Payakumbuh, Prokabar – Subuh buta, Payakumbuh bergejolak, suara azan subuh iring beriring dengan teriakan panik warga. Ya, Pasar Payakumbuh terbakar. Api melahap pertokoan di sayap barat pasar.
Pasar yang menjadi ikon kota ini, luluh lantak. Kerugian mungkin mencapai miliaran rupiah. Yang paling rugi tentu saja pedagang. Saat ekonomi sedang sulit, barang barang mereka terbakar sia sia.
Pasar Payakumbuh ini sudah ada sejak 1982. Dulu berdiri megah, lambang kesejahteraan masyarakat Payakumbuh. Ironisnya sejak pasar itu berdiri, pusat pertokoan itu dibiarkan begitu saja. Tidak ada renovasi, apalagi revitalisasi.
Usia Pasar Payakumbuh itu sudah 43 Tahun. Jika berpedoman pada UU Cagar Budaya, 7 tahun lagi atau diusia 50 tahun, Pasar Payakumbuh sudah patut menjadi bangunan cagar budaya.
Pasar Payakumbuh Sudah Seharusnya di Modernisasi
Pasar Payakumbuh tidak hanya sebagai ikon kota, tetapi jantung ekonomi Payakumbuh dan 50 Kota. Maka apa yang dikatakan Tokoh Payakumbuh, Supardi yang nyinyir bersorak pada saat kampanye Pilkada lalu benar adanya.
Supardi, disetiap sudut selalu menyebut Pasar Payakumbuh rawan kebakaran. Selain umur bangunan yang sudah tua, instalasi listrik juga sudah tidak layak. Maka Selasa subuh, apa yang ditakutkan itu terjadi.
Supardi juga menggaungkan Pasar Payakumbuh harus direvitalisasi dengan program unggulan yang ditawarkan adalah Revitalisasi Pasar Berbasis Digital, bahkan sudah lengkap dengan desain yang modern.
Hal terpenting adalah, harus melindungi hak kepemilikan pemilik toko. Karena itu cara membangun pasar tidak boleh melibatkan pihak ketiga atau swasta atau investor. Karena ini sama saja dengan menyengsarakan pedagang.
Revitalisasi Pasar Payakumbuh bagi Supardi adalah harga mati. Jika tidak maka ekonomi Payakumbuh akan seperti itu itu saja.
Pemerintah Kota dibawah Walikota Zulmaeta tentu akan berpikir keras bagaimana mengembalikan denyut ekonomi di Pasar Payakumbuh pasca kebakaran. Maka yang harus dilakukan adalah solusi jangka panjang, yang mensejahterakan masyarakat.
Sekali lagi jangan pernah berikan pasar kebanggaan masyarakat itu ke swasta. Jika itu dilakukan, maka roda perekonomian hanya akan dinikmati oleh mereka yang punya uang, karena pengelola swasta hanya akan melihat dari kacamata bisnis semata, bukan kesejahteraan masyarakat.
Penulis : Rilis
Editor : Redaksi
















