Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Prof Taufik Abdullah, Genap Berusia 85 Tahun


Catatan Khairul Jasmi

Dibaca : 124

Prof Taufik Abdullah merupakan ilmuwan “tempat bertanya” karena ilmunya yang luas tentang berbagai hal terutama soal sejarah Indonesia dengan segenap simpang-simpangnya. Pria 85 tahun, sampai 2021 ini tetap aktif. Otaknya terus bekerja untuk dirinya dan untuk orang banyak.

Suatu hari saya datang ke LIPI di Jakarta, menemui profesor ini, untuk keperluan penulisan buku anaknya, Edwin Hidayat. Saat itu, ia sudah pensiun, tapi masih aktif menulis dan bekerja. Kesan saya sebagai ‘anak muda’ Pak Taufik, merupakan tokoh yang segala ilmunya sudah di luar kepalanya.
Sosoknya, sudah tak asing lagi di kalangan akademisi Indonesia, apalagi di jurusan sejarah. Ribuan bahkan mungkin jutaan sarjana sejarah di Indonesia, sering merujuk buku-buku Prof Taufik. Menulis akan terasa berbobot, jika begini: “merujuk Taufik Abdullah…”

Di kampus saya, bacaan paling berguna yang ditulis Taufik Abdullah, antara lain Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927-1933), 1971 dan Manusia Dalam Kemelut Sejarah, 1983.Tentu saja sederatan panjang buah karya Taufik yang lain.

Prof. Dr. H. Taufik Abdullah gelar Tuangku Pujangga Diraja adalah anak nagari Rao-Rao, terpaut sekitar 15 Km dari kota kecil, Batusangkar, Tanah Datar, Sumatera Barat. Rao-Rao merupakan salah satu nagari tua di Minangkabau dan putera-puterinya banyak sekali yang merantau. Istrinya, juga berasal dari nagari yang sama.

Taufik muda merantau ke Jakarta untuk bekerja sekaligus mengembangkan sayapnya. Alumni UGM dan Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat itu, bekerja di LIPI dan kemudian menjadi amat terkenal karena kepiawaiannya.

Taufik tinggal di sebuah rumah yang teduh terpaut beberapa puluh meter saja dari gedung LIPI. Semasa Presiden Abdurrahman Wahid, Prof Taufik dipercaya memimpin lembaga bergengsi itu. Suami dari Rasidah dan ayah tiga anak ini, punya kenangan yang menarik, antara lain soal mobil Nissan 1974 yang tak ber-AC. Mobil itu adalah kawannya kemana-mana di Jakarta.

Suatu hal yang banyak orang tidak tahu, tatkala membawa gajinya pulang dalam amplop, ia akan mengeluarkan gaji itu, kemudian dibagi-bagi ke beberapa amplop lainnya. Tiap bulan begitu, sepanjang ia menerima gaji. Amplop-amplop itu yang sudah berisi uang itu, yang peruntukkannya sudah jelas itu, dijejer. Untuk apa? Biaya dapur, besin, sedekah, zakat dan untuk dunsanak serta amplop biaya sekolah anak-anak. Pembagian gaji amplop per amplop itu, dilakukan oleh istrinya. “Itu diatur istri,” kata Taufik pada saya.

Jadi hidup Taufik bukan soal ilmu saja, penelitian saja sepanjang waktu. Ia adalah ayah yang baik, mamak yang sabar, karena di rumahnya pernah diam 19 orang ponakan-ponakannya sampai semua pergi satu persatu, bekerja atau bersuami. Ia adalah pria Minangkabau yang ingat famili dan tak pernah jadi konsumsi publik.

Pria yang lahir di Bukittinggi, 3 Januari 1936 ini, adalah sejarawan Indonesia. Selain pernah menjabat sebagai Ketua LIPI periode 2000-2002, juga menjadi Wakil Presiden Asosiasi Sosiologi Internasional Dewan Riset Sosiologi Agama. Ia disegani di dalamdan luar negeri. Seperti diakui rekan-rekan saya sarjana dan doktor sejarah, tulisan Taufik Abdullah adalah rujukan. Tulisannya manis dan renyah tapi dalam. Gaya tulisannya khas, yang tak tertirukan.

Kawan-kawannya, luar biasa banyaknya. Pada usia 85 tahun,Taufik masih segeh. Selalu bermain sama cucunya. Gaek ini, terlihat betapa riang bersama cucu-cucunya itu, sesuatu yang sama-sama dirasakan seorang kakek, apapun profesinya. Apalagi,anak-anaknya sukses meniti karir, tak ada lagi yang mesti dipikirkan. Walau begitu, yang namanya ilmuwan dan peneliti, tentu saja ingin dan ingin terus menyumbangkan ide dan pikirannya untuk bangsa yang ia saksikan terus berkembang dengan segenap sengkarutnya itu.

Sebuah acara via zoom membedah buku berjudul 85 Tahun Taufik Abdullah, persis pada hari ulang tahunnya, Minggu 3 Januari 2021. Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Obor ini, merupakan sebuah perspektif intelektual dan padangan publik pada tokoh yang tak pernah terasing dari masyarakat itu.

Saya asik mendengar Taufik Abdullah bicara yang cara bertuturnya itu hebat. Apalagi membaca tulisannya. Sumatera Barat, bangga pada tokoh ini,sebangga pada tokoh-tokoh lain. Saya rasa Indonesia juga.

Jika Anda datang ke LIPI atau mau melangkah beberapa meter ke perumahan di belakagnya, akan terlihat sebuah rumah “yang biasa saja.” Di sanalah ia diam bersama istrinya menghabiskan hari tuanya. Anak, menantu dan cucunya akan datang, mungkin di akhir pekan atau kapan saja. Ketika rumahnya sudah riuh, saat itulah air muka Taufik kian berseri-seri. Hidup memang tak rumit-rumit amat. ***


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top