Pupuk Hijau Gliricidia dan Tithonia Untuk Budidaya Bawang Merah di Nagari Sungai Batang

Penulis -

Selasa, 7 Desember 2021 - 07:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sungai Batang, Prokabar – Gliricidia (tumbuhan perdu) dan Tithonia (tumbuhan semak) dapat tumbuh dengan mudah diberbagai jenis tanah dan tempat. Vegetasi ini dianggap tumbuhan liar yang tidak berguna dan biasanya dibuang oleh petani. Akan tetapi, sebenarnya keduanya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah bagi pertumbuhan tanaman.

Hal itu pula kami Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Pertanian, Universitas Andalas (Unand) di Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Membantu kelompok pemuda dan kelompok tani untuk pengembangan usaha perekonomian berupa pemberdayaan berkelanjutan. Selain sektor pembinaan pemandu wisata religius, juga beragam pengembangan agrowisata menjadi prodak utama nantinya.

Mitra kerja Tim Pengabdian Masyarakat ini adalah Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH), Kelompok Tani Sehati dan Petani Bawang Merah bernama Irfan Caniago Dt. Rajo Mangkuto. Tahapan pengembangan dan pemanfaatan telah dimulai. Sebelumnya, tahapan pemetaan potansi, penelitian unsur tanah serta struktur tanah, telah dilakukan terlebih dahulu.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Terkait pupuk hijau Gliricidia, juga dikenal sebagai daun hujan-hujan (nama lokal) dan tithonia yang dikenal sebagai daun pahit (nama lokal), banyak ditemukan di Nagari Sungai Batang. Kedua vegetasi ini mengandung nitrogen (N) yang cukup tinggi (3-4% dari bahan keringnya). Tumbuhan ini juga mengandung unsur P, K serta unsur hara lainnya yang dibutuhkan tanaman. Walaupun konsentrasinya tidak setinggi pupuk sintetis, tetapi unsur haranya lengkap serta menambah kandungan bahan organik (humus) pada tanah. Sehingga sangat cocok untuk membantu tanaman Bawang Merah di Sungai Batang.

Di samping sebagai sumber hara tanaman, gliricidia juga dimanfaatkan petani sebagai sumber pakan ternak. Sedangkan tithonia, bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati, karena daunnya yang pahit sehingga tidak disukai oleh hama. Pemanfaatan tithonia dan gliricidia dilakukan dengan cara memangkas bahagian hijauan tanaman yang masih lunak.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Bahan tersebut kemudian dicincang sekitar lebih kurang 5 cm, lalu ditebarkan secara merata di permukaan tanah sebanyak ±1 kg bahan segar/m2 (= 20 t bahan kering/ha) dan kemudian dibenamkan ke dalam tanah dengan cara mencangkul tanah.

Di dalam tanah bahan tumbuhan tersebut akan melapuk dan menyediakan unsur hara. Sehingga ke dua jenis tanaman ini disebut tanaman pupuk hijau.

Penambahan pupuk hijau ke dalam tanah bukan saja mampu meningkatkan hara bagi pertumbuhan tanaman pertanian, tetapi juga mampu memperbaiki kondisi fisik tanahnya.

Tanah yang padat bisa dilonggarkan dengan penambahan pupuk hijau. Pupuk hijau sebagai salah satu sumber bahan organik bagi tanah, akan membentuk aggregat yang remah dan memantapkannya, serta memperbaiki lingkungan perakaran tanaman.

Dengan demikian, penambahan Gliricidia dan Tithonia pada tanah mampu membuat tanaman bisa tumbuh lebih baik karena akar tanaman bisa berkembang lebih leluasa, terutama untuk tanaman umbi-umbian. Tanaman bawang merah merupakan salah satu tanaman hortikultura yang menghasilkan umbi.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Tanaman berumbi membutuhkan tanah yang gembur agar umbinya bisa berkembang baik. Tanah akan gembur jika ditambahkan BO ke dalam tanah, salah satu sumber BO tanah yaitu pupuk hijau.

Tumbuhan pupuk hijau bisa ditanam di sekitar lahan pertanian, sehingga tidak membutuhkan transportasi untuk membawa pupuk ke lahan, karena pupuk organik kebutuhannya jauh lebih banyak dibanding pupuk sintetis.

Di samping itu, pupuk hijau Gliricidia dan tithonia bisa ditanam sebagai pagar lorong dalam budidaya tanaman semusim di daerah berlereng.

Oleh sebab itu, tanah yang hanyut dari lokasi penanaman (lorong) bisa ditahan oleh tumbuhan pupuk hijau, dan erosi yang akan terjadi bisa diantisipasi. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB