Sepanjang Maret 2019 Ekspor Indonesia Naik 11,17 Persen

Penulis -

Senin, 15 April 2019 - 14:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar — Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan, sepanjang bulan Maret 2019, terjadi surplus neraca perdagangan Indonesia. Nilai total produk yang diekspor sepanjang Maret 2019 tercatat mencapai  14,03 miliar dollar AS atau meningkat 11,71 persen dibanding ekspor Februari 2019.

“Sementara total nilai impor mencapai 13,49 miliar dollar AS atau naik 10,31 persen dibanding Februari 2019, turun 6,76 persen bila dibanding Maret 2018,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, dalam jumpa pers di kantor BPS Pusat, Jakarta, Senin (15/11).

Dengan membandingkan total nilai ekspor dibandingkan dengan nilai impor sepanjang Maret 2019 itu, maka transaksi perdagangan Indonesia sepanjng mencatat surplus  sebesar 0,54 miliar atau 540 juta dollar AS.

Kepala BPS menyebutkan, pencapai total nilai ekspor sebesar 14,03 miliar dollar AS itu disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas 13,00 persen, yaitu dari 11.445,7 juta menjadi 12.933,6 juta. Sedangkan ekspor migas turun 1,57 persen dari 1.110,2 juta dollar AS menjadi 1.092,8 juta dollar AS.

“Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 10,44 persen menjadi 82,4 juta dollar AS dan ekspor minyak mentah 23,37 persen menjadi 120,3 juta dollar AS, sementara ekspor gas naik 3,35 persen menjadi 890,1 juta dollar AS,” ungkap Suhariyanto.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2019 terhadap Februari 2019, menurut Kepala BPS, terjadi pada bahan bakar mineral 401,3 juta dollar AS (24,21 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan/permata 31,8 juta dollar AS (4,84 persen).

Komoditas lainnya yang juga meningkat nilai ekspornya adalah besi dan baja 186,7 juta dollar AS (40,38 persen); bijih, kerak, dan abu logam 162,9 juta dollar AS (110,41 persen); kertas/karton 69,9 juta dollar AS (21,32 persen); serta bahan kimia organik 69,9 juta dollar AS (33,41 persen).

Sementara komoditas yang menurun selain perhiasan/permata adalah ampas/sisa industri makanan 27,3 juta dollar AS (38,12 persen); benda-benda dari besi dan baja 9,6 juta dollar AS (9,81 persen); lokomotif dan peralatan kereta api 8,2 juta dollar AS (76,55 persen); serta garam, belerang, kapur 6,2 juta dollar AS (18,30 persen).

Peningkatan ekspor nonmigas Maret 2019 jika dibandingkan dengan Februari 2019, lanjut Kepala BPS, terjadi ke semua negara tujuan utama, yaitu Tiongkok (28,47 persen); Jepang (13,52 persen); Taiwan (55,77 persen); Amerika Serikat (8,47 persen); (10,37 persen); Korea Selatan (8,21 persen); Thailand (5,73 persen); Malaysia (3,98 persen); Italia (17,56 persen); Belanda (5,24 persen); Australia  (8,51 persen); Jerman (6,54 persen)  dan Singapura (0,72 persen).

Mengenai realisasi nilai impor Indonesia sepanjang 2019, menurut Kepala BPS Suhariyanto, mencapai 13,49 miliar dollar AS atau naik 10,31 persen dibanding Februari 2019. Namun bila dibandingkan Maret 2018 turun 6,76 persen.

“Dari total angka tersebut, impor nonmigas Maret 2019 mencapai 11,95 miliar dollar AS atau naik 12,24 persen dibanding Februari 2019 dan turun 2,29 persen jika dibanding Maret 2018.  Impor migas Maret 2019 mencapai 1,54 miliar dollar AS atau turun 2,70 persen dibanding Februari 2019,” jelas Suhariyanto.

Peningkatan impor nonmigas terbesar Maret 2019 dibanding Februari 2019, menurut Kepala BPS itu, adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar 11,2 juta dollar AS (17,04 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung sebesar 47,8 jutadollar AS (67,32 persen).

Adapun tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Maret 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai 10,42 miliar dollar AS (29,01 persen), Jepang 3,97 miliar dollar AS (11,05 persen), dan Thailand 2,42 miliar dollar AS (6,75 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,21 persen, sementara dari Uni Eropa 8,37 persen.

Adapun penurunan impor migas, menurut Kepala BPS Suhariyanto, dipicu oleh turunnya nilai impor hasil minyak dan gas masingmasing sebesar 72,2 juta dollar AS (6,68 persen) dan 51,8 juta dollar AS (27,05 persen). Sementara nilai impor minyak mentah meningkat 81,2 juta dollar AS atau 26,03 persen. (*/hdp)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

50 Orang Pelaku Ekraf Ikuti Skill Up Laboratorium Kemen Ekraf Peduli
Bajaj-Maxride Resmi Hadir di Kota Bukittinggi, Hadirkan Solusi Transportasi Modern dan Peluang Penghasilan Baru bagi Masyarakat
5 Alasan Memilih Logitech Flagship Store Blibli untuk Perangkat Teknologi Anda
JNE Raih Penghargaan CSR Awards 2026 Lewat Akselerasi Logistik Kemanusiaan
Teguhkan Komitmen Tanggung Jawab Sosial, JNE Sabet Penghargaan Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026
DSI Resmi Menjadi BUMN, Dony Oskaria Umumkan Status Baru Perusahaan
Dony Oskaria: Danantara Andalkan Dividen BUMN, Bukan Jual Aset Negara
Ini 5 Laptop ASUS Zenbook Yang Enak Dipakai Kerja Ngebut

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:59 WIB

50 Orang Pelaku Ekraf Ikuti Skill Up Laboratorium Kemen Ekraf Peduli

Rabu, 24 Juni 2026 - 16:48 WIB

Bajaj-Maxride Resmi Hadir di Kota Bukittinggi, Hadirkan Solusi Transportasi Modern dan Peluang Penghasilan Baru bagi Masyarakat

Senin, 22 Juni 2026 - 21:40 WIB

5 Alasan Memilih Logitech Flagship Store Blibli untuk Perangkat Teknologi Anda

Senin, 8 Juni 2026 - 12:58 WIB

JNE Raih Penghargaan CSR Awards 2026 Lewat Akselerasi Logistik Kemanusiaan

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:04 WIB

Teguhkan Komitmen Tanggung Jawab Sosial, JNE Sabet Penghargaan Indonesia CSR Brand Equity Awards 2026

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB