Oleh : Rido Ilham (Mahasiswa Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)
Padang, Prokabar — Masyarakat Minangkabau dikenal kaya akan khasanah budaya, ditandai dengan banyaknya tradisi atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak jenis tradisi dalam kehidupan masyarakat Minangkabau seperti balimau, babako, dan masih banyak yang lainnya.
Namun, pada umumnya tradisi-tradisi tersebut perlu dipertanyakan kembali keberadaannya karena perkembangan zaman telah menyebabkan terlupakannya tradisi tersebut karena menganggap tradisi tersebut sesuatu hal yang kuno.
Kalaupun masih ada pada saat sekarang ini, tradisi tersebut telah banyak terjadi perubahan tata cara pelaksanaannya. Namun sejatinya tradisi-tradisi tersebut mengandung unsur dan nilai luhur kehidupan masyarakat Minangkabau yang harus tetap dilestarikan oleh generasi muda Minangkabau sekarang ini.
Salah satu dari sekian banyak tradisi tersebut yaitu Tradisi Malamang. Lamang, makanan yang terbuat dari ketan dan di masak bersana dengan santan kelapa dan dikemas dalam wadah potongan bambu. Disamping makanan randang, ketupat, dan lainnya, lamang juga termasuk makanan khas tradisional Minangkabau.
Makanan lamang ini pada umumnya dapat ditemui di seluruh wilayah Sumatera Barat dan Minangkabau baik itu wilayah darek maupun wilayah rantau.
Lamang ini sangat erat kaitannya dengan peran Syekh Burhanuddin dari Pariaman. Dalam tambo masyarakat Minangkabau, dikisahkan bahwa syekh Burhanuddin suka berkunjung ke rumah-rumah warga untuk bersilaturahmi dan menyiarkan agama islam. Dalam masyarakat Minangkabau, sudah menjadi kebiasaan untuk menjamu para tamu.
Namun saat warga menghidangkan makanan, Syekh Burhanuddin ragu perihal kehalalan hidangan yang disajikan. Kemudian, Syekh Burhanuddin menyarankan kepada warga yang dikunjunginya untuk mencari bambu dan daun pisang muda sebagai alasnya.
Lamang salah satu makanan khas Minangkabau yang tebuat dari beras ketan dengan wadah dari bambu. Jenis atau varian lamang ini cukup banyak, namun yang menonjol dan banyak dibuat oleh masyarakat Minangkabau adalah lamang yang terbuat dari beras ketan atau biasanya masyarakat Minangkabau menyebutnya sipuluik.
Berikut bahan-bahan dan proses pembuatan lamang, walaupun banyak varian namun pada umumnya proses pembuatan lamang ini masih sama. Bahan yang pertama yaitu bambu/talang, sebagai wadah untuk pembuatan lamang ini. Ukuran atau panjang bambu ini disesuaikan dengan kemauan orang yang membuatanya dengan memanfaatkan ruas pada talang ini.
Yang kedua adalah pucuk daun pisang yang berfungsi sebagai alas pada talang. Kemuadian santan kelapa, umumnya santan yang digunakan untuk pembuatan lamang ini adalah kelapa yang tua. Santan dicampur juga dengan garam atau pemanis lainnya supaya menciptakan rasa yang enak.
Selanjutnya yaitu bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan lamang ini yaitu beras ketan, apabila ketan dimasak atau dikukus, santan akan sedikit melekat atau lengket seperti beras biasa pada umumnya.
Proses pembuatan lamang membutuhkan waktuyang cukup lama, untuk memasak lamang membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Tahap yang pertama untuk memasak lamang yaitu memotong talang kemudian talang dibersihkan, setelah dibersihkan talang di alas dengan pucuk daun pisang dan masukan beras ketan ke dalam talang yang sudah di alas kemudian dicampurkan dengan santan yang telah dicampur dengan garam. Setelah semua selesai barulah di dekatkan pada api yang telah disediakan, biasanya pembuatan lamang ini dilakukan di tempat terbuka.
Sebagai salah satu makanan khas di Minangkabau, tentunya makanan lamang menyimpan nilai luhur kehidupan masyarakat Minangkabau. Dari bahan dan proses pembuatannya dapat dilihat bagaimana sikap masyarakat Minangkabau yang sangat memegang erat prinsip kebersamaan untuk menyelesaikan dan mengerjakan sesuatu, dilihat saja dari proses memasak lamang ini yang dilakukan tempat terbuka.
Tidak hanya mendekatkan dengan sanak saudara tapi juga mendekatkan diri dengan tetangga atau masyarakat sekitar. Biasanya ketika sedang memasak lamang, jika ada tetangga atau masyarakat sekitar akan bertanya “malamang piak?” yang artinya sedang masak lamang? Dengan pernyataan yang seperti ini masyarakat mengetahui dan ikut membantu memasak lamang tersebut, dengan ini tentunya akan menjadi wadah silaturahmi antar masyarakat yang mencitapkan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Selain itu, bahan bambu atau talang yang digunakan sebagai wadah pembuatan lamang ini juga mencerminkan bagaimana masyarakat Minangkabau dapat memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan.
Seperti pepatah adat “Tiado rotan akapun jadi, tiado kayu janjang dikapiang.” Pepatah ini menandakan bagaimana kejelian masyarakat Minangkabau dalam memanfaatkan peluang.
Bahan beras ketan yang digunakan masyarakat Minangkabau sebagai bahan pokok dari lamang ini juga mencerminkan bagaimana sifat dan kebiasaan masyarakat Minangkabau dalam hidup berhemat atau tidak boros.
Masyarakat Minangkabau yang memiliki kebiasaan merantau, lamang juga bisa dijadikan bekal dalam perjalanan karena dibandingkan dengan beras biasa beras ketan ini lebih tahan lama dan tidak cepat basi. Seiring berjalannya waktu, lamang menjadi tradisi yang biasa diadakan pada acara Maulud Nabi, menjelang bulan Ramadhan, peringatan kematian.
Lamang umumnya digunakan sebagai cemilan yang dihidangkan kepada para tamu. Penyajian lamang menjadi simbol penghormatan kepada tamu yang datang. (***)
















