Oleh : Assyifa Akhfadatul Ulya
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
“Hei Chat GPT, tolong rangkumin materi ini dong!”
“Perplexity, tolong carikan sumber yang akurat dari tulisan ini ya!”
“Gemini Bard, tolong buatin makalah lengkap dengan struktur PUEBI dan daftar pustaka lima tahun terakhir oke!”
Kalimat-kalimat ini semakin familiar, terutama di kalangan mahasiswa Gen Z. Tanpa disadari, kecerdasan buatan kini sudah menyelinap masuk ke dalam rutinitas belajar. Ia tidak lagi sekadar teknologi canggih, tapi telah menjadi “teman” yang selalu bisa diandalkan kapan pun dibutuhkan.
Seperti Nafizah, mahasiswa Pendidikan Biologi semester 4 di Universitas Bengkulu.
“ChatGPT itu sangat membantu kami dalam perkuliahan, apalagi saat mencari referensi jurnal atau buku yang susah dicari di Google Books atau Scholar. Walaupun kadang tahunnya gak sesuai, setidaknya kita tetap bisa dapat bahan buat nulis,” katanya.
Lain cerita dari Naura, mahasiswa Psikologi Islam semester 4 di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.
“AI memang ngebantu banget, tapi kalau semua hal kita serahkan ke AI, otak kita jadi jarang dilatih. Sebagai calon Psikolog, aku rasa kita tetap perlu berpikir dan menganalisis sendiri. AI boleh dipakai, tapi jangan sampai jadi tongkat utama,” tegasnya.
Pengalaman berbeda juga datang dari Fakultas Teknik. Aubertika, lulusan Arsitektur Universitas Bung Hatta tahun 2024, merasakan dampak AI di bidangnya.
“Beberapa software berbasis AI ngebantu banget buat tugas desain, dari yang skala kecil sampai besar. Di bidang kami, ada BIM (Building Information Modelling). Tapi sayangnya, di kampus kami belum terlalu familiar. Padahal di luar sana, itu udah jadi alat utama,” jelasnya.
Semua cerita ini mengarah ke satu kesimpulan: AI sudah menjadi bagian dari cara mahasiswa hari ini belajar. Tapi tidak semua berjalan tanpa catatan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, pernah memberi warning tentang penggunaan AI. .
“Bergantung sepenuh sama AI tanpa mengeluarkan pikiran-pikiran terbaru, nanti akhirnya akan membuat kita tidak bisa menilai mana karya yang baik, mana karya yang baik dan tidaknya” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketergantungan pada AI juga bisa menurunkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Padahal dua hal ini penting dalam proses akademik.
Gen Z dan AI
Sebagai generasi yang lahir dan besar di era digital, termasuk didalamnya mahasiswa. Gen Z memiliki hubungan yang sangat akrab dengan teknologi. Tools AI seperti ChatGPT, Gemini Bard, dan Perplexity yang kini jadi bagian dari keseharian mahasiswa. Mereka bisa mengakses bantuan akademik 24 jam dalam sehari nonstop, tanpa perlu takut ditolak, dinilai bodoh, atau dipermalukan. Bahasa gaulnya mah, “24/7 to thingking about you”.
AI jadi tempat bertanya yang aman. Tidak ada tekanan sosial, tidak ada rasa minder, dan tidak ada tatapan menghakimi seperti yang kadang muncul saat diskusi kelompok atau tanya jawab di kelas. Hal biasa yang mereka dapati ketika bertanya yang katanya hanya ‘hal dasar’. Semua terasa lebih bebas dan nyaman. Ibaratnya mah, ga ada tuh ketemu mental tukang judge.
AI juga menawarkan gaya belajar yang fleksibel. Mahasiswa bisa meminta penjelasan berulang kali, pakai bahasa yang sederhana, bahkan meminta analogi lucu biar lebih gampang dicerna. Cocok dengan karakter Gen Z yang cenderung cepat bosan, maunya serba praktis, dan ga sabaran.
Jangan Kebergantungan!
Sada tidak sadar, inilah tantangannya. Di balik semua kemudahan itu, ada risiko terselubung. Seperti rasa malas berpikir, ketergantungan, dan hilangnya proses alami dalam belajar.
AI memang bisa membantu menjawab, tapi tidak bisa menggantikan proses berpikir. Ia tak punya pengalaman, tak mengerti konteks sosial, tak bisa interaksi langsung layaknya manusia, dan tak bisa menggantikan nilai dari diskusi yang sering melahirkan ide-ide segar dan spontan. Karena, diskusi manusiawi itu penting. Di dalamnya akan muncul perbedaan pendapat, yang pada akhirnya menjadi sebuah pemahaman baru.
Dengan itu, peran kampus dan dosen sangat penting. Bukan untuk membatasi penggunaan AI, tapi untuk membimbing mahasiswa memanfaatkannya secara bijak. AI bisa jadi ‘teman belajar’ yang efektif, asalkan digunakan dalam porsi yang tepat dan tidak melanggar aturan. Dengan catatan, diskusi dan interaksi tetap harus dijaga, agar proses belajar tidak kehilangan rohnya.
Teknologi akan terus berkembang, dan mahasiswa akan terus mencari ‘jalan pintas’ untuk cara belajar yang paling efisien. Tetapi, di tengah semua kecanggihan itu, ada satu hal yang tak boleh hilang, kemampuan mahasiswa untuk berpikir sendiri. Karena AI itu buatan manusia, masa manusia kalah sama buatannya sendiri!
Intinya, Teman belajar terbaik bukan yang tahu segalanya, tapi yang membuat kita tetap ingin tahu meski tak selalu punya jawaban.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















