Oleh : Firdaus
Penikmat Sepakbola & Dosen Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat
Perhelatan Piala Dunia Rusia 2018 sudah menyelesaikan babak penyisihan dan babak 16 besar. Kini tinggal 8 negara yang akan bertanding untuk melaju ke babak berikutnya.
Sejak awal, banyak kejutan tersaji dalam perhelatan akbar sepakbola sejagat ini. Negara-negara bertabur bintang dan diunggulkan, berguguran di babak penyisihan, termasuk sang juara bertahan Jerman yang harus pulang setelah kalah besar dari Korea Selatan. Sebaliknya, negara-negara tanpa pemain bintang dan tidak diunggulkan, keluar sebagai pemenang dan melaju hingga babak perempat final.
Melihat sejenak ke belakang, kejutan piala dunia sebenarnya telah terjadi sejak kualifikasi. Negara-negara unggulan seperti Chili, Belanda, Italia, dan lainnya bahkan tidak mendapatkan tiket untuk berlaga di Rusia. Puncak kejutan adalah tersingkirnya sang juara bertahan di babak penyisihan. Suasana semakin dramatis dengan terseok-seoknya beberapa negara unggulan dalam babak penyisihan. Hasilnya, 7 negara dari 10 besar peringkat FIFA sudah pulang dan gagal melaju ke perempat final. Kini hanya Brazil, Belgia dan Prancis yang merupakan 10 besar peringkat FIFA yang bertahan dan tengah bersiap melakoni babak perempat final.
Strategi Sepakbola
Mencermati berbagai kejutan dalam perhelatan piala dunia 2018 cukup menarik dalam kacamata yang berbeda. Dengan melihat melihat sepakbola tidak hanya semata karena faktor nama besar sebuah negara atau (lebih parah) pemain bintang semata, banyak hal bisa dipetik. Salah satu sudut pandang menarik dalam melihat sepakbola adalah dengan melihatnya secara menyeluruh sebagai permainan sebuah tim di bawah komando seorang pelatih. Sebagai permainan kolektif, sepakbola adalah kolektifitas aktor dengan strategi permainan yg diracik oleh pelatih untuk dimainkan secara bersama sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing.
Dalam kacamata peremainan kolektif, kemenangan tipis dan bahkan kekalahan beberapa negara unggulan dengan pemain bintang, bagi penulis adalah hasil dari strategi dan taktik permainan kolektif sebuah tim.
Sebaik apapun pemain, jika tidak disertai oleh strategi dan taktik permainan, maka ada dua kemungkinan, pertama menghasilkan permainan yang buruk dan tidak terarah. Kedua menghasilkan permainan yang rapuh dan mudah ditaklukkan oleh lawan. Kedua hasil tersebut telah terbukti pada permainan negara-negara unggulan yang lebih dulu pulang.
Dalam permainan sepakbola, selain pelatih sebagai peracik strategi permainan, aktor utama pelaksanan strategi adalah individu yang mampu mendistribusikan dan mengalirkan bola pada setiap pemain sesuai strategi permainan yg disusun. Dalam sepakbola mereka disebut dengan playmaker. Playmaker adalah jantung permainan yang mengeksekusi strategi permainan secara taktis di lapangan. Oleh karenanya, permainan sepakbola tanpa playmaker yang handal dan cerdas akan melahirkan permainan tanpa siasat.
Perhatikanlah kekalahan negara unggulan dengan banyak pemain bintang, atau sebaliknya kemenangan negara tak diunggulkan. Simak kembali pola permainan mereka dengan memperhatikan aliran bola.
Maka akan diketahui peran vital seorang playmaker. Kecuali jika melihat sepakbola hanya berfokus pada permainan sang idola semata, bukan permainan kolektif sebuah tim. Demikianlah sepakbola, ia sebuah kolektifitas dengan strategi mapan yang diterapkan secara taktis di lapangan oleh semua pemain dengan ritme yang diatur oleh seorang playmaker.
Mereplika Strategi Sepakbola
Dalam berbagai hal, strategi dan taktik bagi manusia yang zoon politicon adalah keniscayaan. Keniscayaan strategi dan taktik dalam kehidupan sehari-hari karena manusia hidup secara kolektif. Secara sosiologis, tidak ada kehidupan kolektif yang tidak memiliki tujuan. Sebaliknya, suatu tujuan lebih mudah dicapai jika dilakukan secara kolektif melalui kerja tim. Persoalannya kemudian adalah tentang cara sebuah tim dikelola untuk mancapai tujuan.
Strategi dan taktik sepakbola bisa dianggap sebagai minitur strategi dan taktik dalam kehidupan kolektif sehari-hari, mulai dari kehidupan kolektif peling kecil (keluarga), hingga kehidupan kolektif yang maha luas seperti negara. Menurut penulis, strategi sepakbola reaplicable diterapkan dalam berbagai kontestasi, seperti ekonomi dan politik.
Dengan menjadikan sepakbola sebagai miniatur, untuk memenangkan kontestasi tim yang solid dan strategi yang matang adalah prasyarat. Tanpa tim yang solid dan strategi yang matang, sulit untuk memenangan kontestasi apapun. Secara taktis, tim yang solid dan strategi yang mapan juga membutuhkan seorang playmaker lapangan yang akan mengeksekusi strategi secara taktis sesuai dengan pergerakan permainan di lapangan.
















