Artikel

Pakiah, Anak Bujang Tanggung Penyandang Buntil yang Kesepian


Wajahnya bersih, bicaranya halus, dia berdiri menekur penuh takzim.

Foto: ilustrasi

Dibaca : 699

Oleh: Rizal Marajo

Hari Jumat biasanya, anak bujang tanggung berkopiah hitam itu selalu terlihat.

Bahunya menyandang buntil, dia mendatangi satu demi satu rumah masyarakat.

Ucapan salamnya santun dari halaman, membuat penghuni rumah bergegas mencigok.

Wajahnya bersih, bicaranya halus, dia berdiri menekur penuh takzim.

Ucapan terima kasih dan doa dibacanya, ketika beras masuk ke buntil-nya disertai sedikit uang.

Tak tahan tangan pemberi sedekah mengelus bahu atau kopiah hitamnya.

Baca Juga:

“Hati-hati, dan rajin-rajin sekolah ya nak.”

Sedikit pesan dari empunya rumah sambil memandangi punggungnya sampai menghilang dari pandangan.

Dulu para pembawa buntil atau bekas karung tepung terigu terbuat dari kain,  disebut Pakiah.

Tak tahu datang dari Masjid atau Surau mana, tapi mereka datang dengan penampilan khas-nya, pakai kupiah dan sarung.

Pemberian

Banyak juga yang memberi, terlihat dari buntilnya yang sudah terisi separoh.

Tapi banyak juga yang menolak dengan ucapan; Maaf lu kiah.

Buntilnya terlihat lenyai, pertanda isinya tak seberapa. Tapi itu tak jadi masalah, pakiah hanya mengangguk dan tersenyum. Ini hanya masalah hati dan keikhlasnya saja.

Tapi sekarang, pakiah-pakiah itu seperti tergantikan oleh anak-anak yang sedang belajar di sekolah agama atau Pesantren. Ada yang datang dari pesantren yang jauh. “Awak dari pasantren di Pariaman.”katanya.

Sebut saja mereka Pakiah remaja atau Pakiah ABG, sedang menjalani masa pendidikan agamanya. Suatu keadaan, mereka harus turun bersentuhan dengan masyarakat umum.

Baca Juga Milenialisme.com

Banyak yang sayang, melihat wajah-wajah polos dan bersih, mau berjalan kaki menyandang buntil. Terbayang anak sendiri yang jadi pakiah ABG seperti itu. Tapi lebih banyak mereka cenderung dipandang ‘sebelah mata’.

Hari Jum’at di kampung atau wilayah yang sengaja dituju sang Pakiah melakukan kunjungan ritualnya itu, tak jarang dia mendapat semacam ‘kuliah umum’ atau ‘sidang pengadilan umum’.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top