Trending | News | Daerah | SemenPadangFC

Olah Raga

TdS tak Melintas, Warga Pinggiran Gigit Jari

Pessel, Prokabar – Masyarakat pinggiran Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) mulai dari Kecamatan Batang Kapeh sampai Lunang Silaut yang berbatasan langsung dengan Provinsi Bengkulu, mesti urut dada serta tetap gigit jari, dimana helatan TdS tidak sampai di kampung mereka.

Perhelatan TdS tersebut, merupakan alek bagi warga Sumbar, seyogiyanya para pembalap TdS mesti melintasi Kecamatan yang dianggap jauh dari pusat kota Painan.

Salah seorang warga Lunang, Totok (37) menuturkan dengan nada yang kecewa, dalam hal TdS pemerintah kabupaten harus memprioritaskan para pembalap melintas di kecamatan yang memang jauh dari Painan.

“Kami kecewa dengan sikap Pemkab Pessel yang tidak memprioritaskan kampung kami tidak dilintasi oleh para pembalap, kami juga warga Pessel, jangan dibedakanlah,” ujarnya.

Lanjut Totok menuturkan dengan nada sabak, diakui memang, TdS ini sudah berlangsung 10 tahun, namun kecamatan yang ada di bagian selatan Pesisir ini sudah dianak tirikan oleh pemerintah. Sikap pemerintah ini sudah dianggap kejam melebihi kejamnya ibu tiri, sebab warga dipinghiran haus dengan iven yang bergengsi itu.

“Iven TdS itu, memang menarik bagi kami, kabarnya, orang yang datang dari belahan dunia, tentu kepuasan tersendiri bagi kami untuk berfoto dengan mereka, nasib kami tak seberuntung dengan orang disana (Painan). Bagi kami, mata ini tetap berpuasa melihat segala keindahan yang unik di helatan TdS, maka beruntung lah bagi warga kecamatan yang dilintasi oleh banyak orang asing,” katanya.

Akan tetapi, keinginan melihat TdS di kota Painan itu jarak tempuhnya sangat jauh, rasanya tak mungkin keinginan itu tetap dipaksakan, dari pada melihat TdS lebih baik ke ladang menyambung hidup seadanya.

Apa yang disampaikan Totok, tak jauh beda yang sampaikan Teguh warga Lengayang. “Sebenarnya apa sih bedanya kampung kami dengan kampung yang lain, kan sama-sama Pessel, kalau sikap ini diambil oleh pemerintah tentu ada perbedaan, ” katanya di warung kelontong.

Diakuinya, perhelatan TdS yang dilintasi oleh para pembalap tentu jalan mulus kepuasan warga untuk menonton terselip kenangan manis, hal itu terbalik banyak yang menjadi perbedaan, jalan di bagian selatan banyak yang berlubang.

Padahal, banyak warga pinggiran yang berharap TdS itu dilintasi oleh para pembalap, sebab anak-anak dipinggiran kota banyak mencintai olahraga pengayuh itu.

Lanjut Teguh, berharap, kalau bisa untuk tahun depan pemerintah harus memprioritaskan pembalap TdS bisa melintas di Kecamatan bagian selatan ini. Tika munkin anak-anak dan warga pergi ke Painan melihat itu, sebab, jaraknya sangat lah jauh.

Apalagi, dana untuk TdS ini menghabiskan lebih dari Rp500 juta demi TdS etape VIII, dana sebanyak itu tentu warga di Kecamatan bagian selatan ini banyak juga yang menyumbang melalui pajak.

Salah seorang tokoh masyarakat Batang Kapeh, Piril (59) mengatakan, untuk kontribusi daerah ke panitia pusat sendiri, terdiri dari biaya hadiah pembalap, biaya penginapan dan transportasi. Sebab, semua item kegiatan itu, diatur panitia dari pusat. “Terdiri dari hadiah Rp50 juta, kontribusi penginapan Rp75 juta. Dan ditambah, untuk transportasi Rp110 juta.

“Jadi bagi kami warga pinggiran ini mendapat apa, sementara kami adalah bagian dari Pessel, kok tak dipentingkan oleh pemerintah, daerah kami tak dilalui oleh para pembalap TdS, sementara iven itu penting bagi kami,” ujarnya.(min)

Berani Komen Itu Baik

Tirto.ID
Loading...
To Top