Sijunjung, Prokabar – Terhitung sudah hampir tiga tahun pandemic Covid-19 masih belum berakhir. Segala kebijakan pemerintah mulai dari Perbatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Setiap kebijakan diiniasiasi pemerintah pasti ada evaluasi demi masyarakat tidak keberatan dan tidak merugikan masyarakat.
Jangka lama pandemi ini membuat masyarakat harus bisa hidup berdampingan dengan virus Covid-19, dengan mengikuti protokol kesehatan secara preventif. Maupun mengikuti prosedur yang ditetapkan apabila memiliki gejala-gejala Covid-19.
Seperti di Nagari Tanjung Gadang, Kecamatan Tanjung Gasang, Kabupaten Sijunjung. Dahulunya masyarakat yang terkonfirmasi positif di Nagari Tanjung Gadang melakukan isolasi mandiri di Muaro Sijunjung yang berjarak sekitar 20 KM dari Tanjung Gadang. Kira-kira perjalanan mobil dari Tanjung Gadang ke sana menghabiskan waktu satu jam lebih.
Kebijakan ini cukup menguntungkan dari segi pelayanan isolasi, namun secara personal tempatnya jauh sekali dari keluarga, kemudian pengurusan pindah memindahkan barang-barang sehari-hari yang ribet.
Namun apabila masyarakat memilih isiolasi mandiri di rumah, tidak semua masyarakat bisa menjalankannya secara ketat, sehingga berisiko tinggi menularkan kepada anggota keluarga sekitarnya.
Nagari Tanjung Gadang cukup banyak memiliki sarana dan prasarana yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pendukung fasilitas pasien-pasien covid-19. Agar tetap mendapat pelayanan dan fasilitas yang mumpuni di tingkat Nagari tanpa harus jauh-jauh ke Muaro.
Salah satunya adalah membuat program Rumah Isolasi untuk masyarakat. Inisiasi program ini dilakukan Nagari dengan melibatkan mahasiswa KKN Unand dalam proses persiapan rumah isolasi tersebut. Hal ini disambut baik oleh Heru Dibyo Laksono selaku Pembimbing Lapangan, dengan segera menyarankan mahasiswa untuk melakukan persiapan dan koordinasi.
Program rumah isolasi ini dibuat dengan tujuan tadi, yaitu bahwa tidak semua lapisan masyarakat mampu menjalankan isolasi mandiri di rumah sendiri. Agar tidak berisiko tinggi menularkan pada anggota keluarga lain, lebih baik terpisah beberapa minggu di rumah isolasi.
Rumah isolasi ini direncanakan akan melibatkan beberapa tenaga kesehatan untuk segi pelaksanaan dan pelayanannya. Apabila anggota keluarga ini memberikan makanan ataupun menitipkan pesan kepada pasien, tentu tidak dapat bertemu langsung, maka tenaga kesehatan berperan dalam regulasi komunikasi pasien dengan keluarga, kebutuhan pasien selama isolasi mandiri, dan lain sebagainya.
Tanpa berpikir panjang, seperti yang dilaporkan oleh Reza Yuneri Putri dan Gito Syahputra mahasiswa KKN langsung mengambil inisiatif dengan beberapa kegiatan yaitu. Pertama sekali agenda untuk melancarkan dan menyukseskan program rumah isolasi ini adalah berdiskusi dengan perangkat-perangkat nagari, kemudian dilanjutkan survei sarana yang bisa dijadikan sebagai rumah isolasi, kemudian memikirkan bagaimana lingkungan luar dan dalam rumah nyaman dan layak bagi pasien nantinya, memikirkan perangkat apa saja yang terlibat, memikirkan regulasi penggunaannya, dan jangka Panjang kedepannya.
Berdasarkan hasil survei perangkat Nagari mengenai sarana yang akan dijadikan Rumah isolasi mendapatkan keputusan, bahwa ada rumah dinas lama yang tidak ada lagi yang tinggal di sana. Dari pada terbengkalai tanpa dimanfaat dalam jangka waktu yang lebih lama lagi, lebih baik dikelola menjadi rumah isolasi, karena secara bangunan rumah ini kokoh, sejuk dan aman.
Namun, masih perlu pembersihan bagian dalam dan luar ruangan supaya layak dihuni oleh masyarakat yang ingin isolasi mandiri. Pada tanggal 30 Juli 2021 mulai turun kelapangan perangkat Nagari beserta jajaran dan anggota KKN Unand untuk ikut berkontribusi membersihkan dan merapikan rumah isolasi tersebut agar dapat dipergunakan dengan baik dan memberi kenyamanan pada masyarakat.
Pergerakan dimulai dari dalam ruangan yang didalamnya sudah sedikit berdebu dan perlu dibersihkan agar saat dipakai tidak menimbulkan penyakit lainnya dan masuk ke kategori penyakit berbasis lingkungan akibat buruknya sanitasi lingkungan, kemudian merapikan ruangan masing-masing yang ada didalam rumah, mengeluarkan perangkat perangkat yang sudah rusak dan tidak dapat dipakai lagi, memperbaiki kayu-kayu yang sudah lapuk diganti dengan yang lebih kokoh, dan membuka semua jendela serta ventilasi yang ada di rumah agar udara terus berganti.
Sambil membersihkan rumah isolasi mahasiswa KKN juga melihat bagaimana kecukupan ventilasi rumah tersebut, apakah sudah baik atau masih berpotensi pengap, dan langsung mengusulkan saran kepada perangkat Nagari.
Pergerakan selanjutnya adalah observasi lingkungan sekitar rumah isolasi, yaitu memperhatikan apakah ada disekitar lingkungan berpotensi terbentuknya genangan air, apakah ada semak-semak liar yang mengganggu disekitar rumah isolasi, apakah ada batang pohon yang berpotensi membahayakan rumah isolasi dan penghuninya nanti, serta merapikan kayu-kayu yang ditumpuk didepan rumah isolasi.
Setelah dilakukan observasi, agar pembersihan dan kegiatan merapikan rumah isolasi cepat selesai, tugas masing-masing anggota KKN harus dibagi. Ada yang menimbun lubang yang berpotensi membentuk genangan air, membuang air yang sudah tergenang, menghilangkan botol-botol bekas, drum bekas, maupun ember-ember yang menengadah dan berpotensi membuat air tergenang.
Ada juga yang bertugas menebang pohon-pohon yang berpotensi membahayakan rumah isolasi maupun penghuninya nanti, ada yang merapikan halaman dan membebaskan halaman dari rerumput liar, dan lain sebagainya.
Pada akhirnya tepat pukul 12.00 WIB rumah isolasi ini telah rapi dan bersih. Namun masih ada beberapa ruangan dan interior serta sarana dan prasarana yang harus ditambahkan nantinya termasuk juga air untuk mandi dan mencuci serta buang hajat, lampu, sarana istirahat, dan lain sebagainya.
Setelah selesai berkontribusi dihari itu, semua perangkat nagari yang hadir saat itu beserta anggota kelompok KKN istirahat bersama-sama disediakan minuman oleh perangkat nagari, mengonsumsi buah segar langsung dipetik dari pohonnya, dan berdiskusi kecil-kecilan terkait rumah isolasi dan covid-19.
Diskusi dilakukan dengan cara saling bertukar pendapat satu sama lainnya karena anggota KKN tidak hanya dari satu jurusan tetapi berbagai jurusan, ada yang kedokteran ada yang ekonomi, ada yang ilmu budaya, ada yang ilmu sosial, ilmu alam, sehingga segala perbincangan dengan perangkat nagari menjadi luas dan membuka wawasan.
Terakhir Heru Dibyo Laksono berharap dengan adanya Rumah Isolasi Mandiri ini nantinya mampu memberikan pelayanan yang baik bagi warga nagari Tanjuang Gadang untuk mengatasi sendiri terlebih dahulu permasalahan Covid yang dihadapi sebelum ditangani oleh pihak yang lebih luas, karena dalam pandangan beliau jika nagari kuat maka pandemi ini dapat segera kita Atasi. (***)
















