Pariaman, Prokabar – Bermula dari 2003, pembuatan dasar kandang ayam batrai atau ayam bertelur sistem order, usaha Azwar (48 ) terus melejit menjadi bengkel pembuatan pagar dan lainnya.
Kini, Azwar malah mampu menciptakan pabrik pengolahan sampah plastik menjadi tali rapia atau dikenal tali teyin.
Dengan adanya bengkel beserta beberapa orang pekerja, mesin pabrik berhasil dibuat sendiri tanpa harus membeli dengan harga ratusan juta rupiah.
Sebelumnya, Azwar sempat merantau selama 10 tahun ke Medan. Berbekal bekal seadanya, mengadu nasib di kota besar Sumatera itu. Di sana, Azwar bekerja di bengkel pengusaha WNI keturunan. Setelah mendapat cukup i pengalaman, bapak 5 anak gadis ini memutuskan pulang ke kampung halamannya di Korong Muaro, Nagari Kurai Taji, Kecamatan Nan Sabaris, Padang Pariaman. Saat kepindahan pada 2003 itu, suami dari Marnilis (41) ini, baru memiliki dua orang anak. Bermodal ilmu pengetahuan dan pengalaman selama di Medan, akhirnya bengkel bubut dan pembuatan dasar kandang ayam bertelur berhasil dirintis.
Berkat keuletan dan kegigihanya bekerja, usaha terus berkembang dan bahkan membuat pabrik pengolahan sampah plastik untuk memproduksi tali rapia. Azwar mengklaim, pabrik produksi pengolah sampah plastik menjadi tali rapia ini, pertama dan satu-satunya di Sumatera Barat.
“Setiap hari kita membutuhan 2 ton sampah plastik untuk menghasilkan 2 ton tali rapian dan pipet minuman. Dari pabrik tersebut kita menampung pekerja dari tenaga masyarakat sekitar 30 orang. Sampah plastik dari berbagai penghimpun barang bekas di Padang Pariaman tidak terpenuhi, jadi terpaksa dipemesan dari luar daerah. Seperti dari Payakumbuh, Bukittinggi, Padang, Pasaman dan Lubuk Basung” ungkap Azwar.
Bahan yang sudah jadi, telah mendapat pesanan dan langganan dari seluruh daerah di Sumatera Barat, bahkan sudah menembus daerah Riau, Jambi dan Bengkulu.
“Kendala kita adalah tingginya persaingan dari Jakarta dan Medan, mereka memiliki modal dan jumlah pabrik serta hasil produksi yang lebih besar, sehingga kita harus terus meningkatkan produksi dan modal yang besar pula, agar dapat mengimbangi persaingan di tengah pasar,” lanjutnya.
Indrawati (41) dan Nurbaini (42 ), dua orang dari antara puluhan pekerja sortiran barang bekas plastik di pabrik milik Azwar. Mereka mengaku baru bekerja 2 bulan yang lalu. Meski mendapatkan upah yang tidak terlalu besar, setidaknya pekerjaan tersebut mengisi hari mereka dan menambah penghasilan keluarga.
“Biasanya kami bekerja sebagai pengumpul, pesortir dan penggiling cabe di Pasar Pariaman. Karena harga cabe lagi mahal, membuat pekerjaan kami terhenti hingga waktu yang belum ditentukan. Karena ada tawaran bekerja di pabrik plastik ini, kami pun berharap mendapat upah rata-rata 7 ribu hingga 100 ribu sehari, bergantung jumlah pekerjaan yang kami siapkan. Semakin giat dan keras bekerja, maka hasil yang kami dapatkan pun masksimal pula” kata Indrawati dan Nurbaini. (rud)
















