Pakiah, Anak Bujang Tanggung Penyandang Buntil yang Kesepian

Penulis -

Minggu, 11 April 2021 - 13:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Oleh: Rizal Marajo

Hari Jumat biasanya, anak bujang tanggung berkopiah hitam itu selalu terlihat.

Bahunya menyandang buntil, dia mendatangi satu demi satu rumah masyarakat.

Ucapan salamnya santun dari halaman, membuat penghuni rumah bergegas mencigok.

Wajahnya bersih, bicaranya halus, dia berdiri menekur penuh takzim.

Ucapan terima kasih dan doa dibacanya, ketika beras masuk ke buntil-nya disertai sedikit uang.

Tak tahan tangan pemberi sedekah mengelus bahu atau kopiah hitamnya.

Baca Juga:

“Hati-hati, dan rajin-rajin sekolah ya nak.”

Sedikit pesan dari empunya rumah sambil memandangi punggungnya sampai menghilang dari pandangan.

Dulu para pembawa buntil atau bekas karung tepung terigu terbuat dari kain,  disebut Pakiah.

Tak tahu datang dari Masjid atau Surau mana, tapi mereka datang dengan penampilan khas-nya, pakai kupiah dan sarung.

Pemberian

Banyak juga yang memberi, terlihat dari buntilnya yang sudah terisi separoh.

Baca Juga :  Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Tapi banyak juga yang menolak dengan ucapan; Maaf lu kiah.

Buntilnya terlihat lenyai, pertanda isinya tak seberapa. Tapi itu tak jadi masalah, pakiah hanya mengangguk dan tersenyum. Ini hanya masalah hati dan keikhlasnya saja.

Tapi sekarang, pakiah-pakiah itu seperti tergantikan oleh anak-anak yang sedang belajar di sekolah agama atau Pesantren. Ada yang datang dari pesantren yang jauh. “Awak dari pasantren di Pariaman.”katanya.

Sebut saja mereka Pakiah remaja atau Pakiah ABG, sedang menjalani masa pendidikan agamanya. Suatu keadaan, mereka harus turun bersentuhan dengan masyarakat umum.

Baca Juga Milenialisme.com

Banyak yang sayang, melihat wajah-wajah polos dan bersih, mau berjalan kaki menyandang buntil. Terbayang anak sendiri yang jadi pakiah ABG seperti itu. Tapi lebih banyak mereka cenderung dipandang ‘sebelah mata’.

Hari Jum’at di kampung atau wilayah yang sengaja dituju sang Pakiah melakukan kunjungan ritualnya itu, tak jarang dia mendapat semacam ‘kuliah umum’ atau ‘sidang pengadilan umum’.

Baca Juga :  Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Tapi apa hendak dikata, semuanya ditelan saja.

Terkadang untuk mencapai daerah tujuan operasionalnya, pakiah ABG harus pakai transportasi umum, bus misalnya.

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi Pakiah, kalau ada orang yang baru naik setelah dia, maka Ia akan menjadi sasaran empuk untuk diminta berdiri dan memberikan bangku tempat duduknya tersebut kepada orang yang baru naik itu.

Itu mungkin masih mendingan, sopir bus semakin memijak gas, ketika dari jauh kelihatan pakiah kecil menyetop kendaraannya.

Tak berhenti, padahal kendaraan masih banyak bangku  yang kosong.

Ada bibit-bibit rasisme kecil-kecilan juga mengiringi si Pakiah.

Padahal Pakiah berkelana demi sesuap nasi di surau atau pesantren mereka, dan sekadar sedekah “bukak kunci” kaji kepada guru.

Namun, ada lagi waktu dan tempat di mana sang Pakiah menerima ‘ujian’ sebagai penuntut ilmu agama, yakni di kampung mereka sendiri, tatkala si Pakiah pulang kampung.

Baca Juga :  Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Suka Duka Pakiah

Masyarakat ada saja yang ‘alergi’, bahkan bisa saja dari kalangan keluarga dekatnya sendiri, sanak famili, teman sebaya maupun masyarakat biasa.

Terutama yang sebaya, sudah enggan bergaul dengannya seperti dulu.

Mungkin karena atributnya, pakiah kecil itu sudah terbiasa dengan sarung, baju koko, dan kupiahnya.

Banyak yang menganggap pakaiannya tidak gaul, bahkan memalukan.

Setidaknya itulah curhatnya saat berkesempatan berbincang dan bertanya sejenak.

Pakiah-pakiah kecil yang berwajah bersih itu, seakan berada di sebuah kesepian yang teramat sangat. Dia dicambuk juga, ketika ada yang membandingkan gambaran umum masa depan orang-orang yang bersekolah umum, duniawi yang lebih “mewah”.

Alhasil, ada kemungkinan Pakiah pun bimbang.

Padahal, ketika dia akan menjadi Tuangku kelak. Mereka akan membentengi umat di masa depan, berdiri paling depan. Mereka penyejuk di tengah kegersangan moral kalangan remaja, dan masyarakat pada umumnya.

Bagaimana nasib Pakiah ke depannya. Wallahu a’lam.(*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh
Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
IKHLAS itu MUDAH

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Menjaga Kesehatan Lambung, Menjaga Keseimbangan Kesehatan Tubuh

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Berita Terbaru

Berita

UIN Bukittinggi Gelar Workshop UI GreenMetric

Jumat, 9 Okt 2026 - 16:46 WIB