Sumsel dan Jambi Masih Diselimuti Kabut Asap Cukup Tebal

Penulis -

Kamis, 17 Oktober 2019 - 10:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar — Kondisi umum di Sumatra masih terdeteksi asap yang cukup tebal di Jambi dan Sumatra Selatan hal ini terlihat dari jarak pandang yang pendek dan kondisi cuaca yang berasap. Sedangkan di Kalimantan karhutla relatif sudah berkurang dan tidak terdeteksi asap di seluruh Kalimantan. Berikut adalah data jarak pandang dan cuaca di beberapa bandara di Sumatra dan Kalimantan yaitu Sibolga 3.2 km (berasap), Pekanbaru 2.0 km (udara kabur), Kerinci 3.0 km (berawan), Jambi 0.4 km (berasap), Palembang 0.8 km (berasap), Pontianak lebih dari 10 km (berawan), Sintang 5.0 km (udara kabur), Pangkalan Bun 6.0 km (berawan), Sampit 7 km (berawan), Palangkaraya lebih dari 10 km (berawan), dan Banjarmasin 5.0 km (udara kabur).

Menurut Kapusdatinmas BNPB Agus Wibowo berdasarkan pantauan hotspot dari LAPAN yang dianalisis oleh BMKG pada jam 07.00 WIB dengan tingkat kepercayaan 81% – 100%,, menunjukkan Riau 16 titik, Jambi 134 titik, Sumatra Selatan 89 titik, Kalimantan Barat 1 titik, Kalimantan tengah 21 titik, dan Kalimantan Selatan 8 titik.

“Terlihat jumlah hotspot yang cukup banyak di Papua yaitu 267 titik yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Merauke yaitu 263 titik yang tersebar di 17 distrik antara lain Animha, Elikobel, Ilwayab, Jagebob, Kaptel, Kimaan, Kurik, Malind, Merauke, Muting, Naukenjerai, Ngguti, Okaba, Sota, Tabonjo, Tanahmiring, Tubang, dan Waan.” ungkapnya melalui keterangan tertulis, Kamis (17/10).

Sementara itu, kemarin (16/10) terdeteksi 23 titik api terdeteksi di 11 Distrik di Kabupaten Merauke, Papua, Rabu (16/10/2019). Berdasarkan data laporan yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari Liaison Officer (LO) BNPB Satuan Danrem Merauke, rata-rata kebakaran lahan tersebut disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia untuk tujuan tertentu.

Adapun rincian wilayah yang terdeteksi di antaranya adalah 3 titik di Distrik Animha berupa lahan ladang karet dan akasia dan vegetasi rawa. Masyarakat sengaja membakar untuk membuka lahan akan tetapi upaya pembakaran tersebut dijaga oleh masyarakat supaya apinya tidak menjalar. Selain untuk membuka lahan, tujuan dari pembakaran lahan itu juga dilakukan masyarakan untuk mencari ikan gastor.

Kemudian 2 titik api ditemukan di Distrik Ilwayab masing-masing di Kampung Bibikem dan Kampung Padua. Kebakaran lahan tersebut disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan rumput pascakebakaran sebagai makanan utama rusa dan kanguru sebagai hewan buruan masyarakat sekitar. Selain itu pembakaran juga dilakukan sebagai tradisi meminta hujan.

Selanjutnya 3 titik api terpantau berada di Distrik Kurik masing-masing tersebar di Kampung Harapan, Kampung Ivimahad dan Kampung Salor Indah. Titik api tersebut terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat dengan tujuan untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen.

Sama halnya dengan Distrik Kurik, titik api yang terdeteksi di 2 lokasi di Distrik Malind masing-masing Kampung Kumbe dan Kampung Rawasari juga terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat dengan tujuan untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen.

Kemudian 2 titik api terdeteksi di Distrik Merauke dan 4 di Distrik Naukenjerai dari kebakaran ilalang dan jerami yang sengaja dibakar oleh orang tak dikenal dengan tujuan untuk membersihkan lahan pada musim kemarau dan mencari tikus. Selanjutnya 1 titik api terdeteksi di Kampung Okaba, Distrik Okaba berupa rawa kering yang sengaja dibakar untuk mencari ikan. Titik api selanjutnya terdeteksi di jalan Trans Papua di Distrik Sota dari kebakaran yang berupa ilalang dan semak di kanan-kiri jalan oleh oknum tak dikenal. Adapun tujuannya ialah untuk berburu dan tradisi adat.

Kemudian 2 titik api terdeteksi di Kampung Suwam Distrik Tabonji berupa lahan dan ilalang yang sengaja dibakar untuk merangsang pertumbuhan rumput sebagai makanan utama rusa dan kanguru, hewan buruan masyarakat. Hal serupa juga terjadi di Distrik Tanah Miring dan Distrik Kimaam, yang mana masyarakat masih memegang teguh tradisi berburu dengan cara tersebut selama bertahun-tahun.

Dalam mengatasi hal tersebut , sejauh ini pihak-pihak berwenang telah melakukan langkah upaya pemadaman bersama masyarakat menggunakan alat manual. Selain itu sosialisasi tentang bahaya kebakaran hutan dan larangan membuka lahan dengan cara membakar hutan juga telah dilakukan bersama unsur TNI/POLRI dan Pemerintah Daerah setempat. Kendati demikian masyarakat tetap melakukan pembakaran karena kepercayan mereka hingga saat ini. (*/hdp)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI
Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari
Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027
Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir
Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup
Merasa Dilecehkan Kadis, Staf Disparporabud Pasaman Lapor Polisi
Hasil 32 Besar Piala Dunia 2026; Kalah Adu Penalti dari Paraguay, Jerman Angkat Koper
Si Jago Merah Mengamuk Dua Unit Rumah Warga Lubuk Sikaping Tinggal Abu

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 14:35 WIB

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani : ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menag RI

Senin, 28 September 2026 - 09:52 WIB

Hujan Abu Vulkanik Gunung Merapi Guyur Bukittinggi dan Agam pada Malam Hari

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:51 WIB

Pemko Padang Wajibkan Warga Pilah Sampah Rumah Tangga Mulai 2027

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:14 WIB

Sungai Tumayo Kembali Meluap, Ratusan Rumah Warga Terancam Banjir

Selasa, 14 Juli 2026 - 15:48 WIB

Polda Sumbar Gelar Turnamen Mobile Legends, Jadi Ajang Atlet Esports Menuju Kapolri Cup

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB