Artikel

Tradisi Ulu Ambek, Silat Tingkat Tinggi, Hanya Ada di Sini…

Padang Pariaman, Prokabar –
Diawali gerak langkah, diringi liukan-tubuh kedua pesilat, menandakan seni pertunjukan Ulu Ambek dimulai di sebuah laga-laga Korong Kasai, Nagari Tapakis, Kecamatan Ulakan Tapakis, Padang Pariaman.

Hentakan kaki kedua pemain ke lantai berajut bambu, menyentakan penonton yang hendak menyaksikan seni tradisional khas Piaman tersebut. Suara khas pedendang, memainkan perannya sebagai penghias suasana. Di sekitar tepi arena, dikelilingi puluhan masyarakat beserta belasan sesepuh dalam posisi duduk.

Pesilat memperlihatkan keterampilannya, sebagai seorang pendekar nan berkarakter. Tidak hanya menunjukan keindahan, juga memperagakan kekokohan, ketangkasan, kelincahan dan kecerdasan dalam bersilat. Setiap gerak memiliki filosofi dengan makna tersirat. Duo pendekar ini berlaga tanpa bersentuhan sama sekali, tidak seperti pencak silat Minang pada umumnya. Jemari tangan bergerak-gerak seakan-akan memberikan isyarat tertentu. Raut wajah dengan arah mata yang liar, tanpa saling bertatapan. Sesekali mereka mencoba saling mengadu ketangkasan dan kecepatan dalam serang dan menangkis. Gaya tangkis dan menyerang pun berbeda. Kedua pesilat biasanya berhadapan, dan secara bergantian untuk menyerang dan bertahan. Pada Ulu Ambek, pendekar yang bertahan, posisi tubuhnya menyamping dari orang yang menyerang.

Menurut mitos masyarakat, Ulu Ambek lahir sesuai sejarah Padang Pariaman yang menjadi pertahanan pertama maritim kerajaan Pagaruyuang. Kesenian ini identik memiliki kekuatan kebatinan atau kekuatan magis. Kekuatan tersebut digunakan sebagai upaya pengalihan tipu daya sehingga musuh tidak mudah menyerang dan memasuki wilayah teritorial Minangkabau, khususnya dari perairan pantai barat Sumatera.
Ketika seorang pemain Ulu Ambek terkena serangan lawan, itu disebut buluih. Orang yang buluih akan menanggung malu sekampung. Tidak hanya dirinya, tetapi juga orang sekampung beserta ninik mamaknya, kebetulan menyaksikan kegiatan tersebut. Konsep harga diri telah lahir dan mendarah daging dalam diri masyarakat Piaman, sejak lahirnya Ulu Ambek tersebut.

Simbol-simbol

Pada laga-laga, terbentuk segi empat dengan dua belas tiang di luar dan dalam pentas. Tiang bagian luar yakni tiang utama terdapat delapan tiang, sedangkan di dalam pentas, terdapat empat tiang. Antara empat tiang tersebut terdapat hiasan bunga dan jam dinding sebagai penghias dan pengatur waktu penampilan. Di dua sisi tiang dalam saling berhadapan, terdapat pula dua buah cermin panjang. Sedangkan pada langit-langit laga itu, terdapat hiasan kain dengan corak warna yang berbeda-beda. Simbol-simbol tersebut memiliki makna dan nilai tersendiri bagi pelestari kearifan local tersebut.

Rusli Muslim Datuk Rangkayo Basa selaku Walinagari Tapaksi menyebutkan, Ulu Ambek merupakan kesenian anak nagari. Selain sebagai ajang silahturahmi antar kampung, juga memiliki nilai-nilai sosial budaya masyarakat.

“Ulu Ambek adalah kesenian asli nenek moyang kami. Tidak diketahui secara pasti asal-usul lahirnya, namun kami mengetahui bahwa Ulu Ambek adalah kesenian tradisional leluhur yang menjunjung tinggi persaudaraan. Kami akan selalu melestarikannya dengan menggelar kegiatan, rutin tiap tahun” ungkapnnya.

Rusli melanjutkan, Ulu Ambek identik dengan rasio batiniah yang memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan dan alam sekitar. Termasuk kepekaan Hamblum Minallah Wahablum Minannas. Bagi generasi penerus, menjadi benteng jati diri mereka dalam memahami hidup berkehidupan di dunia ini.
Para pemain Ulu Ambek mewakili ninik mamak dan orang kampungnya untuk menunjukan kehebatan dan keterampilan dalam memahami inti sari silat.

“Kontak batin kedua pemain Ulu Ambek yang berada di atas laga-laga harus tingkat tinggi. Karena mereka akan dihadapkan sebuah raso jo pareso dan ereng jo gendeng. Mereka harus mampu menghambat setiap serangan lawan agar tidak buluih,” lanjut Walinagari Tapakis tersebut.
Soni, selaku Wali Korong Kasai sekaligus pemuda setempat menjelaskan, kegiatan tersebut rutin dilaksanaan masyarakat tiap tahunnya. Digelar selama lima hari berturut-turut.

Kegiatan tersebut diikuti tujuh belas kelompok Ulu Ambek Se-Kabupaten Padang Pariaman. Setiap kelompok selalu hadir dalam undangan pertemuan alek nagari yang digelar di suatu daerah. Persatuan dan kesatuan tersebut telah terjalin sejak dahulu kala.

“Kesenian Ulu Ambek selalu dilaksanakan sekali setahun di masing-masing daerah. Meski tidak semua yang mampu melaksanakan, setidak-tidaknya sebagian daerah dapat menggelarnya secara rutin termasuk di Korong Kasai, Nagari Tapakis ini” ungkap Soni.

“Ulu Ambek merupakan tingkat tertinggi untuk melatih batin seorang pendekar Minang. Ulu Ambek menjadi benteng mentalitas generasi muda terhadap pengaruh buruk budaya asing. Penanaman generasi berkarakter kuat menjadi tujuan utama dari kesenian tradisional masyarakat Padang Pariaman,” lanjut Tokoh Pemuda tersebut.

Ulu Ambek adalah salah satu kearifan lokal asli masyarakat Padang Pariaman. Pengembangan kesenian silat yang tidak dimiliki di daerah lain di Ranah Minangi.

Ulu Ambek juga sebagai tingkat tertinggi dari silat tradisional Padang Pariaman dan menunjukan kemampuan para pendeka di atas laga-laga yang beralas rajutan bambu.

Kegiatan selalu melalui dari swadaya masyarakat perantau dan masyarakat setempat. Jelas menunjukan bentuk solidaritas tinggi dari ranah dan rantau. Pada pelaksanaan Alek Nagari Ulakan Tapakis tersebut terkumpul dana sekitar Rp30 juta, yang berasal dari budaya badoncek masyarakat. Termasuk pembuatan laga-laga di Ulakan Tapakis tersebut. (rudi)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top