Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

“Pribadi Hebat” Buya Hamka (Bagian I)

Dibaca : 632

Agam, Prokabar — Kepada pemuda: Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkam pribadimu (Buya Hamka: Pribadi Hebat/ Jayakarta, 1950).

Setelah suatu bangsa yang telah terjajah selama ratusan tahun mencapai kemerdekaan dengan perjuangan yang hebat, munculah beberapa orang berjalan di permukaan. Mereka terdiri hanya beberapa orang, namun bernilai ratusan orang. Orang-orang seperti itulah yang membentuk sejarah hebat dan besar karena berani bertanggung jawab dan tangkas menetapkan suatu jalan yang akan ditempuh. Karena itu, boleh dikatakan bahwa pikiran umum dibentuk oleh beberapa orang saja.

Kita teringat kepada nama-nama besar bangsa ini, seperti Soekarno dan Hatta yang memenuhi catatan sejarah kemerdekaan sejak awal sampai akhir hayatnya, Syahrir yang menciptakan Perjanjian Linggarjati, Muso yang memberontak di Madium, Hamengku Buwono, Roem, dan lain-lainnya yang ikut berjuang.

Jika orang seperti itu (sebelum namanya muncul) dapat berdiri di tengah-tengah orang banyak, apakah kelebihan dirinya daripada orang lain, sementara dia juga merasakan lapar dan haus serta sedih dan bahagia? Bahkan, pada masa-masa ketenarannya, mereka masih tetap manusia. Jelas, kemanusiaannya terlihat ketika mereka dilepaskan dari ikatan tradisi atau pakaian resmi, yakni ketika mereka duduk bercengkerama dan bersenda gurau dengan teman-temannya.

Lalu, dinamakan letak kemanusiaannya yang pada suatu waktu mampu mencapai derajat luar biasa?

Sekarang, baru tampak beberapa orang yang terkenal karena kemerdekaan atau karena kepandaiannya berpolitik. Padahal, di bidang lain pun juga ada orang-orang seperti itu. Ingatlah Sasda dalam perlombaan ekonomi, Chairul Anwar dalam bersisir, Dr. H. A. Karim Ambrullah dalam keteguhan beragama, Adinegoro dalam jurnalistik angkatan tua dan Muchtar Kubis dalam angkatan muda.

Jangan hanya pada kalangan orang yang terkenal saja. Mari kita tilik petani yang turut berjuang memberikan harta bendanya pada masa perjuangan. Atau tukang becak yang mendapat penghormatan istimewa dari Bungkarno ketika beliau pindah dari Yogyakarta ke Istana Gambir. Ataupun para pegawai pamong praja yang bekerja di kantor-kantor. Semua itu dan semua nama lain juga selalu terlintas di hadapan mata, terdengar di telinga, dan terbaca dalam surat-surat kabar. Mengapa ada nama-nama itu? Padahal masih banyak lagi yang tidak tersebut, yang tidak terkenal?

Setiap hari kita tidak lepas membicarakan orang-orang terkenal atau tidak terkenal, orang yang sangat luar biasa atau orang yang biasa saja. Kita akan mengatakan kemuliaan dan kekurangan seseorang. Seorang pencuri atau perampok besar yang berani merampok rumah orang di siang hari dan di tempat ramai pun tidak akan lepas dari perbincangan kita. Sahabat karib kita yang paling kita cintai atau musuh kita yang dipandang sangat buruk dan paling dibenci, semuanya menjadi pembicaraan kita, semuanya mendapatkan kupasan kita.

Hal apakah yang kita bicarakan?
Jika kita membicarakan Presiden Soekarno misalnya, hal apakah yang kita bicarakan? Mengapa setiap hari Soekarno tidak lepas dari mulut orang? Baik yang memuji maupun yang mencela.

Yang kita bicarakan adalah “diri” orang. Diri yang manakah itu? Tubuhnya yang gagahkah? Padahal, banyak juga orang yang lebih gagah darinya. Kepandaiannya berpidatokah? Padahal, ucapannya yang dikeluarkannya pun dapat ditiru oleh orang lain. Bahkan, pidato orang lain lebih berisi dari pidatonya. Itulah suatu pengkajian yang telah lama sekali.

Diogenes pernah dituduh sebagai orang tua yang gila karena selalu membawa lentera, ditiliknya semua wajah orang yang ditemui karena ia sedang mencari. Mencari! Mencari sesuatu yang sulit dioerolehnya, yaitu mencari orang! Siang hari dia membawa lampu, ditiliknya wajah orang karena di dalam manusia yang banyak itu belum juga ia menemukan apa yang dicari, yaitu yang sebenarnya manusia!

Ali bin Abi Thalib pernah menyairkan, “Manusia dipandang dari segi tubuh hanya sama Ayahnya Adam dan Ibunya Hawa. Jika mereka membanggakan keturunan-keturunannya pun sama, tanah dan air,”.

Jika demikian, mengapa timbul keistimewaan, baik atau mulia pada beberapa orang atau beberapa golongan? Mengapa ada yang datang ke dunia tidak terkenal dan hilang dari dunia pun tidak terkenal? Tidak pantaslah lagi kita menuduh Diogenes karena kita pun sedang mencari apa yang dicarinya!

Orang yang luar biasa dalam sejarah adalah orang yang menciptakan pekerjaan yang besar-besar, baik yang sangat mulia maupun yang menjadikan dia sangat terkenal karena sangat hina seperti Alcapone di Amerika.

Karena ilmu pengetahuan tentang manusia belum maju, orang yang luar biasa disisihkan dari golongan manusia. Jika ia orang baik, derajatnya disamakan dengan malaikat, bahkan disamakan dengan Tuhan atau di-Tuhan-kan, dan dibuat patung-patung berhala untuk memuja namanya. Sebaliknya, jika dia penjahat, ia disamakan dengan setan.

Semakin lama semakin majulah ilmu pengetahuan. Sejak 2000 tahun lalu, Socrates menyuruh mempelajari manusia dan mengetahui siapa dirinya sendiri. Ajaran Socrates dilanjutkan orang hingga sekarang. Kemanusian dikupas, diri manusia dikupas. Binatangkah ia semata-mata ataukah setan semata-mata, atau kumpulan keduanya? Dikupas apa yang dinamakan “Nafsu, aku dan diri” serta apa yang dinamakan “Akal, pikiran, cita-cita kemanusiaan dan perasaan” dan lain-lain. Pada akhirnya, orang dapat mempelajari siapa awak, tubuh ia atau nyawakah? Atau kumpulan kedua-duannya? Sifat kelebihan atau kekurangan yang ada padanya?

Di sanalah pokok pembicaraan tentang “diri pribadi”. Ketika ilmu pengetahuan tentang hal itu belum dipopulerkan dikalangan orang-orang yang berilmu (karena membaca buku berbahasa asing) lebih cepat diterima oleh akalnya jika disebut dalam bahasa Inggris, personality atau dalam bahasa Belanda disebut persooinlijkheid.

Sebelum zaman Jepang dan kemerdekaan, telah dicoba untuk mengindonesiakan kata itu disebut dengan menyebut “diri pribadi”. Akan tetapi, pada zaman kemerdekaan orang mencari kata-kata yang baru, yang mulanya dirasakan tidak tepat, tetapi semakin lama semakin tepat dan semakin diterima pikiran untuk mengartikan bahasa asing itu, diri pribadi. Akhirnya lebih singkat dan masuk dalam pikiran orang, Pribadi.

Kemajuan pribadi suatu bangsa dan kemerdekaannya tidak akan tercapai jika belum ada kemajuan dan kemerdekaan pribadi individu. Tanda-tanda menunjukan bahwa derajat kemajuan dan kejayaan yang didapat oleh beberapa orang manusia di bidang yang dimasukinya, dapat pula dicapai oleh orang lain asalkan orang itu mempunyai pribadi yang kuat. Kemajuan pribadi sendiri akan menentukan tempat kita yang pantas dalam pergaulan hidup di bidang apa pun.

(Buya Hamka, Dalam Pribadi Hebat, Jayakarta/Januari 1950-Penerbit Gema Insani, April 2019).


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top