Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Robohnya Moral Kami Menghadapi Pandemi

Dibaca : 365

Oleh : Abdullah Khusairi

Doktor Pengkajian Islam

dan Pengajar di UIN Imam Bonjol

Cek Poin arus orang dalam rangka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mendatangkan masalah di berapa tempat. Pelayanan publik dadakan ini cenderung dijalani dengan tindakan berlebihan, semena-mena, arogan. Lebih buruk lagi, ada yang memposting data personal dari akun petugas secara personal pula. Akibatnya dibawa ke ranah hukum.

Check point akhirnya dinilai membuat gaduh. Bilik percakapan dan media sosial heboh dibuatnya. Ada yang mengganggap sebagai remeh-temeh peristiwa tersebut, ada pula yang tidak. Argumen-argumen diluahkan, tergantung pandangan masing-masing. Pada satu sisi, memerlihatkan kegaduhan yang tak perlu, sedangkan pada sisi lain, bisa melihat cara orang dalam mengemukakan sesuatu. Kadang terasa lucu, kadang kelihatan logika yang terkilir. Ada yang objektif, ada yang subjektif. Biasalah.

“Petugas ‘kan juga tidak boleh dengan kata-kata kasar. Apalagi memposting di media sosial data pribadi orang, itu juga tidak benar,” ujar Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno dilansir topsatu.com, menanggapi persoalan kegaduhan di Posko Cek Point PSBB tersebut.

Ada yang Roboh

Ini bukan cerita pendek (Cerpen). Hanya judulnya diambil dari sebuah cerpen yang amat dikenal, Robohnya Surau Kami (1956) ditulis sastrawan AA. Navis (1924-2003). Cerpen itu menceritakan ironi pemahaman religiusitas yang dangkal dan hingga hari ini masih terjadi. Sedangkan tulisan ini, hendak mengupas tentang sesuatu yang diam-diam telah roboh dalam sendi-sendi berkehidupan sejak wabah tiba.

Pandemi Covid-19 menghalau rutinitas, merenggut nyawa, meruntuhkan sendi-sendi ekonomi, mengguncang pemahaman teologis, dst. Siapapun itu, telah merasakan pergeseran cara pandang dan cara hidup dengan berbagai skala dan pengalaman secara pribadi. Agaknya, inilah yang membuat kecerobohan dalam bertindak, bersikap, dari yang seharusnya menjadi tidak semestinya.

PSBB yang awalnya kebijakan penuh optimisme, senyatanya dijalani tidak sama dengan maksud dan tujuan awal. Ajakan tetap di rumah tidak sejalan pula waktnya dengan dana jaminan pengaman sosial (JPS) yang dikucurkan. Birokrasi memang selalu ribet untuk mengurus publik karena mencakup banyak aturan, orang, juga lembaga. Kemakluman seperti ini tidak tidaklah merata.

Ada yang roboh dalam pikiran dan hati kita oleh sebuah benda yang tidak kelihatan. Sesuatu itu bernama nilai-nilai inti yang mesti dihormati bersama. Merujuk Jonathan Haidt (2012), paling tidak ada enam nilai inti yang mesti terjaga dan dijaga bersama demi tercapainya kehidupan yang damai, yaitu: care, fairness, liberty, loyality, authority, sanctity. Nilai-nilai inilah sepertinya sedang digerogoti oleh ego sektoral dan kepentingan kekuasaan.

Politik kekuasaan sejatinya membantu kokohnya bangsa namun kelihatannya melakukan korosi terhadap nilai-nilai inti yang harus dihormati bersama. Baik yang sedang berkuasa maupun yang tidak berkuasa harusnya memupuk peduli terhadap bahaya yang mengancam keselamatan bersama (care) nyatanya saling menyalahkan. Apalagi yang berkuasa, harusnya mengedepankan rasa keadilan dan kepantasan (fairness) serta membangun empati yang tinggi tetapi sering sebaliknya. Gagal memahami batin publik.

Sedangkan publik, yang hari ini memang telah mendapatkan kebebasan (liberty), hendaknya menjunjung tinggi hak-hak dasar tersebut dengan menggunakannya sebaik-baiknya, bukan dengan semena-mena. Berkuasa dan tidak berkuasa harusnya tetap bersetia (loyality) dengan institusi, tradisi dan konsensus demi mencapai tujuan bernegara dan berbangsa, bukan menegasikannya.

Sedangkan yang kian masif terkikis di media sosial, respek terhadap otoritas yang disepakati bersama (authority). Media sosial kita seperti hukum rimba, katanya mengkritisi tetapi nyatanya mencaci-memaki yang memekarkan kebencian. Terakhir, seiring dengan disrupsi di berbagai bidang kehidupan sosial, juga telah menggerus nilai-nilai yang dipandang suci dan utama (Sanctity). Hampir tak ada yang sakral di media sosial, termasuk matinya kepakaran.

Tahan Diri

Hidup bersama dalam bingkai keindonesiaan, bangsa-negara (nation-state) ini tak kunjung redam dari kegaduhan demi kegaduhan. Setiap hari, media sosial kita seperti ingin meruntuhkan negara. Mujurlah, itu masih di dunia maya namun kita mesti awas agar tidak menjadi nyata. Ada banyak konflik dan runtuhnya rezim berawal dari api konflik yang kecil dan membesar karena provokasi di media sosial. Arab Spring salah satu contoh dari berhasilnya propaganda dan provokasi orang-orang yang menginginkan kekacauan sebuah negeri melalui hoax dan fakenews. Alangkah bodohnya jika itu kita lakukan di negeri ini.

Sebagai sebuah wabah, Pandemi Covid-19 menuntut semua orang menahan diri, agar terhindar dari virus juga dari persoalan sosial, hukum, dan runyamnya negeri ini. Perlu kesadaran bahwa semua orang menjalani kehidupan pahit karena wabah ini. Tak perlu resah, perlu kebersamaan sebagai kekuatan, saling menghormati dan saling membantu. Bangkitkanlah moral dan semangat, melalui peran masing-masing secara maksimal dan optimal, berlandaskan niat ibadah menuju kemenangan melawan wabah ini. Jauhi prasangka buruk, jangan semata berperan karena project dan kepentingan kelompok. Hidup butuh kebersamaan di atas tadah kemanusiaan. Jangan jadikan ego sektoral, ego politik, sebagai virus baru yang merobohkan bangsa. Semoga kita selamat dari wabah, selamat menunaikan ibadah puasa, menahan diri dari semua godaan buruk. Amin. (*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top