Padang, Prokabar-Guna meningkatkan ekspor, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus berupaya mendorong pelaku usaha untuk menaikkan volume.
Kepala Dinas Koperasi perindustrian dan Perdagangan, Asben Hendri mengatakan, pihaknya selalu menyampaikan upaya itu pada eksportir.
“Dengan demikian, secara otonatis tentu ekspor komoditi unggulan kita akan naik,” ungkapnya pada Prokabar.com melalui telponnya di Padang, Senin (2/12).
Dalam Laporan Keuangan dan Ekonomi Sumbar periode Agustus, Bank Indonesia memprediksi kinerja ekspor Sumbar memgalami penurunan di triwulan IV 2019.
Hal itu sejalan dengan penurunan panen sawit dan pemangkasan ekspor karet. Apalagi, musim panen setelah panen raya, produksi sawit diperkirakan mengalami penurunan.
Puncak panen raya terjadi mulai triwulan III 2018-triwulan III 2019. Penurunan panen itu secara otomatis bakal berdampak serius pada kinerja ekspo Sumbar.
Karena selama ini CPO dan karet merupakan komoditi penyumbang nilai ekspor terbesar di daerah itu.
Bank Indonesia, mencatat CPO dan karet merupakan komoditas ekspor utama Sumbar. Sepanjang, triwulan III, kontribusi keduanya dalam kinerja ekspor mencapai 66.85 persen.
Kemudian disusul kopi dan teh, 15.30 persen.
Harga CPO yang belum kunjung membaik menjadi penghambat bagi petani meningkatkan produksinya.
Kondisi itu diperparah dengan perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama. Di lain sisi, lemahnya permintaan dunia juga berdampak pada permintaan karet alam.
Selain peningkatan mendorong peningkatan volume, lanjutnya, pemerintah provinsi juga gencar melakukan upaya promosi dan mencari pasar-pasar ekspor baru.
“Jadi, kita tidak bisa hanya mengandalkan pasar tradisional semata (negara tujuan yang telah ada,” tutupnya.
Kemudian, memberi informasi pasa pelaku ekspor terkait pasar-pasar potensial. Sebagai contoh, kawasan Asia Selatan seperti India dan Bangladesh.
“Di kedua negara itu potensi kita bagus,” tutupnya. (tds)
















