Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama)
12 November 2017, tanggal yang tak akan terlupakan oleh pendukung Semen Padang. Hari itu, Semen Padang FC terdegradasi ke Liga 2, diiringi lagu legend November Rain-nya GNR.
Air hujan bercampur air mata bersatu di wajah-wajah yang bersedih hati, tatkala kemenangan 2-0 di matchday 34 atas PS TNI, jadi kehilangan makna.
Tiga angka yang tak cukup menyelamatkan Semen Padang, ketika disaat bersamaan Persib Bandung “manghadiahkan” tiga angka kepada Perseru Serui. Peluit panjang berbunyi, tangis pun pecah di Stadion H. Agus Salim yang hari itu full penonton.
Di tribun, suporter menutup wajah dengan syal kebanggaan “kabau sirah”, terisak-isak berurai air mata. Ditengah lapangan, pemain terkapar dan tertunduk lesu, badan lemas serasa tak bertulang. Di bench, jangan disebut lagi. Hanya ada tatapan kosong tim pelatih, official, dan para pemain yang ada.
Dua tahun kemudian
Setelah mampu bangkit dan promosi lagi ke Liga 1 musim 2018, Semen Padang justru kembali terjebak dalam situasi nyaris sama seperti tahun 2017. Jurang degradasi menganga di depan mata musim 2019. Akhirnya Que sera-sera, apa yang terjadi terjadilah.
13 Desember 2019 di Stadion Madya Magelang yang menjadi kandang PSIS Semarang, nasib Semen Padang Fc di Liga 1 2019 ditentukan. Dua gol PSIS Semarang dari Bruno Silva dan Hari Nur Yulianto, menamatkan harapan Semen Padang untuk bertahan di kasta tertinggi.
Desember Kelabu, klub kebanggaan Ranah Minang itu, selama 39 tahun telah menjaga marwah sepakbola Sumbar di kancah nasional, hanya numpang lewat satu musim di Liga 1. Mereka terjerembab lagi ke kasta dibawahnya.
Turun kasta dari kompetisi atau terdegradasi adalah sebuah catatan kelam sebuah klub sepakbola dimanapun. Degradasi adalah simbol ketidakmampuan, kemunduran, bahkan adalah sebuah kegagalan.
Dua tahun kemudian
Hari ini, 29 November 2021, Semen Padang FC kembali masuk dalam situasi yang teramat sulit, bahkan jauh lebih mengenaskan dari dua degradasi sebelumnya tahun 2017 dan 2019.
Tidak hanya sulit dengan sisi teknis dan hasil di lapangan, tapi juga sulit untuk sisi prospek kompetisi, bahkan masa depan tim itu sendiri. Kini tim legend Indonesia ini berada di bibir jurang degrdasi.
Bukan liga 1! tapi di Liga 2 pun Semen Padang FC harus terjebak dalam zona menakutkan sebuah kompetisi itu. Kabau Sirah ibarat sedang menuliskan sebuah perjalanan menuju sejarah terburuknya sepanjang masa.
Bagaimana tidak, tak bisa bersaing dan terdegradasi di kompetisi Liga 1 memang hal yang buruk. Tapi tak bisa bersaing dan terancam degradasi di sebuah grup Liga 2 yang hanya diisi enam tim, itu jauh lebih buruk.
Sebuah tim yang sudah berusia 40 tahun, dan sudah mencatat prestasi dua kali masuk perempatfinal kompetisi Asia, sudah jungkir balik berpuluh tahun melintas badai kompetisi Indonesia dari tahun ke tahun, harus masuk ke situasi yang sejatinya, sangat memalukan!
Musim 2021 ini, siapapun pasti tak pernah membayangkan Semen Padang FC akan seperti ini. Banyak faktor selama persiapan yang membuat Semen Padang dipandang layak berkibar di Liga 2 tahun ini.
Materi pemain jempol, berpengalaman, kombinasi pemain muda dan pemain senior bakal menjanjikan. Bahkan Semen Padang Fc disebut-sebut sebagai salah satu skuad paling bernilai tinggi di kompetisi tahun ini. Kurang apa lagi?
Jangan tanya lagi soal persiapan, ketika tim-tim lain memilih rehat berlatih, karena faktor mengganasnya covid-19, Semen padang tetap melaksanakan latihan dengan intensif.
Tak ada keraguan, sisi pramusim ini dianggap bakal menjadi nilai plus Semen Padang dibanding kompetitornya. Persiapan yang matang adalah 50 persen keberhasilan di kompetisi, seperti itu teorinya.
Tapi apa yang terjadi di pertarungan yang sesungguhnya, benar-benar jauh dari harapan. Entah ini dosa siapa?
Mungkin bisa diartikan mulai dari manajemen tim, tim pelatih, pemain, mungkin juga suporter atau pendukung tim.
Simple-nya, manajemen mungkin yang tak cakap mengurus tim, pelatih yang tak berdaya membuat tim kompetitif, pemain yang abai dengan tanggungjawabnya, atau pendukung yang kurang maksimal memberi support di belakang tim.
Tapi yang jelas selama bola itu masih bundar, di sepakbola memang akan selalu muncul fairytale atau “dongeng-dongeng” yang tak terduga. Di akhir kompetisi akan selalu ada cerita tentang happy end atau sebaliknya tragis dan dramatis.
Kompetisi berjalan, fairytile itupun merambat. Tapi sudahlah, Desember sudah masuk. Bulan di penghujung tahun ini adalah bulannya finish kompetisi. Mungkin tak banyak yang bisa diperbuat Semen Padang dalam situasi sulit sekarang.
Satu persatu lawan sudah masuk garis finish untuk tetap eksis di kasta kedua, bahkan sudah ada yang mendapat tiket lolos ke babak berikutnya, Sementara, Semen Padang masih tertatih-tatih untuk mencapai garis itu.
Terseok-seok dengan sisa-sisa tenaga dan semangat yang masih ada. Entah sampai entah tidak di garis aman itu ketika tim bernama KS Tiga Naga yang hanya butuh hasil imbang bersiap menghadang, siapa yang tahu?
Pastinya tak ada pendukung Semen Padang yang ingin “tragedi” 12 November 2017 dan musibah 13 Desember 2019 itu terulang kembali pada 29 November 2021, sehari jelang Ulang Tahun klub ke-41
Tak ada yang suporter Semen Padang yang ingin moment 41 tahun klub ini, ‘dirayakan” dengan sebuah catatan paling kelam sepanjang sejarah, terdegradasi ke Liga 3 alias amatir.
Tidak banyak yang diminta pendukung klub, bisa bertahan di Liga 2 adalah sebuah capaian yang lebih dari juara. Semuanya berharap pelatih dan pemain tetap berjuang sampai akhir, sampai titik maksimal yang bisa dilakukan.
Semoga November Rain 2017 yang menjadi Desember Kelabu 2019, tak kembali menjadi November Rain 2021.(*)
















