Pentingnya Peran Perempuan Saat Terjadinya Bencana

Penulis -

Jumat, 7 Januari 2022 - 18:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

“Peran perempuan saat terjadinya suatu bencana mempunyai kecenderungan lebih besar untuk dibutuhkan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini diungkapkan oleh Suyito et al. (2019) bahwa perempuan mempunyai tingkat kepedulian yang lebih tinggi kepada orang lain”.

***********

Indonesia merupakan negara yang rentan untuk terjadinya berbagai macam bencana. Di mana hal ini salah satunya dipengaruhi oleh kondisi geografis Indonesia yang berpeluang besar untuk menyebabkan berbagai jenis bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, letusan gunung api, dan lainnya (Hafida, 2018).

Bencana yang terjadi tentunya menyebabkan berbagai dampak bagi kehidupan manusia. Berbagai pihak akan saling bahu-membahu untuk menolong satu sama lain saat suatu bencana telah terjadi. Salah satu pihak tersebut adalah perempuan. Meskipun seringkali dianggap sebagai mahkluk yang lemah, akan tetapi peran perempuan disaat terjadinya suatu bencana sangat diperlukan.

Hal ini juga diungkapkan oleh Wahyuningtyas et al. (2017) bahwa peran perempuan sangat dibutuhkan untuk mempercepat upaya pemulihan setelah terjadinya suatu bencana. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa perempuan mempunyai peran yang sangat penting saat terjadinya suatu bencana.

Peran perempuan saat terjadinya suatu bencana mempunyai kecenderungan lebih besar untuk dibutuhkan dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini diungkapkan oleh Suyito et al. (2019) bahwa perempuan mempunyai tingkat kepedulian yang lebih tinggi kepada orang lain.

Hal ini berbeda dengan yang dirasakan oleh laki-laki. Dengan adanya kepedulian yang tinggi tersebut maka perempuan dapat membantu para korban bencana untuk cepat pulih dari situasi yang tidak diinginkan tersebut. Selain itu, perempuan juga memiliki perhatian yang besar dan sangat peka akan seseorang maupun situasi disekitar.

Dalam perpektif kebencanaan, perempuan dapat dipandang dalam dua aspek, yaitu sebagai kelompok yang rentan (Marlina et al., 2017) sekaligus kelompok yang potensial (Handayani, 2018). Sebagai kelompok yang rentan, perempuan dipandang sebagai korban bencana, lemah, dan tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam menghadapi bencana.

Perempuan dianggap akan mendapatkan dampak yang besar ketika bencana terjadi, seperti mengalami cedera, sakit hingga kematian. Salah satu bukti kerentanan perempuan terhadap bencana adalah jumlah perempuan yang menjadi korban bencana alam lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Ada banyak pemicu mengapa perempuan menjadi kelompok yang rentan bencana, di antaranya adalah peran perempuan dalam pengurangan risiko bencana seringkali masih diabaikan (Marline et al., 2017).

Sedangkan sebagai kelompok potensial, perempuan dipandang sebagai kelompok yang dapat berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana, baik untuk dirinya, keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Memandang perempuan sebagai kelompok potensial dalam pengurangan risiko bencana akan menempatkan mereka sebagai subjek pelaku aktif dalam pengurangan risiko bencana. Perempuan memiliki begitu banyak kapasitas dan kemampuan yang bisa dimaksimalkan untuk mengurangi kerentanan menghadapi bencana dan mengembangkan peran perempuan terhadap bencana (Greet 1994; dalam Siahaan & Tambunan, 2016).

Marlina et al. (2017) mengemukakan bahwa salah satu cara untuk memaksimalkan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki perempuan dalam menghadapi bencana adalah dengan memberikan pembekalan pengetahuan pada perempuan akan risiko serta manajemen bencana.

Pemberian pembekalan ini diharapkan bisa menurunkan kerentanan perempuan terhadap bencana, dan dalam jangka waktu panjang mampu mendorong terbentuknya ketangguhan perempuan di tengah masyarakat (Marlina et al., 2017).

Masyarakat terutamanya bagi perempuan sangat diharapkan untuk tahu dan paham mengenai program-program penanggulangan bencana agar mengurangi resiko bencana pada masyarakat di daerah rawan bencana secara mandiri.

Kemudian dengan program ini akan menghindari kemunculan daerah rawan baru dan dan mengurangi ketergantungan masyarakat di daerah rawan bencana. Selain itu dengan manajemen resiko bencana akan meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pembangunan dan pengelolan sumber daya alam untuk keberlangsungan hidup mereka di daerah rawan bencana (Ali et al, 2019).

Pengetahuan akan kesiapsiagaan bencana sangat dibutuhkan bagi masyarakat terutama kaum perempuan supaya dampak yang ditimbulkan dari bencana dapat dimanajemen dengan baik, sehingga kerugian serta korban jiwa yang ditimbulkan dapat diminimalisir (Apriyadi & Amelia, 2021).

Menurut Ibrahim dkk, (2020) salah satu aspek yang sangat penting dalam penanggulangan bencana adalah mitigasi bencana yang merupakan bagian dari penanggulangan pra bencana. Kegiatan mitigasi bencana membantu dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan bencana, terutama bagi masyarakat.

Serangkaian kegiatan mitigasi bencana diantaranya seperti, pengenalan dan pemahaman resiko bencana, perencanaan partisipasi masyrakat dalam penganggulangan bencana, pengembangan budaya masyarakat yang sadar akan bencana, upaya fisik dan/ non-fisik dalam penerapan penanggulangan bencana, identifikasi dan pengenalan terhadap sumber atau acaman bahaya yang mengakibatkan bencana, pemantauan pada daerah pengelolaan sumer daya alam, pemantauan terhadap penggunaan teknologi tinggi yang bisa menimbulkan bahaya, serta pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan tata ruang dan lingkungan hidup.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Pemberdayaan pranata sosial dengan melibatkan perempuan dalam mitigasi bencana adalah salah satu bentuk pembekalan yang dikaji oleh Bakti et al. (2017). Dalam pemberdayaan pranata sosial dengan melibatkan perempuan, Bakti et al. (2017) meneliti tiga jenis pranata sosial yang dilakukan dalam mitigasi bencana banjir Citarum oleh masyarakat perempuan setempat. Pada lingkungan tersebut, perempuan berkontribusi dalam mitigasi bencana melalui pranata sosial keagamaan, ekonomi, dan sosial (Bakti et al., 2017).

Pada pranata sosial keagamaan, para perempuan membentuk kelompok pengajian yang diharapkan menambah pembekalan agama untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, ajaran hidup bersih, tidak membuang sampah di sungai, dan rajin membersihkan sungai (Bakti et al., 2017).

Pranata sosial berikutnya adalah melalui kegiatan ekonomi, berupa arisan yang dilakukan oleh kelompok ibu-ibu setempat. Dalam kegiatan arisan tersebut, diberikan pembekalan informasi mengenai penanggulangan banjir dengan pelatihan daur ulang sampah plastik (Bakti et al., 2017).

Bentuk pranata sosial ketiga adalah kegiatan sosial yang lebih formal melalui PKK dengan melibatkan anggota yang lebih banyak untuk diajak melakukan aksi menanggulangi bencana banjir (Bakti et al., 2017). Pranata sosial melalui kelompok-kelompok perempuan ini diharapkan dapat berperan dalam mengatasi bencana banjir Citarum yang sering terjadi.

Pemberdayaan perempuan melalui keterlibatan dalam organisasi berbasis masyarakat seperti CBO dan LSM juga dapat memperlancar kemajuan penanganan bencana dan resiliensi. Dalam hal resilliensi, pemberdayaan perempuan merupakan unsur penting. Ada banyak contoh di mana pemberdayaan perempuan untuk menjalankan kepemimpinan dalam komunitas mereka berkontribusi terhadap ketahanan iklim, mulai seperti dalam upaya penanggulangan bencana.

Perempuan memiliki peran strategis dalam menghadapi bencana agar kerentanan akibat bencana dapat ditekan melalui peran perempuan dalam mitigasi bencana (Hastuti, 2016).

Dalam progam penanggulangan bencana seperti mitigasi becana ini sangat peting keterlibatan masyarakat, terutama masyarakat lokal atau yang berada di daerah rawan bencana. Karena masyarakat setempat lah yang paling mengetahui dengan daerah mereka dan paling memahami situasi serta kondisi mereka, dan orang dari luar pun juga pasti kurang atau tidak tahu dengan kondisi dan kendala yang mereka alami.

Dengan demikian, masyarakat lokal menjadi kunci dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah bencana yang akan mereka alami nantinya (Ali et al, 2019). Namun masyarakat kebanyakan masih belum menyadari tentang derahnya yang memiliki potensi bencana, apalagi pengetahuan tentang upaya pencegahan dan penaggulangan bencana di sekitar mereka.

Peran dari lembaga penanggulangan bencana juga sangat dibutuhkan bagi masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana, agar pemahaman dan kesadaran masyarakat akan bencana lebih meningkat (Ali et al, 2019). Tanggung jawab penanggulangan bencana telah diatur dalam Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 yang menetapkan bahwa pemerintah (pusat) bertanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Dan untuk menjalankan tugas tersebut pemerintah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat pusat dan Badan Penanggulangan Bencana Derah (BPBD) di tingkat daerah.

Badan ini lah yang memberikan bimbingan dan arahan kepada masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana mulai dari pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekontruksi secara adil dan merata. Melalui badan penanggulangan bencana ini diharapkan para kaum perempuan juga dapat untuk berkontirbusi aktif untuk meningkatkan kemampuan bagi perempuan dalam bertahan menghadapi bencana.

Tenaga kesehatan seperti perawat juga memainkan peran yang sangat penting dalam penanggulangan bencana. Dalam profesi perawat kebanyakan ditekuni oleh kaum perempuan. Peran penting perawat sangat dibutuhkan karena perawat merupakan tenaga kesehatan yang berada paling dekat dengan masyarakat sampai ke wilayah pelosok sekalipun (Ibrahim dkk, 2020).

Perawat harus memiliki pengalaman tanggap bencana dan harus siap merespon situasi bencana secara efektif, karena bencana dapat terjadi secara tiba-tiba (Geng et al, 2021). Perawat yang berada di lingkungan wilayah rawan bencana juga harus membantu mengedukasi masyarakat dalam upaya kesiapsiagaan bencana.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Tidak hanya dalam mitigasi bencana, perempuan diharapkan juga disertakan dalam upaya pembangunan pasca bencana, termasuk dalam pembangunan ekonomi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ruslanjari et al., (2017) dalam penelitiannya mengenai peran gender dalam manajemen bencana, ditemukan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam mengupayakan kebangkitan kembali pasca bencana.

Perempuan memiliki persentase yang lebih tinggi dalam melakukan peran ganda untuk membangun dan memulai kembali kehidupan sosial ekonomi keluarga, di mana 83.3% perempuan memiliki peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja untuk memulihkan ekonomi keluarga (Ruslanjari et al., 2017). Sedangkan laki-laki sebanyak 96.6% berperan tunggal yakni bekerja saja, dan hanya 3.3% laki-laki yang memiliki peran ganda (Ruslanjari et al., 2017).

Dalam upaya pemulihan ekonomi pasca bencana di Sulawesi Tengah, Fitriana et al., (2017) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa banyak masyarakat yang mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pasca bencana. Dalam mengembangkan UMKM tersebut, ditemukan bahwa perempuan lebih mendominasi usaha mikro dan kecil, di mana sebanyak 55% nya dilakukan oleh perempuan (Fitriana et al., 2017).

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam pemulihan dan kebangkitan kembali ekonomi keluarga pasca bencana. Perempuan mulai berperan sebagai pelopor kestabilan ekonomi rakyat, termasuk pasca bencana di mana perempuan turut berperan sebagai penggerak ekonomi keluarga (Fitriana et al., 2017).

Perempuan pada dasarnya terlibat secara aktif dalam manajemen bencana (Siahaan & Tambunan, 2016). Perempuan berperan sebagai penyedia utama akan kebutuhan pangan dan emotional comfort adalam keluarga, yang didukung oleh kemampuan perempuan dalam beradaptasi dengan baik, memiliki kedekatan dan jaringan yang luas dengan perempuan lainnya, serta pengetahuan akan sumber daya alam (Siahaan & Tambunan, 2016).

Semua kemampuan yang dimiliki perempuan tersebut menjadi komponen penting yang bisa perempuan gunakan dalam perannya menangani dan menghadapi bencana. Sehingga, langkah berikutnya yang harus diraih adalah menggencarkan kesadaran akan adanya gender equity, agar kapasitas yang perempuan miliki juga dapat bermanfaat untuk menurunkan dampak bencana, menurunkan kerentanan perempuan terhadap bencana, dan memaksimalkan peran yang bisa perempuan berikan dalam siatuasi bencana (Siahaan & Tambunan, 2016).

Dalam kegiatan pascabencana, partisipasi perempuan dalam penyelamatan, perencanaan, pertolongan dan rehabilitasi memang masih terbatas namun sangat memiliki peran penting (Alam & Rahman, 2018). Penelitian menemukan bahwa setelah tejadinya bencana, perempuan dapat aktif dalam membangun kembali komunitas mereka dengan memanfaatkan organisasi yang sudah ada sebelumnya.

Kelompok perempuan ternyata mampu merespons dengan cepat, memobilisasi sumber daya masyarakat secara efisien, dan mengurangi jumlah kerusakan saat terjadi bencana. Selain itu juga ditemukan bahwa pemberdayaan perempuan untuk menjalankan kepemimpinan dalam komunitas memiliki kontribusi pada resiliensi terhadap bencana, mulai dari kesiapsiagaan hingga mengatasinya.

Pemberdayaan perempuan dalam bentuk keterwakilan suara, peningkatan partisipasi dan meningkatkan kesetaraan gender yang berkontribusi pada perumusan kebijakan tingkat nasional untuk tata kelola lingkungan yang lebih baik.

Peneliti berpendapat bahwa pada pasca bencana, perempuan tidak mendapatkan dukungan yang layak dari lembaga eksternal tetapi sikap koping adat mereka cukup baik (Alam & Rahman 2014). Peran tradisional perempuan dan organisasi yang dipimpin perempuan dalam perencanaan dan manajemen bencana tingkat lokal tidak dapat diremehkan atau diabaikan. Organisasi perempuan di tingkat desa biasanya aktif dalam melakukan kegiatan sosial, dan dianggap sebagai cara penting untuk mengkomunikasikan risiko bencana.

Pengetahuan perempuan tentang masyarakat dan ekosistem lokal, keterampilan dan kemampuan mereka, jaringan sosial dan organisasi masyarakat membantu masyarakat mengurangi kondisi dan kejadian berbahaya, merespons bencana secara efektif ketika itu terjadi, dan membangun kembali dengan cara yang membuat orang lebih, tidak kurang, tahan terhadap dampak bencana berikutnya.

Selama dan pasca bencana, jejaring sosial melalui hubungan bonding (dengan keluarga dan kerabat) dan bridging (dengan tetangga dan teman) memainkan peran penting untuk merespons peristiwa iklim ekstrem, meningkatkan kapasitas resiliensi terhadap bencana masyarakat, dan mempromosikan resiliensi. Agar bisa membangun jaringan sosial dalam sebuah komunitas, perempuan berperan sebagai agen yang kuat.

Setelah bencana pada mulanya, wanita akan sangat mengandalkan ikatan dan hubungan yang menjembatani untuk menghadapi krisis dengan segera. Perempuan akan membagikan air, makanan, kain, obat-obatan, kenyamanan dan saling melakukan pekerjaan pemulihan dan rekonstruksi dengan tetangga, teman dan kerabat.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Pada pasca bencana, perempuan berpartisipasi dengan korban lain dalam kegiatan pemulihan melalui jaringannya dalam mendistribusikan bantuan dan kegiatan pendukung rehabilitasi, perbaikan dan rekonstruksi rumah.

Dalam pemulihan pascabencana, perempuan cenderung membangun ikatan kepercayaan dan jaringan sosial yang erat dengan komunitasnya. Studi menunjukkan bahwa kurangnya jaringan sosial cenderung memiliki kapasitas yang kurang untuk mengatasi bencana, peningkatan gangguan stres traumatis pasca bencana seperti depresi dan gejala psikososial lainnya pada perempuan (Adeola & Picou, 2014).

Para peneliti menemukan bahwa perempuan sering tidak mendapatkan informasi yang tepat dan memadai terkait bencana, namun perempuan memiliki kemampuan yang cukup besar untuk persiapan menghadapi bencana, pengurangan risiko bencana, serta rehabilitasi pascabencana yang meningkatkan kapasitas resiliensinya (Alam & Rahman, 2018).

Pelatihan, motivasi dan kesadaran terhadap bencana dapat berperan signifikan terhadap resiliensi yang dimiliki perempuan ketika menghadapi bencana. Perempuan dapat secara efektif mempengaruhi anggota keluarga dan masyarakat dalam membuat keputusan tepat selama bencana terjadi. Selain itu, perempuan juga memiliki keterampilan dan pengetahuan dalam memetakan rencana atau strategi masyarakat untuk mengatasi bencana alam.

Saat terjadinya suatu bencana, suatu kelompok atau komunitas perempuan seperti kelompok arisan, PKK, dan lainnya dapat membantu para korban bencana untuk memulihkan keadaan psikologisnya melalui berbagai kegiatan.

Wahyuningtyas et al. (2017) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa salah satu peran perempuan pasca bencana adalah dengan mengadakan kegiatan yang bermanfaat seperti tahlil di setiap minggunya, di mana kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para korban untuk memulihkan kembali keadaan psikologisnya setelah menghadapi peristiwa yang tidak diinginkan.

Selain itu, peran perempuan lainnya saat terjadinya suatu bencana diungkapkan oleh Wijayanti et al. (2018), di mana perempuan mempunyai peran penting dalam menopang ekonomi keluarga saat terjadinya banjir bandang di Desa Nisa, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Banjir yang terjadi berdampak besar bagi kehidupan masyarakat.

Berbagai kerusakan ditimbulkan oleh bencana banjir tersebut. Oleh karena itu, perempuan mempunyai beban yang berat untuk melakukan dua peran sekaligus dalam waktu yang bersamaan, yaitu sebagai ibu rumah tangga yang mengurus berbagai hal dirumah serta bekerja untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Suyito et al. (2019) mengungkapkan bahwa akibat dari suatu bencana dapat menyebkan seorang perempuan menjadi kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga dikarenakan menjadi orang tua tunggal setelah terjadinya suatu bencana yang merenggut nyawa suaminya.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dilihat bahwa perempuan mempunyai peran yang tak kalah penting dibandingkan dengan laki-laki saat terjadinya suatu bencana. Meskipun berbagai pihak memandang bahwa perempuan merupakan kaum yang lemah dan kelompok yang rentan ketika terjadinya suatu bencana, akan tetapi dapat dilihat bahwa berbagai peran dapat dilakukan oleh perempuan saat terjadinya suatu bencana, di mana hal ini sangat bermanfaat bagi para korban bencana.

Berbagai peran yang dilakukan oleh perempuan saat terjadinya suatu bencana dapat membantu para korban bencana untuk segera pulih dari pengalaman traumatis yang dialami sehingga mereka dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan bahagia tanpa adanya beban.

Perempuan dapat bertindak sebagai kekuatan ketahanan bagi rumah tangga dan komunitas, mahir dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial dan alam yang berubah, berorganisasi untuk mengatasi masalah secara kolektif, memanfaatkan pengetahuan tradisional dan keterampilan berimprovisasi untuk menghadapi kesulitan.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengakui peran produktif dan konstruktif perempuan untuk mendorong mereka maju dan berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka dalam perencanaan dan pengelolaan bencana.

Namun, kemiskinan, kurangnya pendidikan, pelatihan, peningkatan kesadaran, advokasi, pembiayaan dan penganggaran yang peka gender menghambat potensi perempuan untuk membangun komunitas mereka menjadi komunitas yang tangguh.
Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi, upaya pengentasan kemiskinan, pengembangan keterampilan, dukungan untuk menjadi pemimpin dalam tanggap darurat, keterlibatan dalam perencanaan, dan kebijakan yang peka gender sangat penting bagi perempuan untuk pengelolaan bencana alam dan dampak perubahan iklim yang lebih baik.

Disusun Oleh (*):
SYLVIA DEWIRIZA
RAMA YUZIL IKHSAN
RESTI WAHYUNI
VIONA ALDILA PUTRI

*) MAHASISWA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI, FAKULTAS KEDOKTERAN, UNIVERSITAS ANDALAS

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB