Simpai nan Lincah Kenapa Disiksa

Penulis -

Jumat, 2 April 2021 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROKABAR.COM, PADANG-  Simpai, kera berekor panjang. Di rimba lincah melompat.

Simpai tak jahat, namun kalau berombongan hiruk rimba oleh bunyinya.

Kenapa pula ada yang menyiksa Simpai nan lincah ini.

Primata langka itu bertungkai dan berlengan panjang. Bulunya halus warna kuning. Pelompat indah adalah primata Sumatera.

Lincah, suka berayun-ayun pada dahan kayu besar.

Berita Terkait

Diduga Terjadi di Lintau, Tiga Pemuda Siksa Hewan Dilindungi Simpai Sumatera

Biasanya kera berekor panjang itu turun ke tanah untuk minum di tepi sungai atau batang air.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Pada anak-anak sungai dalam rimba.

Di rimba, parak, ladang-ladang simpai hidup bersama siamang, beruk, cigak atau kera.

Makhluk lompat-melompat di pepohonan ini, terlincah dari kawan-kawannya.

Ekor simpai yang panjang, terlihat lucu. Binatang lucu itulah yang dilindungi, karena telah langka.

Beberapa anak bujang menyiksa hewan primata itu pula. Kabarnya di Lintau.

Video Penyiksaan Simpai

Sebelumnya media sosial geger dengan video penyiksaan seekor Simpai atau Surili.

Sebanyak tiga pemuda menyiksa Surili dan merekam penyiksaan itu dalam sebuah video untuk media sosial.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Video berdurasi 26 detik tersebut, memperlihatkan mereka menyiksa Surili di pinggir sungai.

Mereka tertawa kegirangan saat menyiksa Surli tersebut.

Tampak seorang laki-laki tanpa memakai baju dan celana jeans pendek menarik ekor Surili.

Primata itu terlihat tersungkur di tanah dan terkesan kesakitan.

Baca Juga Milenialisme.com

Ketiga pria tersebut malah tertawa saat Surlili menjerit.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Laki-laki yang memegang ekor primata langka tersebut tercebur ke sungai saat hewan itu menggelinjang.

Temannya yang membawa karung dan memakai kaos hitam mencoba menangkap primata itu lagi di sungai.

Sementara yang lainnya hanya menertawakan penyiksaan Surlili.

Sedangkan satu lagi teman memakai baju kaos hijau tua hanya menertawakan penyiksaan hewan.

Kepala BKSDA Resor Agam Ade Putra memastikan kejadian tersebut di Lintau.

Pihak BKSDA masih menelusuri kejadian hingga sekarang, Kamis (1/4/2021).   (nrs)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB