Sungai Batang, Prokabar – Gliricidia (tumbuhan perdu) dan Tithonia (tumbuhan semak) dapat tumbuh dengan mudah diberbagai jenis tanah dan tempat. Vegetasi ini dianggap tumbuhan liar yang tidak berguna dan biasanya dibuang oleh petani. Akan tetapi, sebenarnya keduanya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah bagi pertumbuhan tanaman.
Hal itu pula kami Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Pertanian, Universitas Andalas (Unand) di Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Membantu kelompok pemuda dan kelompok tani untuk pengembangan usaha perekonomian berupa pemberdayaan berkelanjutan. Selain sektor pembinaan pemandu wisata religius, juga beragam pengembangan agrowisata menjadi prodak utama nantinya.
Mitra kerja Tim Pengabdian Masyarakat ini adalah Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH), Kelompok Tani Sehati dan Petani Bawang Merah bernama Irfan Caniago Dt. Rajo Mangkuto. Tahapan pengembangan dan pemanfaatan telah dimulai. Sebelumnya, tahapan pemetaan potansi, penelitian unsur tanah serta struktur tanah, telah dilakukan terlebih dahulu.
Terkait pupuk hijau Gliricidia, juga dikenal sebagai daun hujan-hujan (nama lokal) dan tithonia yang dikenal sebagai daun pahit (nama lokal), banyak ditemukan di Nagari Sungai Batang. Kedua vegetasi ini mengandung nitrogen (N) yang cukup tinggi (3-4% dari bahan keringnya). Tumbuhan ini juga mengandung unsur P, K serta unsur hara lainnya yang dibutuhkan tanaman. Walaupun konsentrasinya tidak setinggi pupuk sintetis, tetapi unsur haranya lengkap serta menambah kandungan bahan organik (humus) pada tanah. Sehingga sangat cocok untuk membantu tanaman Bawang Merah di Sungai Batang.
Di samping sebagai sumber hara tanaman, gliricidia juga dimanfaatkan petani sebagai sumber pakan ternak. Sedangkan tithonia, bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati, karena daunnya yang pahit sehingga tidak disukai oleh hama. Pemanfaatan tithonia dan gliricidia dilakukan dengan cara memangkas bahagian hijauan tanaman yang masih lunak.
Bahan tersebut kemudian dicincang sekitar lebih kurang 5 cm, lalu ditebarkan secara merata di permukaan tanah sebanyak ±1 kg bahan segar/m2 (= 20 t bahan kering/ha) dan kemudian dibenamkan ke dalam tanah dengan cara mencangkul tanah.
Di dalam tanah bahan tumbuhan tersebut akan melapuk dan menyediakan unsur hara. Sehingga ke dua jenis tanaman ini disebut tanaman pupuk hijau.
Penambahan pupuk hijau ke dalam tanah bukan saja mampu meningkatkan hara bagi pertumbuhan tanaman pertanian, tetapi juga mampu memperbaiki kondisi fisik tanahnya.
Tanah yang padat bisa dilonggarkan dengan penambahan pupuk hijau. Pupuk hijau sebagai salah satu sumber bahan organik bagi tanah, akan membentuk aggregat yang remah dan memantapkannya, serta memperbaiki lingkungan perakaran tanaman.
Dengan demikian, penambahan Gliricidia dan Tithonia pada tanah mampu membuat tanaman bisa tumbuh lebih baik karena akar tanaman bisa berkembang lebih leluasa, terutama untuk tanaman umbi-umbian. Tanaman bawang merah merupakan salah satu tanaman hortikultura yang menghasilkan umbi.
Tanaman berumbi membutuhkan tanah yang gembur agar umbinya bisa berkembang baik. Tanah akan gembur jika ditambahkan BO ke dalam tanah, salah satu sumber BO tanah yaitu pupuk hijau.
Tumbuhan pupuk hijau bisa ditanam di sekitar lahan pertanian, sehingga tidak membutuhkan transportasi untuk membawa pupuk ke lahan, karena pupuk organik kebutuhannya jauh lebih banyak dibanding pupuk sintetis.
Di samping itu, pupuk hijau Gliricidia dan tithonia bisa ditanam sebagai pagar lorong dalam budidaya tanaman semusim di daerah berlereng.
Oleh sebab itu, tanah yang hanyut dari lokasi penanaman (lorong) bisa ditahan oleh tumbuhan pupuk hijau, dan erosi yang akan terjadi bisa diantisipasi. (rud)
















