Limapuluh Kota, Prokabar – Siapa yang tak kenal dengan Tanjakan Emen, di Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Maret lalu, tanjakan yang dikenal mistis dan menyebar maut ini, kembali menggemparkan publik, setelah 27 orang penumpang bus dinyatakan tewas dan belasan lain luka-luka dalam insiden kecelakaan sebuah bus.
Namun begitu, siapa sangka, jika kawasan Fly Over Kelok Sembilan, di ruas jalan Sumbar-Riau, tepatnya di kampung Hulu Aia, Harau, Limapuluh Kota, Sumbar, ternyata lebih fatalitas dari Tikungan Emen.
“Jika kejadian (kecelakaan lalu lintas,-red), maka lebih fatalitas dari Tikungan Emen,” kata Direktur Direktorat Lalu Lintas Polda Sumbar, Komisaris Besar Polisi Singgamata, kepada wartawan dari Payakumbuh, Kamis (5/4/2018) sore.
Dir Lantas menyebut, dari analisa dan evaluasi serta kajian tekhnis yang dilakukan Kepolisian, maka dapat disimpulkan, kondisi ruas jalan di Kelok Sembilan sejatinya harus bebas dari hambatan apapun.
Tidak terkecuali, pedagang yang sudah menahun berjualan. “Kalau ada kecelakaan, kami tidak bisa membayangkan, akan berapa jatuh korban,” cemas alumnus Akpol 1995, yang dikenal sukses mempengaruhi pengambil kebijakan, dalam menghentikan kemacetan akut tahunan di Pasar Koto Baru, ruas Bukittinggi-Padangpanjang itu.
Sebelum jatuh korban, kata mantan ajudan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono Itu, maka perlu dilakukan relokasi terhadap pedagang kaki lima (PKL) di Kelok Sembilan.
Apalagi, setiap sore hingga malam hari, kawasan Kelok Sembilan ramai oleh pengunjung yang berswafoto. “Ini sangat mencemaskan, sebab soal kemanusiaan, soal keselamatan manusia di jalan raya,” bebernya.

Dia berharap, dalam waktu dekat, Pemkab, Pemprov serta instansi terkait, bersama sama dengan Polri, mencari jalan keluar relokasi pedagang di fly over Kelok Sembilan. “Kita tidak ingin, akan jatuh korban di Kelok Sembilan. Ini perlu diselesaikan secara komprehensif,” jelas Kombes Pol Singgamata.(VBM)
















