Bola

Semen Padang FC: Antara November Rain dan Desember Kelabu

Oleh: Rizal Marajo

(Wartawan Utama)

12 November 2017, tanggal yang tak akan terlupak oleh pendukung Semen Padang. Hari itu, Semen Padang FC terdegradasi ke Liga 2, diiringi lagu legend November Rain-nya GNR. Air hujan bercampur air mata bersatu di wajah-wajah yang bersedih hati, tatkala kemenangan 2-0 di matchday 34 atas PS TNI, jadi kehilangan makna.

Tiga angka yang tak cukup menyelamatkan Semen Padang, ketika disaat bersamaan Persib Bandung “manghadiahkan” tiga angka kepada Perseru Serui. Peluit panjang berbunyi, tangis pun pecah di Stadion H. Agus Salim yang hari itu full penonton.

Di tribun, suporter menutup wajah terisak-isak berurai air mata. Ditengah lapangan, pemain terkapar dan tertunduk lesu, badan lemas serasa tak bertulang. Di bench, jangan disebut lagi. Hanya ada tatapan kosong tim pelatih, official, dan para pemain yang ada.

Dua tahun kemudian
Bulan November sudah berlalu, Semen Padang yang baru promosi lagi ke Liga 1 musim ini, kembali terjebak dalam situasi nyaris sama seperti tahun 2017. Jurang degradasi menganga di depan mata.

Sudah pekan ke-30, Kabau Sirah masih duduk di dasar klasemen. Artinya, tinggal empat laga yang akan menentukan nasib Semen Padang. Bertahan atau terluncur kembali ke Liga 2.

Secara matematis peluang bertahan di Liga 1 masih ada. Ada banyak istilah yang bisa menggambarkan posisi dan peluang Semen Padang. Bisa disebut bak telur diujung tanduk, butuh keajaiban, setipis kulit ari, mission imposible, dan sebagainya.

Memang belum ada tangis yang betul-betul pecah di bulan November, karena secuil asa masih ada. Tapi sabak-sabak di mata mulai menggenang, dan sepertinya menunggu untuk jatuh berderai. Mudah-mudahan, jatuhnya nanti karena bahagia tim ini selamat dari terkaman degradasi.

Semen Padang, klub kebanggaan Ranah Minang itu, selama 39 tahun telah menjaga marwah sepakbola Sumbar di kancah nasional. Hari ini, sesungguhnya mereka alam situasi yang teramat sulit. Tidak hanya sulit dengan sisi teknis dan hasil di lapangan, tapi juga sulit untuk sisi prospek kompetisi, bahkan masa depan tim itu sendiri.

Musim ini mungkin perjalanan kompetisi paling sulit yang dialami tim ini sepanjang sejarahnya. Hulunya adalah beban kompetisi yang begitu berat dari sisi finansial. Setidaknya hal itu diakui sendiri oleh sorang Komisaris PT Semen Padang.

Itulah handicap terbesar Semen Padang musim ini. Sehingga dari awal musim, kondisi itu yang membuat tiga hal vital yang harus dilakukan sebelum kompetisi tidak bisa berjalan maksimal, yakni rekrutmen, persiapan, dan finansial. Proses tidak akan membohongi hasil, itu benar adanya.

Tapi sudahlah, Desember sudah masuk. Bulan di penghujung tahun ini adalah bulannya finish kompetisi. Mungkin tak banyak yang bisa diperbuat Semen Padang dalam situasi sulit sekarang.

Satu persatu lawan sudah masuk garis finish untuk tetap eksis di kasta tertinggi, bahkan sudah ada yang memutus pita juara di garis finish. Sementara, Semen Padang masih tertatih-tatih berlari untuk mencapai garis itu. Terseok-seok dengan sisa-sisa tenaga dan semangat yang masih ada. Entah sampai entah tidak di garis aman itu, siapa yang tahu?

Turun kasta dari kompetisi atau terdegradasi, apapun alasannya adalah sebuah catatan kelam sebuah klub sepakbola dimanapun. Degradasi adalah simbol ketidakmampuan, kemunduran, bahkan adalah sebuah kegagalan.

Pastinya tak ada pendukung Semen Padang yang ingin “tragedi” 12 November 2017 itu terulang kembali tahun ini, terlepas dari apapun faktornya hingga Semen Padang terjebak dalam situasi yang sangat sulit ini.

Tapi yang jelas selama bola itu masih bundar, di sepakbola memang akan selalu muncul fairytale atau “dongeng-dongeng” yang tak terduga. Di akhir kompetisi akan selalu ada cerita tentang happy end atau sebaliknya tragis dan dramatis.

Ditengah setitik asa untuk bisa bertahan, Ranah Minang hanya ingin melihat akhir cerita yang happy end untuk tim ini. Kompetisi masih berjalan menuju garis akhir, fairytile itupun terus merambat seolah mengiringi tim yang berjalan ringkih.

Tidak banyak yang diminta pendukung klub, bisa bertahan di Liga 1 adalah sebuah capaian yang lebih dari juara. Masih banyak pendukung tim yang optimis dan memelihara asa untuk ini.

Semuanya berharap pelatih dan pemain tetap berjuang sampai akhir, sampai titik maksimal yang bisa dilakukan di empat laga sisa. Mudah-mudahan ada “kekuatan” yang mengiringi. Setelah itu, Que Sera sera, apa yang akan terjadi, terjadilah.

Semoga November Rain 2017 tak menjadi Desember Kelabu 2019.(*)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top