Jakarta, Prokabar – Nilai tukar rupiah sejak Selasa 4 September 2018 hingga Rabu 5 September 2018 pagi terus bergerak fluktuatif. Satu dolar Amerika Serikat, saat ini dihargai dengan nilai yang hampir mendekati Rp15 ribu.
Kondisi ini ternyata tidak hanya dialami Indonesia. Kondisi perekonomian global menjadi salah satu faktor penyebab lemahanya nilai tukar mata uang terhadap dolar AS.
Hal itu diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan, “Ini adalah faktor eksternal yang bertubi-tubi, baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di Amerika, yang berhubungan dengan perang dagang AS-China, maupun yang berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina,” katanya dikutip dari laman resmi Sekretariat Kabinet.
Kendati begitu, Indonesia tidak berada dalam posisi aman. Menurut dia, semua pihak harus waspada dan hati.
Sejauh ini, Jokowi mengaku bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, dan dengan pelaku-pelaku usaha, karena koordinasi yang kuat akan menjadi kunci sehingga jalannya segaris semuanya.
“Kuncinya memang hanya ada dua, di investasi yang harus terus meningkat dan ekspor yang juga harus meningkat sehingga bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan,” sebut mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Untuk mendukung hal tersebut, Jokowi menjelaskan, bahwa pemerintah saat ini telah memproses dan sudah berjalan mandatory Biodiesel 20 (B20) yang berlaku per 1 September 2018. Kebijakan ini diyakini Presiden akan mengurangi impor minyak yang tidak sedikit. “Perkiraan kita hampir 5 miliar dolar AS,” ujarnya.
Selain itu, kalau CPO (minyak kelapa sawit) akan dipakai sendiri untuk B20, menurut dia nantinya suplai ke pasar akan menjadi naik, sehingga diharapkan harga CPO juga akan merangkak naik.(*/kp)
















