Rian Hadi Putra
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Imam Bonjol Padang
Tak bisa kita pungkiri, era digital telah mengubah hampir seluruh sektor kehidupan, termasuk di bidang informasi dan komunikasi. Kehadiran teknologi telah menggeser cara seseorang dalam mencari sumber informasi sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah Information-Seeking Behavior Change atau perubahan perilaku dalam mencari informasi.
Namun, pertanyaannya adalah: apakah perubahan ini membuat seseorang menjadi lebih bijak dalam menyerap dan memilah informasi? Ataukah justru sebaliknya membuat kita semakin terjebak dalam arus informasi yang cepat namun dangkal?
Data dan fakta justru menunjukkan bahwa Indonesia masih tergolong sebagai negara dengan tingkat minat baca yang rendah. Survei bertajuk Most Literate Nations in the World tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi membaca.
Survei dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2017 pun menunjukkan hal serupa; frekuensi membaca masyarakat Indonesia rata-rata hanya tiga hingga empat kali per minggu, dengan durasi sekitar 30 hingga 59 menit per sesi. Jumlah buku yang dibaca dalam setahun pun terbilang minim, yakni hanya sekitar lima hingga sembilan buku.
Hal ini sejalan dengan pendapat Dosen Literasi Media UIN Imam Bonjol Padang, Dr. Abdullah Khusairi, MA, bahwa membicarakan buku di tengah budaya baca yang rendah ibarat mencoba mengangkat batu besar seorang diri.
Budaya menghabiskan waktu berjam-jam di depan gawai telah menjauhkan masyarakat dari buku kecuali bagi segelintir orang yang memang penggila bacaan dan haus akan pengetahuan.
Siapa yang butuh guru atau buku tebal? Internet tahu segalanya bahkan hal-hal yang belum sempat kita tanyakan. Begitulah gambaran narasi sebagian orang yang sepenuhnya bergantung pada Google atau internet sebagai sumber informasi, tanpa proses verifikasi atau cek ulang.
Terlebih lagi, masyarakat Indonesia kini memiliki kebiasaan mengakses internet rata-rata selama tujuh jam per hari, melampaui angka global yang berkisar antara enam hingga tujuh jam, menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI.
Tujuh jam bersama internet—apakah Indonesia sedang menuju negara maju, atau justru negara ‘mager’? Luar biasa, kita bukan sekadar pengguna, tetapi sudah layak disebut sebagai pejuang internet tanpa lelah, dari bangun tidur hingga mata benar-benar letih. Scrolling dianggap seni, stalking sudah seperti riset, dan membaca caption kini dianggap sebagai bentuk baru literasi.
Namun ironisnya, minat baca kita justru semakin merosot. Bukan karena masyarakat tidak membaca, tetapi karena yang dibaca hanyalah judul, potongan tangkapan layar tanpa sumber, atau kutipan motivasi dari akun-akun yang tidak memiliki kredibilitas sebagai literatur.
Dengan hanya menonton dua video singkat tentang “teori komunikasi”, misalnya, seseorang bisa merasa sudah cukup berpengetahuan. Lalu, dengan mudahnya, menganggap buku teori komunikasi setebal 500 halaman tak lebih dari sekadar pajangan di rak perpustakaan.
Memang benar, kita hidup di zaman yang serba cepat—namun pemahaman justru semakin menipis. Jangan sampai hampir seluruh waktu kita, dari 24 jam dalam sehari, dihabiskan hanya untuk berselancar di dunia maya. Akan jauh lebih bermanfaat jika kita mulai meluangkan waktu untuk membaca buku, yang sumber informasinya jelas, mendalam, dan terverifikasi.
Sebab, pada akhirnya, pertanyaan yang patut kita renungkan bukan lagi “berapa lama kita online?”, melainkan “berapa lama kita benar-benar berpikir, merenung, dan membaca—selain dari layar?”
















