Opini

“Padang Pariaman Menuju Berkeadilan, Kemandirian dan Kemakmuran”

Oleh: Rudi Yudistira (Wartawan Muda)

 

Peristiwa Gempa 2009 dan Pembangunan Skala Nasional di Padang Pariaman

Memulai pembangunan pasca gempa bumi di Kabupaten Padang Pariaman, diibaratkankembali pada titik nol kilometer. Kejadian Rabu, 30 September 2009 pukul 17.16:10 WIB itu, tercatat menewaskan 622 jiwa penduduk Padang Pariaman. Sebagian besar infrastruktur pemerintahan dan rumah masyarakat porak-poranda dibuatnya. Hiruk pikuksaat itu berubah total menjadi trauma dan ketakutan. Seluruh umat terkucak beberapa lama akibat getaran kuat tersebut. Peristiwa itu diabadikan dengan Monumen Gempa 30 September 2009 di Korong Lubuak Laweh, Nagari Tandikek Utara, Kecamatan Patamuan.

Ali Mukhni saat itu menjabat sebagai Wakil Bupati Padang Pariaman periode 2005-2010. Dan pada kejadian, ia berada di Kantor Bupati lama di Lapangan Merdeka, Kota Pariaman (Sebelum Pemekaran pada 2002 lalu, Kota Pariaman dahulunya bagian Kabupaten Padang Pariaman). Ia bersama 4 orang sahabat, hendak berdiskusi membahas pembangunan Padang Pariaman kedepan. Saat gempa terjadi, mereka terpaksa berhamburan keluar ruangan, menghindari reruntuhan yang dimungkinkan terjadi.

Pasca peristiwa tersebut, jelas membuat kondisi perekonomian dan sosial terganggu. Seluruh sektor kehidupan mengalami goncangan dan sempat membuat masyarakat menderita. Beruntung panggilan hati dunia internasional berbondong-bondong membantupemulihan mental dan infrastuktur. Aksi solidaritas kemanusian itu meringankan beban penderitaan masyarakat saat itu. Mereka menggelar aksi sosial dengan mengerahkantenaga medis, tenaga arstiktek membangun infrastruktur sekolah, hingga penanganan psikologis atau trauma anak-anak.

Dan selepas kepemimpinan Almarhum Bupati Muslim Kasim, tonggak estafet tersebut digantikan Ali Mukhni. Sebagai calon pertahana, mantan guru olahraga ini mendapat simpatik positif masyarakat, sering membantu dan memperhatikan masyarakat ketika bencana tersebut berlangsung. Kedekatannya dengan seluruh lapisan masyarakat, membuat ia berhasil menjadi pemimpin di Kabupaten Padang Pariaman selama dua periode. Namun benang merah dari buah tangan kepemimpinanya menjadi sorotan yang perlu disimak dan dibahas dalam tulisan ini

Pembangunan selepas goncangan gempa bumi, tidak semudah melanjutkan pembangunyang sudah dibangun pemimpin sebelumnya. Berbagai pembenahan dan perubahan,butuh kegigihan dan inovasi agar kesejahteraan dan pembangunan masyarakat dapat kembali normal. Sarana dan prasarana banyak yang rusak akibat gempa, disertai trauma bencana yang menguncang mentalitas masyarakat.

Al hasil perubahan yang dicapai kepemimpinan Bupati Ali Mukhni, setidaknya sudah terlihat dan dirasakan saat ini. Lepas dari segala kelemahannya, pembangunan skala nasional di Padang Pariaman cukup melejit. Berbagai infrastruktur dan sarana pendidikan bertaraf nasional telah berdiri kokoh. Seperti Politeknik Pelayaran Sumatra Barat di Ulakan Tapakis, MAN Insan Cendekia di Pakandangan dan Masjid Agung Syekh Burhanuddin (Selter saat terjadi Tsunami atau Bencana lainnya) di Ulakan Tapaksi.

Irigasi Batang Anai I dan II telah melancarkan saluran perairan sawah masyarakat, sekaligus menghentikan terjadinya banjir di daerah Batang Anai, Sintoga dan Ulakan Tapakis. Berbagai jembatan sebagai sarana penghubung jalan masyarakat juga banyakdibangun. Seperti Jembatan Koto Buruak Lubuk Alung, Jembatan Buayan Batang Anai, Jembatan Pasia Laweh, Jembatan Kapalo Ilalang Sicincin, Jembatan Cimpago Kampung Dalam, Jembatan Kampuang Galapuang, Jembatan VII Koto Sungai Sariak, Jembatan Koto Bangko Sungai Geringging, dan Jembatan Koto Baru V Koto Kampuang Dalam.Selain dari APBD Padang PAriaman, pembangunan rata-rata berasal dari APBN dan APBD Provinsi Sumatra Barat. Hal tersebut berkat jalinan komunikasi dan hubungan baik antara Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama masyarakat, Pemerintah Provinsi Sumtera Barat dan Pemerintah Pusat. Bahkan Irwan Prayitno memuji Ali Mukni dengan memberi gelar “Si Kecil Nan Lincah”.

Sejalan dengan itu, Main Stadion Sumbar, Islamic Center Asrama Haji Regional Sumbar dan Riau, serta Masjid Raya Padang Pariaman di Komplek Kantor Bupati juga sedang berlangsung. Dan pembangunan tersebut ditargetkan tuntas 2020. Ia juga berhasil merintis dan membuka lahan pembangunan baru untuk 4 kampus terbaik (UNP, ISI, IAIN dan Politeknik Unand) di Sumatra Barat. Berada di Korong Tarok, Nagari Kayu Tanam, Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam dengan lahan sekitar 690 hektar (Tanah Negara).

Dengan perjuangan keras pembebasan tanah yang cukup terkenal rumit (terkait tanah ulayat) di Ranah Minang, ia kembali meyakinkan masyarakat untuk banyak pembangunan. Termasuk pembebasan lahan pembangunan Jalan Tol Sumatra diKecamatan Batang Anai.

 

Sejarah Peradaban dan Nilainilai Budaya Padang Pariaman.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman perdana merayakan Hari Jadi ke-185 di Kantor Bupati Padang Pariaman, Parit Malintang, pada 11 Januari 2018 lalu. Penetapan hari kelahiran Kabupaten Padang Pariaman tersebut melalui proses yang panjang. Rujukanhanya bisa dibuktikan tertanggal 11 Januari 1833 ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2014. Berbagai kajian dan diskusi mendalam sejak 2009 silam telah dilakukan. Bahkan terjadi perdebatan hebat, menyatakan umur Padang Pariaman melebihi umur Kota Padang yang sudah mencapai 348 tahun.

Namun yang terpenting dari daerah penghasil terbesar kelapa ini adalah, evaluasi pembangunan dari berbagai sisi kehidupan yang sudah dicapai. Hampir seluruh pembangunan yang dibangun dan direncanakan, terfokus pada Infrastruktur.Pembangunan jalan, jembatan, bangunan pusat pendidikan serta rumah ibadah telah terlaksana. Sepertinya Bupati Ali Mukhni sangat paham dengan daerahnya sebagai pengembangan pusat pendidikan reliqius dan islami terdahulu. Dan misi selanjutnya harus masuk kepada tatanan pedalaman sejarah masa lalu untuk dikembangkan dan memantapkan karakter berkehidupan berbangsa dan bernegara.

Padang Pariaman sebagai daerah awal muasal peradapan Islam di Ranah Minang. Dari sinilah, islam berkembang dan diterima baik masyarakat Minangkabau dahulunya. Ajaran Islam yang dibawa dan disebarkan oleh tokoh ulama terbaik yang bernama Syekh Burhanuddin. Menurut peneliti Azyumardi Azra, ulama ini diperkirakan hidup pada 1056-1104 Hijriah atau 1646 Masehi. Sebagian besar akademisi sepakat, beliau orang tersukses yang mengislamkan orang Minang secara menyeluruh di Ranah Minang. Pendekatannya melalui permainan anak-anak dan penciptaan teknologi baru (Struktur Bangunan), sangat mudah diterima dan disambut masyarakat. Meski sudah banyak ulama terdahulunya menyiarkan islam pada saat itu (seperti Syekh Madinah atau Syekh Abdullah Arief salah satunya) namun masih belum berkembang dengan baik. Dimasa Syekh Burhanuddin beserta para sahabat (diperkirakan 1069 Hijriah/1649 Masehi) inilah syiar Islam mulai berkembang, bahkan memantapkan diri seluruh masyarakat Minang adalah penganut penuh Agama Islam.

Setelah perjuangan keras dan kembali pulang menuntut ilmu dari Syekh Abdurrauf Ar-Singkel dari Aceh (murid Syekh Ahmad Qusyaisi di Madinah), Ia bersama sahabatnya Idris Khatib Malelo membangun pemondokan atau Surau di Tanjung Medan, Ulakan Tapakis. Di sinilah surau pertama yang menjadi cikal bakal lembaga pendidikan agama di Minangkabau. Sejenis Pesantren di Jawa yang pada masa belakangan berkembang luas dan disebarluaskan oleh pengikut dan murid Syekh Burhanuddin. Surau Tanjung Medan juga menjadi kampus universitas yang disekitarnya didirikan surau-surau kecil, dihuni pelajar dari berbagai daerah di Minangkabau, Riau, dan Jambi. Surau tempat pendidikan dalam pengajaran agama Islam. Sedangkan ilmu yang dipelajarinya boleh dikatakan semua ilmu yang ada pada gurunya, yaitu “Fiqh, Tauhid, Hadîts, Tasawuf dengan jalan Tarekat Syathariyah, ilmu Taqwîm dan ilmu Firasat (Makalah Duski Samad: 17 Juli 2012/ Seminar Sehari).

Melalui pola pemondokan atau pesantren, memusatkan surau tidak hanya pusat pendidikan Islam, juga pengembangan permainan anak nagari. Seperti lahirnya Ulu Ambek sebagai pertunjukan Silat tingkat Tinggi yang satu-satunya hanya ada di Ranah Minang pada masa itu. Pembangunan masjid kuno beratap gonjong menjulang tinggi, salah satu karya teknologi arsistek ulama keturunan aceh dan arab. Kemampuan tersebut jelas menambah wawasan dan kemampuan masyarakat, sehingga memudahkan ketertarikan masyarakat yang masih menganut animisme beralih ke Islam.

Di Surau Tanjung Medan Ulakan ini ia dibantu 4 orang sahabat sepeguruannya di Aceh seperti Datuk Maruhum Panjang dari Padang Gunung, Si Tarapang dari Kubung XII Solok, Muhammad Nasir dari Koto Tangah Surau Batu, dan Syekh Buyung Mudo dari Bayang Pulut-pulut Pesisir Selatan. Sehingga perkembangan peradapan Islam bangkit dan melahirkan generasi ulama terbaik yang menyebar ke seluruh pelosok negeri di Ranah Minang.

Menurut Buya Hamka dalam bukunya “Ayahku”, Islam kembali tersohor Di Kabupaten Agam berkat Syekh Syekh Abdullah Arif atau lebih dikenal Syekh Tuanku Pariaman atau Tuanku Nan Tuo. Ulama Syatariah keturunan Aceh berdarah arab yang berasal dariUlakan Pariaman. Ulama ini berhasil menyiarkan Islam dan ribuan murid diberbagai daerah. Pengembangan pesantren berbasis surau di Sungai Batang, Maninjau, Banuhampu, Koto Gadang, Koto Tuo, Malalak, Lawang, Matua, Ampek Angkek dan sekitarnya. Beliau lebih sering menetap di Surau Koto Tuo, Ampek Angkek. terdapat.

Sesuai pepatah minang “Syarak Mandaki, Adaik Manurun”, secara harfiah bermaknamerujuk ajaran Islam Habluminallah wa Habluminannas. Agama Islam datang dari dataran rendah pantai barat Sumatra menyebar ke pelosok negeri ranah minang sebagai tuntunan berketuhanan (Habluminallah). Sedangkan adat menjadi tatanan sosial(Habluminnanas) sesuai asal usul orang Minangkabau di daerah Darek atau Luhak Nan Tuo. Pituah minang menyebutkan:

Si Amaik mandi ka luak,

luak parigi paga bilah,

bilah bapilah kasadonyo.

Adaik Basandi syarakak,

Syarak basandi Kitabullah,

Sanda manyanda kaduonyo.

Pinang masak bungo bakarang,

Timpo batimpo kaduonyo,

Jatuah baserak daun sungkai,

Tiang batagak sandi dalang,

Kokoh mangokoh kaduonyo,

Adaik jo syarak takkan bacarai.

Artinya, antara adat istiadat dengan ajaran Islam (Syarak) sudah menjadi jati diri masyarakat Minangkabau sebagai insan manusia. Sebagai umat sesama manusia, ia sudah terlahir sebagai suku bangsa dari nenek moyangnya. Dan sebagai ciptaan Rabb, ia diatur dalam syariat Islam. Sehingga Islam adalah akhidah dan agama yang wajib diamalkan dalam berkehidupan dunia dan akhirat.

Bahkan konon awal terjadinya Sumpah Sati Marapalam, cikal bakal lahir Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS, SBK) antara kaum adat dengan kaum ulamaberlangsung di masa penyiaran Islam Syekh Burhanuddin. Artinya, nilai-nilai islami di Kabupaten Padang Pariaman dengan falsafah ABS, SBK menjadi titik puncak sebagai landasan kehidupan dari segala pembangunan yang diciptakan. Nah, korelasi inilah benang merah nilai-nilai kehidupan yang harus dibangun. Tidak hanya membangun hanya sebatas fisik semata, akan tetapi juga nilai-nilai moral dan keagaaman. Dan Bupati Ali Mukhni menggiring pembangunan fisik dan non fisik untuk mencapai nilai akhir yang dibangun secara filosofi ABS, SBK tersebut. Sebagai nilai tertinggi dari peradapan manusia, khususnya masyarakat Minangkabau.

Dari sisi kultur masyarakat, tradisi persaudaraan dan ikatan silahturahmi sangat beragam. Sehingga rasa sama dan nilai korsa masyarakatnya terutama di perantauan sangat tinggi. Salah satunya budaya badoncek atau barantam yang dilaksanakan setiap alek pernikahan atau di saat batagak kudo-kudo (mendirikan Surau atau Rumah Gadang). Dan budaya tersebut masih lestari di setiap perkampungan. Pribahasa “Saciok Bak Ayam, Sadanciang Bak Basi” selalu didemokan disetiap kegiatan bulan baik. Sehingga ikatan silahturahmi mereka terus terjalin erat, walau kuatnya arus global menggiring individualism masyarakat. Mereka memberi istilah rang Piaman (Padang Pariaman, Kota Pariaman dan Tiku). Perkumpulan atau himpunan itu membentuk ikatan Persatuan Kekeluargaan Daerah Piaman atau PKDP. Dan himpunan kekeluargaan ini sudah terbentuk di seluruh belahan dunia. Sebagai harapan, menjadi tonggak pemersatu pembangunan fisik dan mental dari perantau ke kampung halamannya.

Dahulu sebelum pemekaran dan dicaplok, Kabupaten Padang Pariaman sangat luas, meliputi Air Bangis, Pasaman Barat, Tiku, Kota Pariaman, hingga Bungus Teluk Kabung,termasuk Kepulauan Mentawai. Dan menurut catatan sejarah diurai Republika.co.id (Nagari Tiku, Kampung di Sumatra yang Tersohor Hingga Eropa) di abad 15 hingga 16,Tiku merupakan gerbang masuk utama ke sejumlah daerah penghasil rempah-rempah.Dan tidak sedikit bangsa Eropa, Gujarat dan Mesir melakukan perjalanan menujuKerajaan Pagaruyung melalui pelabuhan Tiku. Pertukaran kebudayaan global dan transaksi bisnis atau niaga sudah berlangsung pada saat itu.

Hingga saat ini, meski secara administrasi pemerintahan dan masuk wilayah Kabupaten Agam, secara kebudayaan masyarakat masih mengakui sangat dekat dan bagian budaya orang Piaman. Proses panjang catatan sejarah tersebut secara alamiah masyarakat Piaman terbentuk menjadi seorang pedagang sejati. Hal terbukti banyak orang piamanterkenal sebagai pedagang sukses dan cemerlang diperantauan. Beberapa pedagang sukses asal Piaman ini adalah Asman Abnur (Mantan Menteri Menpan RB RI periode 2016-2018) perantauan Kepulauan Riau serta dan Azwar Sagi Wahid (Haji Sagi) perantauan Jakarta.

Seiring usia yang sudah lanjut, daerah penyanggah Ibu Kota Provinsi ini masih merupakan pintu masuk orang asing ke Sumbar. Keberadaan BIM atau Bandara Internasional Minangkabau di wilayah Padang Pariaman memiliki keuntungan strategis untuk kesejahteraan masyarakatnya. Tingginya mobilitas dan aktifitas di BIM, membuat perputaran perekonomian cukup kencang berputar di wilayah Padang Pariaman. Hal tersebut dimanfaatkan betul dari Bupati Ali Mukni, menjadikan alasan strategis pembangunan industri dan pendidikan skala nasional berada dekat dengan BIM. Didukung lagi lahan disekitarnya yang sangat luas, diantaranya dikuasai tanah ulayat masyarakat Ketaping, dirajai Mak Datuk Bahrun Rangkayo Rajo Sampono.

Berkat lobi yang kuat dan jalinan komunikasi yang baik dari Bupati Ali Mukhni kepada semua pihak, pembangunan berskala nasional banyak terealisasi. Dan tanpa solidaritas atau partisipasi seluruh lapisan masyarakat dan Forkopimda untuk mendukung segala kebijakan tersebut, mustahil pembangunan itu terjadi.

 

Inovasi Peningkatan Program Pelayanan OPD Pemkab. Padang Pariaman

“…Pemerintahan di tingkat provinsi atau kabupaten/kota maupun pusat pada dasarnya mempunyai tugas pokok yang dapat diringkas menjadi tiga fungsi hakiki, yakni pelayanan, pemberdayaan dan pembangunan. Pelayanan akan membuahkan keadilan, pemberdayaan akan mendorong kemandirian masyarakat, dan pembangunan akan menciptakan kemakmuran dalam masyarakat (Lenne Media Tanti: 2012: 49).

Dalam pidatonya, Bupati Ali Mukhni sering mengkampanyekan tidak ada istilah pejabat saat menjalankan amanah dan kewajibannya kepada masyarakat. Ia menegaskan Aparatur Sipil Negara itu adalah “Pelayan Masyarakat. Sehingga seluruh jajarannya harus berinovasi sehingga motivasi segala bentuk pelayanan masyarakat harus optimal dan terpadu.

Dan untuk pertama kalinya, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman merayakan HUT Ke 185 tahun pada 11 Januari 2018 lalu. Saat kesempatan itu, mengekspos pembangunan yang sudah terealisasi. Bahkan didengung-dengungkan salah satu daerah pilot project pembangunan di Provinsi Sumatera Barat. Sebut saja pembangunan Politeknik Pelayaran Sumbar dan MAN Insan Cendekia yang telah sukses beroperasi. Pembangunan Tarok City terpadu, Pembangunan Tol Sumatra serta Main Stadion Sumatera Barat di Lubuk Alung sedang berlangsung. Pembangunan Asrama Haji Sumatera Barat yang sempat terganjal beberapa persoalan, dan kini sudah kembali dibangun. Upaya tersebutmenunjukan kegigihan Bupati Ali Mukhni untuk mensejahterakan masyarakat dari sektor pembangunan.

Dari sisi pelayanan, OPD yang paling diandalkan terlihat dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dipimpin tamatan STPDN Muhammad Fadly, Dinas DPMPTP dipimpin Hendra Aswara, Dinas Kesehatan dikepalai Aspinuddin dan Dinas Kominfo Padang Pariaman dipimpin Zahirman Kadar. 4 instansi OPD ini selalu melihatkan inovasi dan dedikasi kinerja yang cukup kreatif. Selebihnya, belum berjalan semaksimal. Instansi yang sudah mendapatkan pertise itu tidak begitu cepat puas. Sepertinya akan terus menunjukan upaya melakukan inovasi. Tidak hanya OPD, Bupati Ali Mukhni juga sudah mengkantongi beragam penghargaan tertinggi dari Presiden RI dan sejumlah Menteri.

Diurai satu persatu, Disdukcapil Padang Pariaman memiliki beragam inovasi dan kreatif menjalanan percepatan pelayanan pada masyarakat. Seperti terhitung dari 2017, terdapat program Pedang Saber (Petugas Datang, Semua Beres), Alpa Beta (Anak lahir pulang bawa Akta), Ajek (Antar jemput administrasi kependudukan), Dukcapil Weekend ServiceMitra PMI dan Kadoku KTP-elektronik bagi siswa/i SLTA. Disdukcapil bersama DPTPMP Padang Pariaman di tahun 2018 ini bersinergi memberian pelayanan jemput bola, langsung ke setiap Nagari. Kegiatan dilaksanakan secara bergilir dan dijadwalkan ke seluruh kecamatan dan nagari. Diharapkan mempermudah pelakanan dan pengurusan E-KTP, KK, Perubahan Data, Pembayaran IMB atau lainnya. program tersebut jelas sangat membantu masyarakat dan kinerja pemerintah daerah itu sendiri. Terutama penghimpunan data jumlah serta perubahan yang terjadi akibat pergi pulang atau pergi merantau. Al hasil, terhitung dari 2018, puluhan ribu masyarakat sudah memiliki E-KTP.

DPMPTP Padang Pariaman sendiri, memiliki inovasi Program Simple (Sistem Informasi Pelayanan Perizinan Elektronik) yaitu sistem mudah terhubung dan diakses melalui computer atau henpon genggam yang memiliki jaringan internet. Pelayanan melalui website, medsos, SMS, Whatsapp, dan email juga dapat dilakukan, memudahkan masyarakat dalam pengurusan perizinan, informasi dan sebagainnya. dari program tersebut nilai investasi tahun 2017 kabupaten Padang Pariaman mencapai Rp183 miliar per September 2017, jumlah tersebut melebihi target sebesar Rp46 miliar. Disbandingditahun 2016, target yang tercapai hanya Rp40 Milyar rupiah.

Begitu hal dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Kominfo Padang Pariaman. Masing-masing OPD tersebut memiliki ciri khas pelayanan tersendiri. Diskominfo melakukan inovasi jaringan internet terhubung secara satu kesatuan. Memudahkan pelayanan kesehatan di puskesmas dan RSUD untuk mendapat akses internet maupun komunikasi langsung dengan OPD lain. Sehingga segala kebutuhan dan kesinambungan kerja antar OPD tidak perlu lagi tatap muka. Jarak wilayah yang luas dan jauh membutuhkan waktu dan energi dapat dipangkas melalui komunikasi aplikasi khusus antar instansi. Selain itu, seluruh pengguna akses internen yang terhubung melalui Diskominfo Kabupaten Padang Pariaman, akan terpantau dan terkontrol dengan baik. Terbantau dari sisi pelayanan jaringan internet sekaligus kinerja yang dilakukan petugas operator pengguna internet itu sendiri.

Prestasi yang membanggakan lagi pada Pelaksanaan Porprov. Sumbar ke 15 di Padang Pariaman, dianggap pelaksana kegiatan terbaik dari sebelumnya. Sebagai tuan rumah, mampu melakukan penghimpunan data informasi medali dan hasil dengan nama Program SIMEHA. Seluruh akses data terhimpun di web www.poprov.padangpariamankab.go.id. Seluruh cabang olahraga, nama daerah dan kontingen, penginapan, nama atlet, lokasi venue perlombaan hingga hasil medali dan peringkat dapat diakses langsung. Meski terdapat beberapa kelemahan, itu berkaitan teknis yang tidak dapat dihindari dari panitia cabor dilapangan.

Dinas kesehatan juga Melakukan berbagai inovasi program pelayanan. Seperti PAPA TANGKAS GADA atau Padang Pariaman Sehat dan Tanggap Kasus Gawat Darurat, PSC atau Public Service Center 119. Dan baru-baru ini, Dinas Kesehatan Padang Pariaman kembali menggagas program SABERMAS atau Sehari Semalam Bersama Masyarakat.Kelanjutan dari Program Bidan Desa wajib berkunjung rumah ke rumah ( dor to dor)setiap hari. Penderita penyakit kronis cepat ditindak melalui penyembuhan sehingga dapat terselamatkan dari bahaya kematian atau cacat seumur hidup.

Semua pihak jelas sangat memuji program tersebut bila berkelanjutan. Dan berharap inovasi itu tidak sekedar seremonial sesaat, saat anggaran habis, program terhenti.  Masyarakat sangat membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah melalui OPD terkait dalam tiga fungsi hakiki atau tugas pokoknya. Mendapat pelayanan, pemberdayaan dan pembangunan dengan tulus dan ikhlas. Pelayanan akan membuahkan keadilan, pemberdayaan akan mendorong kemandirian masyarakat, dan pembangunan akan menciptakan kemakmuran dalam masyarakat.

Berhubungan keterbatasan waktu dan tenaga yang dimiliki jajaran pemerintahan, dalam hal ini, peranan dan pengertian masyarakat juga harus ada. Jangan mentang-mentang pemerintah daerah bertanggungjawab terhadap kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, bukan berarti tidak memiliki tanggungjawab sebagai warga negara. Mendukung dan membantu segala program pemerintahan melalui tenaga dan permasalahan dilapangan, juga sangat dibutuhkan. Semua pihak seperti TNI, Polri, Organisasi Kemasyarakatan dan Pers jelas harus pula berperan secara Moral Ketuhanan dan Undang-undang Dasar RI 1945. Mendorong masyarakat untuk cerdas berfikir dan bersikap menanggapi yang seharusnya ia lakukan.

Mengoptimalkan Potensi Kelapa dan Coklat

Berdasarkan Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sumbar melalui Kadis Akhiruddin pada November 2017, Produksi buah kelapa di Sumatera Barat mencapai 78.902 ton per tahun dengan areal tanam seluas 87.298 hektare. Luas areal tanaman kelapa itu tersebar di 19 kabupaten dan kota di provinsi yang berpenduduk sekitar 5,8 juta jiwa tersebut.

Daerah penghasil buah kelapa itu antara lain Kabupaten Padang Pariaman dengan produksi mencapai 35.436 ton di areal seluas 40.755 hektare, Kabupaten Agam dengan produksi 11.026 ton di areal tanam 9.780 hektare dan Kepulauan Mentawai 6.495 ton dengan luas tanam 7.924 hektare. Kabupaten Lima Puluh Kota dengan produksi buah kelapa mencapai 5.448 ton dan areal tanam seluas 5.480 hektare dan Pesisir Selatan produksinya sebesar 3.860 ton, dan luas tanam 4.399 hektare.

Dari data di atas, Padang Pariaman merupakan penghasil kelapa terbesar dengan jumlah produksi 35.436 ton dengan luas area 40.755 hektare. Minimal perharinya, 5 unit minibus L300 mengangkut 3,5 ton atau 10.000 buah kelapa dibawa ke Padang, Bukittinggi, Pekanbaru dan Jambi. Hasil turunannya seperti sapu lidi, tempurung, kayu kelapa, kelapa muda hingga kerajinan lidi dan VCO (Virgin Coconut Oil) atau minyak kelapa. Masing-masing hasil produksi atau industri rumah tangga tersebut juga berperan meningkatkan kesejahteran masyarakat, karena banyak menyerap tenaga kerja. Dan hasil produksi turunan kelapa seperti VCO dan Tempurung untuk Briket atau Bara api bahan bakar arang tidak dapat dianggap sepele karena sudah diekspor ke Benua Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Dan kebutuhan cendrung meningkat. Sementara kebutuhan bahan terus menipis.

Kepala Dinas DPMPTP Padang Pariaman, Hendra Aswara menyebutan, VCO atau minyak kelapa di Padang Pariaman menjadi potensi besar untuk terus dikembangkan. Selain memiliki perkebunan pohon kelapa terbesar di Sumatera Barat yakni 35 ribu hektar dari 98 ribu hektar, saat ini terdapat 150 unit UKM rutin memproduksi VCO. Tidak hanya di kecamatan Sungai Geringging, secara merata masyarakat Kabupaten Padang Pariaman memproduksi VCO minimal untuk kebutuhan pribadi atau rumah tangga. Sangat disayangan, belum optimal dan diberdayakan secara maksimal, padahal permintaan cukup tinggi dari apotik-apotik, instansi kesehatan atau pengusahan besar dibidang kesehatan dan makanan. Bahkan sampai diekspor ke Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Di Sungai Geringging, terdapat 1 kelompok beranggotakan 20 orang, setiap bulannya berhasil memproduksi 5 Ton VCO dan dikirim ke Riau dan Malaysia.

Berdasarkan hasil wawancara Syafri Hendri, pelaku pengelola produksi Briket, yang Berada di Jalan WR. Supratman, Nomor 146 Km3, Desa Mangguang, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, bahan produksi berupa tempurung, didominasi dari Kabupaten Padang Pariaman.  Setiap kali produksi membutuhkan 5 ton tempurung untuk diolah dan diekspor sebanyak 5 ton ke agen di pulau Jawa. Semetara kebutuhan tersebutselalu tidak terpenuhi, sehingga usaha tersebut sering mengalami macet dan mati suri. Padahal permintaan terbilang tinggi dengan kebutuhan mencapai 10 Ton hingga 20 Ton perbulannya.

Pada masa kepemimpinan Almarhum Muslim Kasim, Perkebunan Coklat atau Kakao merupakan program unggulan dari Pemerintah Padang Pariaman. Perkebunan tersebar di Kecamatan Pakandangan, Parit Malintang, Sungai Limau, V Koto Kampung Dalam, VII Koto Sungai Sariak, V Koto Timur dan Sungai Geringging. Hingga saat ini perjuangan tanaman itu terus berlangsung produktif. Di era ke pimpinan Ali Mukhni, berhasil berdirinya Pabrik Pengolahan Coklat dan Lapau Coklat sebagai penampung utama dari hasil pertanian kakao. Namun karena banyaknya kendala hama dan masalah lainnya, membuat potensi Kakao tidak tergarap dengan baik. Pabrik yang dibangun belum bisa beroperasi sesuai harapan.

Kelompok tani Kakao terdapat di Korong Batu Gadang, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging hingga saat ini masih terus mengebangan tanaman coklat tersebut. Kelompok Tani Balkam Saiyo dipimpin Ramadhan bersama Elias Piyau sempat menjadi pilot projeck Kakao di Sumatera Barat. Dukungan serius dari pemerintah daerah sangat dibutuhkan jika memang memiliki niat memajukan Kakao di Padang Pariaman.Pengembangan melalui program terpadu dan sinergi semua pihak dan OPD harus terjalin.

Dari hasil produksi Kelapa, Manggis dan Coklat, jelas memiliki peluang besar berupa industri. Alangkah baiknya kita mengolah sendiri ketimbang mengekspor bahan mentah dan mengkonsumsi hasil impor orang lain dari produksi ekspor yang dihasilkan sebelumnya. Sangat meruginya daerah yang memiliki potensi hebat, tapi tidak didukung tenaga manusia yang hebat pula. Harusnya kita menyiapkan kader atau generasi produktif. Melakukan kaderisasi dan peningkatan sumber daya manusia manusia atau SDM, yang mampu mengelola melalui ilmu pengetahuan dan teknolohi modern.

Menyediakan membiayai beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang memiliki potensi besar untuk menjadi pakar ahli dan mampu mengolah bahan baku yang dimiliki dengan teknologi industri. Selain menciptakan lapangan pekerjaan, jelas akan meningkatkan PAD hingga pertumbuhan perekonomian Daerah bahkan tingkat nasional nantinya. Saatnya kita menjadi Negara yang produktif dan menghindari masyarakat konsuntif. Dengan demikian tekanan penjajahan bangsa asing menguasai atau memonopoli ekonomi kapitalis dapat terhindari di masa yang akan datang. Program tersebut jelas mendukung tercapainya cita-cita NKRI untuk menuju Indonesia Emas 2040 nanti. (*)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top