Perspektif Masyarakat yang ‘Dibajak’ Media

Penulis -

Rabu, 29 November 2023 - 23:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fadhlil Wafi, S. Sos                                                                                                                                                    (1000 kata kecuali referensi)

Konsep framing dari Eriyanto memberikan benang merah bahwa media memiliki cara tersendiri untuk mengolah suatu realitas menjadi kehendak realitas yang diinginkan media tersebut. Framing juga dipakai untuk memberikan pemahaman tertentu kepada masyarakat di mana hal itu telah dibingkai dengan sedemikian rupa untuk kepentingan media itu sendiri (R. M. Hasibuan et al., 2020).

Media menyeleksi setiap realitas tertentu menjadi sebuah berita dengan dalih menyajikan informasi yang aktual dan faktual. Setiap kata demi kata disusun serapi mungkin agar kepentingan yang ‘diselipkan’ tidak teridentifikasi.

Media pun mampu mengubah cara pandang masyarakat dengan menghadirkan berita yang terkini yang kemudian dicocoklogikan dengan isu-isu tertentu. Sehingga akan menghadirkan berita dari sudut pandang terbaru yang lebih sensasional.

Framing tidak hanya diterapkan oleh media-media berbasis internet. Namun, juga digunakan oleh media berbasis audio-visual seperti televisi.

Kekuatan media televisi tidak kalah berbahaya dengan media berbasis internet dalam memframing atau membingkai suatu realitas. Bahkan media televisi bisa dianggap lebih berbahaya karena informasi yang disajikan secara makroskopis dapat menembus langsung ke panca indra penglihatan dan pendengaran manusia.

Demi  melanggengkan kepentingannya yang berorientasi pada ekonomi, media televisi tidak pernah segan menghadirkan berita ataupun acara bertajuk kontestan. Acara bertajuk kontestan biasanya memiliki karakteristik perlombaan yang hasilnya adalah para pemenang terpilih.

Dewasa ini, acara kontestan pada televisi tidak lagi murni sebagai sebuah perlombaan untuk mencari para pemenang lomba tersebut. Namun, kini acara kontestan yang dianggap menghibur dan sesekali menegangkan itu telah bergeser menjadi jalur kampanye tokoh politik agar bisa menjadi pemenang pada Pilpres 2024.

Fakta tersebut dapat ditonton pada sebuah siaran televisi swasta RCTI yang mendatangkan seorang tokoh politik yang juga calon presiden Ganjar Pranowo di akhir acara kontestan memasak Master Chef Indonesia. Ganjar ikut memberikan hadiah kepada pemenang.

Sebelum memberikan hadiah, Ganjar diberi panggung oleh juri untuk menyampaikan pesan-pesan kepada para grand finalis.

Dalam pesan yang disampaikan, Ganjar memberikan pujian serta menyebut para grand finalis sebagai anak muda kreatif dan inovatif yang mampu mengisi ruang kreativitas di Indonesia. Kemudian Ganjar bersama Liliana Tanosoedibjo yang merupakan istri dari pemilik RCTI, Hary Tanosoedibjo diberi kesempatan memberikan hadiah kepada grand finalis.

RCTI disebut-sebut juga melakukan rasis dalam acara tersebut. Sebab, dari kedua grand finalis yang maju, para juri memilih pemenangnya adalah keturunan Tionghoa, di mana para juri juga merupakan keturunan Tionghoa dan para pemenang Master Chef Indonesia season-season sebelumnya juga keturunan Tionghoa.

Jika ditelisik lebih dalam, Ganjar Pranowo tidak memiliki track record sebagai seorang yang ahli dalam memasak, tapi kenapa Master Chef Indonesia tahun 2023 ini mengundang Ganjar untuk memberikan hadiah pada kompetisi tersebut?

Pertanyaan tersebut wajar untuk diajukan, sebab realitas yang ada mengarahkan kepada “Ganjar menggunakan media untuk berkampanye dan membajak perspektif masyarakat”.

RCTI dimiliki oleh seorang pengusaha dan juga Ketua Partai Persatuan Indonesia (Perindo) yaitu Hary Tanosoedibjo. Dia juga menjadi bagian dari koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga bagian dari ‘rumah’ Ganjar Pranowo yang maju sebagai calon presiden.

Dalam konteks Ekonomi-Politik, Ganjar Pranowo bersama Hary Tanosoedibjo memanfaatkan media untuk kepentingan ekonomi-politiknya. Setiap berita maupun acara diselipkan identitas Ganjar Pranowo. Lagi lagi Ganjar disebut melakukan blunder untuk kesekian kalinya.

Kondisi ini sangat memprihatinkan untuk masyarakat yang merupakan konsumen dari setiap tayangan televisi. Hal ini senada dengan yang dikatakan (S. Hasibuan, 2015) bahwa media dan teknologi komunikasi berperan besar membawa produk budaya, teknologi, sosial, politik secara global ke dalam kehidupan masyarakat, bahkan menyusup ke ruang-ruang keluarga

Kondisi ini bisa saja dapat diredamkan bagi masyarakat yang memiliki kecerdasan mengkritisi setiap apa yang ditayangkan dalam televisi. Tetapi, berbeda dengan masyarakat yang tidak memiliki kemampuan critical thinking, mereka akan menjadi ‘bulan’bulanan’ media. Sudut pandang mereka pun turut dibajak dan disabotase media.

Biasanya masyarakat yang mudah terpapar framing media melalui televisi adalah masyarakat yang bertempat tinggal di daerah perkampungan atau yang lokasinya terbatas akses sosialisasi terkait literasi media.

Perspektif adalah salah satu unsur penting yang dimiliki oleh manusia. Perspektif berperan besar sebelum suatu tindakan bisa terjadi. Dengan perspektif juga, seseorang yang berkarakter baik bisa berubah menjadi orang yang berkarakter buruk.

Artinya, sudut pandang tidak bisa dianggap sepele dalam memandang suatu hal. Jika sudut pandang masyarakat dikontrol oleh media, secara perlahan masyarakat tersebut akan ikut terjerumus ke dalam kondisi yang belum tentu diinginkannya itu.

Sejauh ini, sudut pandang masyarakat masih belum bebas dari ‘bajakan’ media. Apa yang ditayangkan media, maka secara tidak langsung akan berdampak terhadap sudut pandang masyarakat.

Kita bisa melihat fenomena tersebut saat ini. Para capres dan caleg ‘berbondong-bondong’ memberikan kue iklan ke media-media besar di Indonesia untuk ‘membajak’ perspektif mayarakat. Langkah ini dilakukan dengan tujuan ‘menggeser’ secara perlahan dan berkelanjutan pilihan capres dan caleg oleh masyarakat.

Bukan tidak mungkin, pendukung capres A berpindah haluan mendukung capres B. Hal ini menandankan ‘pembajakan’ sudut pandang masyarakat berhasil dilakukan. Contohnya relawan Ganjar-Mahfud yang berpindah haluan mendukung Prabowo-Gibran.

Mereka menilai Prabowo-Gibran adalah figur pemimpin yang paling berdaulat di Indonesia. Fakta ini tentu saja tidak terjadi begitu saja. Media memilki dominan besar menyuguhkan pemberitaan tentang Prabowo-Gibra yang berhasil merubah haluan para pendukung Ganjar-Mahfud.

Cerdas dan memiliki critical thinking dalam mengolah informasi dibutuhkan masyarakat agar memiliki pendirian dalam menerima informasi dan terhindar dari ‘pembajakan’ sudut pandang media. Hal ini sama seperti teori pengolahan informasi yang dikemukakan oleh Robert Milis Gagne. Konsep ini menjelaskan bagaimana individu menerima informasi dari lingkungan dengan cara menyimpan dan memproses informasi di otak layaknya sebuah komputer  (Baran & Davis, 2015)

Cara ini diharapkan dapat menghadirkan banyak sudut pandang kepada masyarakat dalam menerima dan mengonsumsi informasi. Sehingga, masyarakat tidak terbelenggu oleh sebuah echo chamber atau ruang bergema yang lebih fatalnya bisa mengakibatkan masyakarat fanatik terhadap suatu isu atau persoalan.

Fenomena media dewasa ini seharusnya juga menjadi perhatian bersama, di mana media telah dikuasai oleh para tekno-kapitalis. Masyarakat tidak lagi dipandang sebagai komunikan aktif, melainkan sebagai konsumen yang menjadi sasaran empuk untuk melanggengkan pemasaran perusahaan.

Teori framing sudah membantu masyarakat dalam melihat ketimpangan-ketimpangan informasi yang diberitakan ataupun ditayangkan media. Di mana informasi yang disampaikan lebih kepada kepentingan masing-masing media. Sehingga masyarakat sadar bahwa tindakan-tindakan mereka berawal dari informasi yang mengubah sudut pandang mereka terhadap persoalan tertentu.

Masa depan akan menjadi saksi bahwa masyarakat berhasil keluar dari kontrol media yang begitu membahayakan produk budaya, teknologi, sosial dan politik secara global.

 

Referensi

Baran, S. J., & Davis, D. K. (2015). MASS COMMUNICATION THEORY Foundations, Ferment, and Future SIXTH EDITION. Syria Studies, 7(1), 37–72. https://www.researchgate.net/publication/269107473_What_is_governance/link/548173090cf22525dcb61443/download%0Ahttp://www.econ.upf.edu/~reynal/Civil wars_12December2010.pdf%0Ahttps://think-asia.org/handle/11540/8282%0Ahttps://www.jstor.org/stable/41857625

Hasibuan, R. M., Sinaga, N. S., Rahmadina, A., & Kartini. (2020). Metode Analisis Framing dalam Media Sosial. Jurnal Edukasi Nonformal, 3(2), 142.

Hasibuan, S. (2015). Budaya Media dan Partisipasi Anak Di Era Digital. 01(November), 829–850.

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB