Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Tergerusnya Nilai-nilai Wanita Minangkabau

Dibaca : 306

Oleh : Suci Mulia, Mahasiswi Universitas Andalas Jurusan Sastra Minangkabau


Padang, Prokabar —D
alam kehidupan sosial, wanita Minangkabau merupakan sosok yang agung dan amat sangat dihormati. Nilai seorang wanita Minangkabau sangat tinggi dan bahkan mampu membuat sebuah kebijakan. Kedudukan yang dimilikinya sangat istimewa, keberadaan wanita Minangkabau benar-benar dihargai.

Keistimewaan wanita Minangkabau dilambangkan dalam ungkapan limpapeh rumah gadang, ungkapan ini biasanya diistilahkan kepada perempuan dewasa atau kaum ibu yang disebut juga dengan bundo kanduang. Sebagai lambang kehormatan dan kemulian seorang wanita yang menjadi bundo kanduang tidak hanya menjadi hiasan dalam bentuk fisik saja, tetapi kepribadiannya sebagai perempuan dan juga harus memahami ketentuan adat yang berlaku. Tahu sopan santun, basa-basi serta tahu cara berpakaian yang pantas.

Frasa bundo kanduang mengacu kepada sosok perempuan yang punya sifat dan kepribadi seperti;

1. Memelihara adat dan sopan santun
2. Mengutamakan budi pekerti
3. Memelihara harga diri
4. Mengerti dan memahami aturan agama
5. Memelihara dirinya dan masyarakat dari dosa

Nah untuk saat ini, keistimewaan wanita Minangkabau sangat miris sekali. Harga diri yang selalu melekat pada diri wanita Minangkabau kian hari mulai memudar, tidak sedikit dari oknum-oknum yang memandang seorang wanita dengan sebelah mata, perilaku-perilaku tidak senonoh terkadang dengan mudah dilakukannya kepada wanita.

Berbagai macam media yang memberitakan kasus-kasus kriminal terhadap kaum hawa. Sebenarnya, jika dipikirkan bahwa kasus kriminal yang terjadi kepada seorang wanita itu, mungkin karena sikap danpakaiannya yang tidak sopan. Namun mirisnya, ada juga kasus-kasus kriminal yang terjadi kepada wanita yang berpakaian sopan. Jadi bisa dikatakan bahwa kasus kriminal itu terjadikarena oknum-oknum tersebut tidak lagi menghargai seorang wanita. Salah satunya kasus pelecehan seksual, banyak kasus pelecehan seksual yang terjadi kepada seorang wanita, khususnya di MinangkabauKedudukan dan harga diri seorangwanita Minangkabau tidak lagi menjadi keutamaannya pada saat ini.

Baru-baru ini, terjadi pelecehan seksual seorang dosen kepada mahasiswinya sendiri, dilansir dari Tagar.id perilaku tidak senonoh yang dialami oleh seorang mahasiswi disalah satu perguruan tinggi di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh oknum dosennya sendiri. Perilaku yang tidak senonoh itu terjadi pada hari Jumat, 10 Desember 2019.

Melihat banyaknya kasus-kasus seperti itutentu sangat mengkhawatirkan kedudukan yang sudah sejak lama dinobatkan kepada wanita Minangkabau oleh para pendahulu. Penempatan wanita Minangkabau yang begituistimewa, seperti yang tergambar pada filsafah adat yang berbunyi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, begitulah keselarasan adat dan agama terhadap perempuan yang sebagaimana termaktubnya surat khusus bernama An-Nisa (perempuan) dalam kitabullah (Al-Qur’an).

Menurut Dr. Erizal Gani, M.Pd seorang dosen dari Universitas Negeri Padang menyatakan bahwa kehormatan dan martabat seorang wanita Minangkabau itu dilindungi oleh setiap anggota kaumnya, bahkan oleh kaum yang lain. Wanita Minangkabau tidak akan dibiarkan tercela oleh kaumnya. Susah, senang, hina, dan malu seorang wanita Minangkabau akan dirasakan oleh pihak kaumnya. Kaum tidak akan membiarkan wanita Minangkabau mendapat cela dan melakukan perbuatan tercela. Bagi anggota kaum, kehormatan wanita kaumnya (bundo kanduang) adalah segala-galanya dan harus dipertahankan dengan cara apapun. Begitu berpengaruhnya seorang wanita di Minangkabau bagi kaumnya, namun jika sudah terjadi penyimpangan perilaku kepada seorang wanita Minangkabau, tentu juga akan berdampak kepada kaumnya.

Mengenai kasus di atas dapat disimpulkan bahwa tindakan kriminal dapat dilakukan oleh siapapun, tidak memandang status kekerabatan, sosial, dan lainnya. Padahal, ancaman untuk kasus tersebut cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan undang-undang pasal 289 dan pasal 294 KUHP tentang pencabulan, tersangka terancam penahanan lima tahun penjara. Namun oknum-oknumtersebut tetap saja melakukan aksinya, hal itu dapat dipicukarena banyak dari korban pelecehan seksual tersebut lebimemilih untuk bungkam dan merahasiakannya sendiri.

Sikap tersebutlah yang membuat para oknum-oknum itu merajalela dan senantiasa berulang kali terjadi. Pertimbangan dari korban pelecehan seksual itu didasari oleh beberapa aspek, seperti rasa malu yang nanti menghantuinya karena menjadi pembicaraan khalayak umum. Menjadi pembicaraan hal-hal seperti pelecehan seksual tersebut tentu memancing beberapa asumsi masyarakat terhadap korban, dari berbagai perspektif masyarakat tersebut pastinya banyak menimbulkan pro dan kontra. Bahkan ada juga beberapa oknum yang malah membalikkan fakta, dan menyalahkan korbannya, ya tentu si oknum memiliki pengaruh yang besar untuk membersihkan nama baiknya. Tidak itu saja, ketakutan yang dialami korban juga seperti ancaman secara langsung oleh oknum-oknum tersebut, sehingga korban tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Harga diri, kedudukkan, dan nilai seorang wanita Minangkabau harus dipertanyakan lagi, melihat perlakuan yang sangat miris terjadi begitu mudah terhadap wanita. Dimana lagi keistimewaan yang dahulunya diberikan kepada wanita Minangkabau. Untuk mempertahankan keistimewaan tersebutsebagai seorang wanita agar lebih berhati-hati dan lebih berani lagi untuk berbicara kebenaran. Untuk siapapun korban pelecehan seksual jangan terpaku lagi dalam diam, tuntut keadilan supaya para oknum-oknum tersebut mendapatkan ganjaran dan tidak lagi semena-mena terhadap kaum hawaJangan takut untuk berbicara selagi itu kebenaran, Indonesia adalah negara hukum yang akan menegakkan suatu keadilanKarena wanita adalah Bagai berlian yang dikurung di etalase kaca anti pecah dan bergembok, tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Wanita Minangkabau sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari berlian yang digambarkan. Berharganya dan istimewanya mereka selaras dengan harga diri yang perlu mereka pertahankan dengan teguh.

Seperti pahlawan perempuan dari tanah Minang, beliau adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Beliau salah seorangpejuang kemerdekaan Indonesia dan juga merupakan pahlawan nasional Indonesia. Beliau memperjuangkan persamaan hakantara pria dan wanita. Namun, selain itu beliau juga memperjuangkan terkait pendidikan dan juga politik. Nah dari sosok ibunda Hajjah Rangkayo Rasuna Said, betapa pentingnya harga diri seorang wanita itu, sehingga beliau memperjuangkan emansipasi wanita pada saat penjajahan Belanda pada masa dahulu. (***)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top