Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Peresmian Renovasi Rumah Gadang Pusako Kaum Pili Dt. Rajo Marah

Pencetus renovasi rumah gadang, Mohammad Ali. bersama Dt. Rajo Marah dan ninik mamak lainnya.
Dibaca : 1.5K

Palembayan, Prokabar – Sekian lama merantau ke Negeri Jiran, Malaysia, anak kemenakan Kaum Pili Dt. Rajo Marah di Jorong Piladang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam akhirnya dapat berkumpul kembali. Dikisahkan, sekitar tahun 1800-an, tiga orang anak kemenakan Dt. Rajo Marah khususnya generasi ketiga merantau ke Malaysia. Perantau ini kemudian menikah dengan warga Malaysia dan melahirkan banyak keturunan. Terhitung berdasarkan ranji kekerabatan, sekarang sudah generasi keenam dan ketujuh.

“Antara anak kemenakan yang di Malaysia dan yang di kampung, sempat terputus komunikasi. Namun dapat dijalin kembali pada sekitar tahun 1980-an. Saat itu saya mengikuti pertukaran pemuda antar negara. Sampai di Malysia saya mencari sanak saudara saya dan kami dapat berkumpul kembali,” ujar Abdul Wahdi didampingi Mohammad Ali saat diwawancarai usai kegiatan peresmian renovasi Rumah Gadang kaum Pili Dt. Rajo Marah, Sabtu(29/06).

Rumah Gadang Kaum Pili Dt. Rajo Marah setelah direnovasi

 

Pada oktober 2017, sambung Muhammad Ali, ada anak kemenakan yang ingin menikah di Palembayan. Saat itu dia memutuskan untuk pulang kampung. “Saya lihat kondisi rumah gadang sudah memperihatinkan, karena itu saya ingin merenovasi, bukan membuat yang baru. Saya pintakan agar tidak mengubah bentuk. Alhamdulillah, semua tiang masih baik. Tujuan saya direnovasi, agar nantinya apapun keramaian, rumah gadang ini bisa dimanfaatkan. Karena di Malaysia, saya juga punya rumah yang mirip seperti ini juga,” kata Muhammad Ali menyebut proses renovasi menghabiskan waktu 17 bulan serta menelan dana hingga 2 miliar rupiah.

Sementara itu, Endri Aldilla yang memberikan pidato sambutan mewakili kemenakan Dt. Rajo Marah di kampung, berharap bangunan rumah gadang yang baru saja direnovasi dapat menjadi ikon dan aset budaya.

Pencetus renovasi rumah gadang, Muhammad Ali (tengah).

“Rumah gadang ini tidak hanya untuk kaum Pili, tapi untuk semua. Kami berharap kepada pemerintah agar perjalanan berliku ke lokasi ini, diberikan akses yang lebih lancar. Masyarakat petani yang membawa hasil pertaninan akan makin berkembang jika aksesnya sudah semaikin baik,” harapnya.

Wali Nagari Ampek Koto Palembayan, Junaida berharap Rumah Gadang Kaum Pili Dt. Rajo Marah tersebut supaya menjadi motivasi bagi rumah gadang lainnya. “Cukup banyak rumah gadang dinagari ini yang dapat direnovasi. Dengan semakin banyaknya rumah gadang, maka dapat pula dimanfaatkan musyawarah ninik mamak maupun musyawarah nagari,” katanya.

Wakil Bupati Agam, Trinda Farhan Satria dalam pidatonya mengatakan, salah satu tanda sayang kampung, ditinggalkan sejenak untuk kemudian kembali pulang.

Suasana keakrapan dan diskusi di rumah gadang

“Mengganti nan Lapuak bukan makna zahir saja. Banyak makna tersirat. Atas nama pemerintah Kabupaten Agam, diharapkan nilainyadapat dipetik. Salah satunya, rumah gadang adalah simbol tempat kembali pulang saat lelah dirantau. Untuk kembali menenangkan batin dan pikiran serta membangun kampung halaman,” kata Trinda.

Sebagai rumah milik kaum, tambah Trinda Farhan, rumah gadang tidak hanya untuk tempat istiraha. Semua denyut kehidupan dimulai dari rumah gadang.

“Harapan kami jangan hanya simbol, tapi untuk membangun karakter pendidikan keluarga. Hendaknya memiliki fungsi yang sama dengan surau, sebagai pondasi menwujudkan Agam Madani,” pintanya.

Wakil Bupati Agam, Trinda Farhan Satria melakukan pengguntingan pita.

[wds id=”6″]

Selepas memberikan pidato, Wakil Bupati diiringi para datuk dan ninik mamak serta keluarga Kaum Pili Dt. Rajo Marah melakukan pengguntingan pita sebagai tanda diresmikannya rumah gadang hasil renovasi tersebut. Seluruh tamu dan undanan kemudian menaiki rumah gadang untuk mendengarkan petatah petitih para datuk dan diakhiri makan siang bersama. (*/eda)

 


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top