Shalat di Islamic Center California

Penulis -

Kamis, 16 November 2017 - 23:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat di Islamic Center. (*)

PERTEMUAN bisnis lanjutan baru akan dilaksanakan Senin (13/11), maka, kami memanfaatkan Minggu untuk melepas penat.

“Kita shalat Zuhur dulu,” kata Gubernur Irwan Prayitno. Maka Maksi Van setir kiri itu melaju ke arah Islamic Center, di 434 S Vermont Ave, Los Angeles.

Seorang Indonesia menyapa kami. Ia sudah belasan tahun di sana. Menyalami dan kemudian mempersilahkan rombongan kecil ini masuk ke masjid. Begitu masuk terdengar suara azan untuk Shalat Zuhur. Tak terkejar kami memisah membuat shalat jemaah sendiri setelah mereka selesai.

Bertindak jadi imam Irwan Prayitno. Saya saksikan jemaah penuh, banyak laki-laki. Mereka ramah dan bertanya satu dua. Seorang pria bule berjas mengangguk pada kami. Wajahnya bersih.

Di Amerika, negara tak mengurus agama, karena itu masjid tempat kami shalat dibuat oleh komunitas Islam di sana. Di situ pula anak-anak mengaji dan belajar agama dengan bacaan yang bagus.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Sudah dua hari kami di Amerika, shalat dilakukan dengan menjamak. Kalau di hotel kami tak bertanya arah kiblat pada orang namun pada HP.

Holywood

Sehabis shalat kami meluncur ke bukit Hollywood, yang acap terlihat dalam film itu, nyata rupanya. Merek tersebut di bukit sana, turis di bukit sini. Difoto dengan kamera HP tak terekam dengan jelas. Inilah pebukitan gersang, yang sama sekali tak layak dijual pada wisatawan. Kenyataanya hanya hipnotis merek Holywood di puncak bukit, menyemut orang ke sana setiap hari.

Hollywood Sign berdiri di bukit Lee kawasan kawasan pegunungan Santa Monica. Tinggi merek itu sekitar 14 meter. Menurut penduduk setempat, pada awalnya merek itu dibuat untuk promosi perumahan pada 1923. Sejak itu daya tariknya makin kuat hingga jadi objek kultural Amerika.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Kami meluncur ke Studio Universal, sayang Gubernur Irwan Prayitno kurang berminat ke sana. Bahkan Walikota Payakumbuh Riza Palepi tidur saja di mobil. Alhasil kami hanya berfoto saja di luar. Sudahlah, saya tonton saja film-film Amerika ini di HBO sesampai di Indonesia.

Suhu dingin makin terasa, saya pakai sebo biar tak dingin. Wisatawan lalulang hendak ke Hollywood. Mereka dari berbagai negara, melihat-lihat dan berbelanja. Kami saksikan keasyikan orang-orang asing itu.

Dan sekejap saja malam telah jatuh di Los Angeles. Makin dingin saja seperti juga malam sebelumnya.

Malam sebelumnya itu Los Angeles sudah dipeluk dingin. Belum larut, malah masih pukul 19.00, Sabtu (11/11) atau Ahad WIB.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Puas mengelilingi Farmers Market alias pasar petani, pejabat Indonesian Trade Publication Centre (lembaga di bawah Kemendag) di kota ini, Antonius A. Budiman menyarankan mencicipi es krim buatan rumahan sejak 1963. Inilah es krim nan nikmati, produk setua saya dan setua gubernur.

“Es krim setua kami,” kata saya. Es merek Bennetts ini laris manis.

Saya awalnya seperti domba yang memancil dari kelompoknya. Duduk-duduk di bawah Jam Gadang di depan pasar tersebut sembari menikmati kopi dan sepotong roti. Tak lama saya diimbau untuk makan. Sebelum makan itulah es krim tua tadi disuguhkan.

Di pasar petani ini menjual apa saja termasuk HP Iphone nan mahal itu.

(Khairul Jasmi/bersambung)

Disalin dari hariansinggalang.co.id

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB