Padang, Prokabar – Pembentukan karakter sangat penting untuk generasi muda. Sesungguhnya pembentukan karakter sudah terbentuk pada usia “golden age” sudah terbentuk karakter, yakni pada pendidikan anak usia dini 0-6 tahun sebanyak 80 persen, sisanya 20 persen diisi pada usia sekolah, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.
Hal itu dikatakan anggota DPD RI Hj. Emma Yohanna saat menjadi nara sumber dalam Universitas Bung Hatta Focus Group Discussion dengan Tema “Upaya Bersama Pembentukan Karakter Generasi Muda Sumatera Barat” di Gedung B Universitas Bung Hatta, Ulak Karang Padang, Jumat (27/12).
FGD itu sendiri menghadirkan lima nara sumber yakni, Anggota DPD RI Hj. Emma Yohanna, Walikota Padang Mahyeldi, Arswendy, Diaspora Indonesia dari Norwegia, Dr. Syur’ani (HIMPAUDHI) dan akademisi Unand Dr. Rahmi Fahmi.
Menurut Emma Yohanna, pembentukan karakter pada usia golden age tidak bisa disia-siakan. Orang tua harus serius dalam pembentukan karakter anak dengan cara-cara yang sederhana.
“Karena perilaku keseharian kita akan menjadi acuan terbesar dalam pembentukan karakter yang terbangun sejak kecil,” kata Hj. Emma Yohanna.
Dia juga menyatakan, perlu sinergi semua elemen, baik lembaga pendidikan terutama perguruan tinggi, pemerintah dan keluarga dalam pembentukan karakter generasi muda ini.
“Pembentukan karakter itu tidak serta merta, tapi perlu waktu. Makanya pembentukan karakter ini perlu dilakukan sejak dini,” katanya.
Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah mengatakan bahwa Pemerintah Kota Padang sangat mendukung pembentukan karakter generasi muda ini. Pemko, katanya telah juga telah berupaya melakukan pembentukan karakter ini dengan berbagai program seperti pembebasan biaya pendidikan bagi sekolah SD dan SMP, lalu ada program 18-21 serta program kembali ke meja makan.
“Dengan program 18-21 serta kembali ke meja makan, akan kembali mendekatkan keluarga sehingga pembentukan karakter dapat mudah dilakukan, dimana anak-anak dapat berdiskusi dengan orang tuanya,” ujarnya.
Kebanyakan generasi muda yang terlibat narkoba atau kasus lainnya, karena kurangnya waktu orang tua untuk berdiskusi, sehingga anak bertanya ke orang lain. “Namun mereka justru mendapat jawaban yang salah,” katanya.
Arswendy, Diaspora Indonesia dari Norwegia yang sudah merantau sejak tahun 2003 di Norwegia Enginering Company, mengatakan Penduduk Norwegia hampir sama dengan Sumatera Barat artinya memiliki SDM yang sama.
Kekayaan alam dan SDM antara Sumbar dan Norwegia hampir sama. Kenapa Sumbar ketinggalan, karena Norwegia selalu mengedepankan SDM contohnya dalam berlalu lintas yang tertib, sabar, mau menunggu dan tidak mengambil hak orang lain dalam berkendara.
“Karakter positif akan membuat negara maju. Manusia dengan karakter yang kuat akan bisa menciptakan teknologi hebat dan mampu mengumpulkan dana yang banyak. Jepang dan Jerman maju setelah terpuruk karena Perang Dunia II mampu bangkit karena karakter masyarakatnya yang kuat,” katanya.
Dr. Syur’ani mengatakan unsur pendidikan adalah keluarga, sekolah dan masyarakat harus saling menyatu dan terintegrasi. Terputusnya mata rantai ketiganya. Program parenting adalah upaya mengoptimalkan kemampuan anak, dengan kerjasama antara guru dan orang tua.
Sementara Dr. Rahmi Fahmi mengatakan kompetensi sangat jika karakter tidak ada. Karakter sangat banyak hubungan dengan nilai-nilai yang lain. Spirituliatas dan budaya adalah sumber nilai dari karakter.
Rektor UBH Dr. Hendra Suherman menyatakan tujuan FGD itu dilaksanakan adalah untuk menunjukkan keterlibatan institusi perguruan tinggi dalam pembentukan karakter generasi muda.
“Jadi dengan FGD ini kita menghimpun pendapat para tokoh untuk kemudian kita akan bersinergi dengan pemerintah. UBH sebagai perwujudan Bung Hatta memiliki beban karena kita tahun Bung Hatta memiliki karakter yang kuat. Makanya kita mengangkat tema ini,” katanya didampingi Ketua Pengurus Yayasan Masri Hasyar.(mbb)
















