Oleh : Hanipah
Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang
Di zaman sekarang, hiburan digital jadi bagian hidup yang nggak bisa dipisahkan. Salah satunya lewat TikTok yang penuh tren seru—termasuk tren velocity yang lagi naik daun. Tapi, boleh nggak sih ikut-ikutan tren semacam itu menurut Islam? Islam bukan agama yang kaku. Dalam ajarannya, bersenang-senang itu sah-sah aja. Tertawa, bercanda, bahkan menari boleh kok—asal tidak melanggar aturan agama. Tapi kalau hiburannya bikin kita jauh dari Allah, memancing nafsu, atau menyelipkan simbol-simbol yang bertentangan dengan tauhid, ya, saatnya rem tangan ditarik. Waspada!
Nah, trend velocity ini kelihatannya cuma efek video biasa. Tapi kalau ditelusuri, ada versi yang pakai simbol atau backsound yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Hati-hati! Jangan sampai cuma karena keren dan esthetic, kita ikut-ikutan tanpa tahu maknanya. Bisa-bisa malah ikut menyebarkan sesuatu yang keliru.
Allah SWT sudah wanti-wanti lewat firman-Nya di QS. Al-A’raf ayat 16-17, tentang bagaimana Iblis akan mengelabui manusia dari segala arah. Termasuk lewat hiburan yang tampak “biasa aja”, padahal isinya jebakan.
“…Pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus… dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16–17)
Lihat aja tren sekarang—banyak yang malah mempertontonkan aurat, gaya hidup hura-hura, sampai kekerasan terselubung. Meski tujuannya cuma buat seru-seruan, kalau isinya maksiat, tetap aja nggak bisa dibenarkan.
Dalam Islam, proses dan niat itu penting. Konten yang dibuat dengan niat baik dan tidak melanggar syariat? Silakan, itu hiburan yang bernilai. Tapi kalau kontennya mengandung dosa, memicu fitnah, atau menyebar kemaksiatan? Sorry, itu hiburan yang berbahaya.
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Tapi jangan lupa, kebalikannya juga berlaku. Kalau kamu menyebarkan keburukan, kamu juga dapat “jatah” dosanya—plus bonus dosa dari orang yang niru kamu.
So, mikir dulu sebelum bikin konten. Apalagi yang viral-viral.
Generasi muda muslim harus melek. Jangan cuma pengen tampil kekinian sampai ngorbanin nilai-nilai keislaman. Bijaklah pakai media sosial, karena semua yang kita posting bisa jadi bahan pertanggungjawaban nanti di hadapan Allah. Jangan biarkan jempolmu jadi saksi bisu dari dosa-dosa yang kamu anggap hiburan. Viral boleh, tapi jangan sampai fatal.
Penulis : Opini
Editor : Nofal Wiska
















