Oleh:
Dr. Ratna Wilis, S.Pd, MP
(Dosen Departemen Geografi dan Ketua Koordinator Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi pada SDGS Center di Universitas Negeri Padang)
Sesuai dengan Misi RPJMD Kota Kabupaten Tanah Datar 2021 – 2026 pada misi ke 2 yakni Meningkatkan ekonomi masyarakat Kabupaten Tanah Datar dan perluasan lapangan kerja yang berbasis pertanian, industri dan UMKM.
Misi ini bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang tergambar melalui peningkatan PDRB per kapita, penurunan angka pengangguran dan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan kegiatan ekonomi yang lebih produktif berbasis kerakyatan, mendorong sektor unggulan daerah [RPJMD Kabupaten Tanah Datar 2021-2026.
Kekeringan pertanian didefinisikan sebagai kurangnya ketersediaan air tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan makanan ternak dari curah hujan normal selama beberapa periode waktu tertentu. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah gejala kekeringan meteorologis.
Musim kemarau identik dengan kondisi berkurangnya curah hujan, atau curah hujan berada di bawah normal, maka dipastikan pada beberapa wilayah terjadi kekeringan. Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah yang rawan mengalami kekeringan meteorogi dan kelangkaan air bersih.
Kondisi tersebut berdampak lanjut pada menurunnya ketersediaan air untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, maupun untuk pertanian. Sektor pertanian membutuhkan air lebih dari 70% untuk konsumsi tanaman-tanamannya. Air merupakan sumber daya alam yang dibutuhkan manusia. Pada musim hujan, air di beberapa wilayah Indonesia cenderung berlebih dan di beberapa daerah mengalami kesulitan air di musim kemarau.
Bencana kekeringan menyebabkan dampak negatif terhadap sektor pertanian dan hasil produksi tanaman. Kekeringan merupakan tantangan global bagi masyarakat dunia dan pernah terjadi di seluruh negara. Kekeringan pada dasarnya disebabkan oleh kondisi hidrologis di daerah dengan kondisi air yang tidak seimbang. Kekeringan terjadi sebagai akibat dari distribusi hujan yang tidak merata yang terjadi di suatu daerah. Ketimpangan curah hujan ini menciptakan ketidakseimbangan antara suplai air dan produksi lahan sawah di beberapa daerah yang curah hujannya rendah.
Adanya perubahan musim yang tidak teratur seperti musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan kekeringan pada lahan pertanian sehingga berpengaruh terhadap produksi hasil pertanian seperti jumlah produksi yang menurunbahkan mengalami gagal panen.
Sebagian wilayah di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat mulai kekeringan dan terancam gagal panen akibat cuaca panas dan rusaknya saluran irigasi pertanian di daerah setempat seperti daerah di Kecamatan Tanjung Baru, Rambatan dan Lima Kaum. Dampaknya jika kemarau ini berlangsung lama sekitar puluhan hektare persawahan di daerah itu akan terancam gagal panen.
Sekitar 150 hektare lahan sawah milik petani di Jorong Sungai Salak, Kecamatan Tanjung Ameh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, mengalami kekeringan setelah lebih dari sebulan hujan tidak turun di daerah itu. Sawah di Jorong Sungai Salak sebagian besar merupakan lahan tadah hujan.
Warga hanya mengharapkan air hujan bila hendak ke sawah, kalau musim panas seperti ini terpaksa dibiarkan saja hingga musim hujan tiba. Akibat kondisi ini sekitar 150 hektare lahan pertanian di daerah itu terpaksa dibiarkan menganggur.
Bahkan ada juga lahan warga yang terpaksa dibiarkan keras selama setahun, karena petani tidak mungkin memaksakan bertanam padi kalau tidak memungkinkan terjangkau air. Lahan pertanian milik warga di kecamatan rambatan dan Lima kaum kini mulai menguning akibat tidak mendapatkan pasokan air.
Selain itu, tanah sawah pun menjadi retak retak akibat tidak adanya pasokan air yang mencukupi. Padahal mereka sudah bergantian mengalirkan aair ke sawah mereka saat malam-malam dengan sistem antri, tapi tetap tidak mencukupi bagi padi mereka. Petani diduga kecamatan tersebut sangat berharap turunnya hujan, agar tanaman padi tidak mati. Permasalahan semakin bertambah semenjak terjadinya bencana galodo yang terjadi pada tanggal 15 Mei 2024.
Bencana galodo telah menutupi lahan pertanian yang awalnya adalah lahan sawah. Petani mengalami gagal panen dan mendapat kerugian yang sangat banyak.
Masyarakat mitra diambil dari 2 kelompok tani yaitu Kelompok Tani Sawah Tupo dan Kelompok Tani Sawah Tapi. Kelompok tani ini termasuk wilayah yang mengalami kekeringan tiap tahunnya dan juga terdampak bencana galodo.
Saat tidak ada air kebanyakan dari mereka akan berladang di sawah mereka dengan menanam tanaman musiman seperti cabe, ubi, jagung dan lainnya. Sebagian masyarakat yang berhasil berladang maka akan mendapatkan pendapatan yang lumayan dari hasil ladang meraka.
Masyarakat butuh informasi terkait pengaturan pola tanam terutama sedang ada musim kemarau. Mereka butuh bantuan untuk menjelaskan bagaimana melakukan pergiliran tanaman di sawah antara padi dengan tanaman semusim lainnya. Pergiliran tanaman ini selain bermanfaat untk menghemat air, juga bagus untuk melakukan pengembalian hara ke dalam tanah.
Disaat musim kemarau kadang air sumur penduduk akan kering sehingga akan terganggu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya untuk mengatasi kekeringan ini, masyarakat bisa melakukan penghematan air saat datang musim hujan misalnya dengan panen air atau membuat bak penampung air terutama bermanfaat saat datang hujan.
Selain tindakan tersebut juga bisa dengan memanfaatkan lahan sekitar untuk ditanami tanaman yang mana bisa diambil hasilnya untuk dipanen dan dijual, disamping itu bisa juga sebagai areal menyerap air kembali. Lahan kering di sekitar rumah bisa dimanfaatkan dengan menanam berbagai tanaman yang bernilai jual bagus misalnya coklat, pinang batara, alpokat, rambutan dan tanaman lainnya.
Masyarakat juga bisa memanfaatkan lahan untuk memelihara komoditas lainnya seperti hewan ayam, kambing, sapi dan itik. Setelah diskusi dengan Wali Nagari Lima Kaum Fadhli Tarmizi, SH bahwa masyarakat petani sangat membutuhkan kalau ada pengabdian terkait upaya mengatasi kekeringan ini. Masyarakat petani membutuhkan pendamping dalam melakukan aktifitas sehari-hari mereka.
Secara khusus permasalahan petani di kenagarian Lima Kaum terkait masalah kekeringan ini adalah: Masih rendahnya pengetahuan petani dalam melakukan penghematan air saat musim hujan, masih seringya terjadi bencana kekeringan yang menyebabkan gagal panen, masih kurangnya pengetahuan petani dalam meningkatkan produktifitas pertanian, masih kurangnya pengetahuan petani dalam memanfaatkan lahan sesuai potensi dan keterbatasan lahannya, belum bisa melakukan pengembangan Pola tani untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan perekonomian petani, dan masih terbatasnya pengetahuan petani dalam manajemen pengelolaan organisasi kelompok tani.
Untuk itu perlu menciptakan masyarakat tangguh bencana. Masyakarakat tangguh bencana adalah masyarakat yang tanggap,terlatih, tabah dan tahan menghadapi segala bentuk potensi bencana yang terjadi termasuk kekeringan. Sesuai dengan Misi RPJMD Kota Padang 2019 – 2024 pada misi ke 6 yakni menciptakan Masyarakat Sadar, Peduli dan Tangguh Bencana.
Masyakarakat tangguh bencana adalah masyarakat yang tanggap,terlatih, tabah dan tahan menghadapi segala bentuk potensi bencana yang terjadi termasuk bencana kekeringan. Sesuai juga dengan Misi RPJMD Kota Kabupaten Tanah Datar 2021 – 2026 pada misi ke 2 yakni Meningkatkan ekonomi masyarakat Kabupaten Tanah Datar dan perluasan lapangan kerja yang berbasis pertanian, industri dan UMKM.
Misi ini bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang tergambar melalui peningkatan PDRB per kapita, penurunan angka pengangguran dan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan kegiatan ekonomi yang lebih produktif berbasis kerakyatan, mendorong sektor unggulan daerah.
Dari permasalahan diatas pengabdian di Kenagarian Lima Kaum ini sangat penting dilakukan terutama untuk mengatasi kekeringan di sekitar kawasan pertanian masyarakat. Jika masyarakat sudah Tangguh menghadapi bencana, maka mental mereka sangat bagus untuk melakukakan aktifitas sehingga bisa mengolah lahan dengan baik dan secara berangsur dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Upaya mengatasi kekeringan ini harus dilakukan secara berkelanjutan kedepannya.
Pengabdian dilakukan oleh tim UNP dalam pengabdian Program Pengembangan Nagari Binaan (PPNB) di ketuai oleh Dr. Ratna Wilis, S.Pd, MP. Beliau juga menjadi ketua Koordinator Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi pada SDGS Center di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Negeri Padang. Narasumber ini juga ada dari Kepala GAW Bukit Koto Tabang, yakni Dr Sugeng Nugroho, S.Si, M.Si.
Kegiatan dari pengabdian ini ada beberapa kegiatan yakni : (1) Diskusi dengan wali nagari Lima Kaum dan wali jorong terkait kegiatan-kegiatan yang lebih urgen dilakukan pasca bencana galodo, (2) Survey ke lokasi arel pertanian sawah yang terkena dampak bencana galodo, (3) Sosialisasi bencana kekeringan dan pengaturan pola tanam, (4) Pembuatan Pestisida nabati untuk membasmi hama tanaman coklat dan tanaman tahunan lainnya, (5) Pembuatan Eco-Enzym dalam rangka pemnafaatan limbah kulit buah-buahan yang bisa juga diolah dari limbah sayuran. Sedangkan untuk program kegiataan lainnya bisa dilanjutkan pada rencana tahun kedua.
















