tatapan menghakimi seperti yang kadang muncul saat diskusi kelompok atau tanya jawab di kelas. Hal biasa yang mereka dapati ketika bertanya yang katanya hanya ‘hal dasar’. Semua terasa lebih bebas dan nyaman. Ibaratnya mah, ga ada tuh ketemu mental tukang judge.

AI juga menawarkan gaya belajar yang fleksibel. Mahasiswa bisa meminta penjelasan berulang kali, pakai bahasa yang sederhana, bahkan meminta analogi lucu biar lebih gampang dicerna. Cocok dengan karakter Gen Z yang cenderung cepat bosan, maunya serba praktis, dan ga sabaran.

Jangan Kebergantungan!

Sada tidak sadar, inilah tantangannya. Di balik semua kemudahan itu, ada risiko terselubung. Seperti rasa malas berpikir, ketergantungan, dan hilangnya proses alami dalam belajar.

AI memang bisa membantu menjawab, tapi tidak bisa menggantikan proses berpikir. Ia tak punya pengalaman, tak mengerti konteks sosial, tak bisa interaksi langsung layaknya manusia, dan tak bisa menggantikan nilai dari diskusi yang sering melahirkan ide-ide segar dan spontan. Karena, diskusi manusiawi itu penting. Di dalamnya akan muncul perbedaan pendapat, yang pada akhirnya menjadi sebuah pemahaman baru.

Dengan itu, peran kampus dan dosen sangat penting. Bukan untuk membatasi penggunaan AI, tapi untuk membimbing mahasiswa memanfaatkannya secara bijak. AI bisa jadi ‘teman belajar’ yang efektif, asalkan digunakan dalam porsi yang tepat dan tidak melanggar aturan. Dengan catatan, diskusi dan interaksi tetap harus dijaga, agar proses belajar tidak kehilangan rohnya.

Teknologi akan terus berkembang, dan mahasiswa akan terus mencari ‘jalan pintas’ untuk cara belajar yang paling efisien. Tetapi, di tengah semua kecanggihan itu, ada satu hal yang tak boleh hilang, kemampuan mahasiswa untuk berpikir sendiri. Karena AI itu buatan manusia, masa manusia kalah sama buatannya sendiri!

Intinya, Teman belajar terbaik bukan yang tahu segalanya, tapi yang membuat kita tetap ingin tahu meski tak selalu punya jawaban.

Penulis : Opini

Editor : Nofal Wiska

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB